Belajar Keuangan Mikro di Sidogiri

Oleh : Agus Yuliawan

Pemerhati Ekonomi Syariah

Muhammad Zunus peraih nobel perdamaian 2006 sebagai pendiri bank kaum miskin sempat mencengangkan dunia dengan penemuanya yang terkenal dengan nama gramen bank. Melalui gramen bank tersebut, problem kemiskinan yang terjadi di negeri Bangladesh khususnya kaum perempuan mampu teratasi dengan baik. Dengan diberikannya nobel ke Muhammad Zunus, banyak orang berbondong-bondong ke Bangladesh termasuk orang Indonesia untuk melihat langsung, apa itu gramen bank?

Meski nama gramen bank menjadi perhatian dunia—tetapi di Indonesia ada gramen bank dalam bentuk keuangan mikro syariah berbasis pondok pesantren, bernama Baitulmaal Waa Tanwil (BMT) UGT Sidogiri Pasuruan – Jawa Timur yang sebenarnya tidak kalah dibandingkan dengan gramen bank milik Muhammad Zunus. Bahkan dikaji dalam aspek kemanusiaan, keberadaan dari BMT UGT Sidogiri mampu mengikis habis keberadaan para rentenir yang selama ini mencekik leher rakyat. Begitu juga dalam aspek moralitas agama, keberadaan dari BMT UGT Sidogiri menjadi aktualisasi agama, dimana dengan praktek muamalah koperasi syariah, BMT UGT Sidogiri menjadi ruang dakwah dan peran dan fungsi agama yang mencerahkan dan membebaskan dari kemiskinan. Aktualisasi agama yang dipraktekkan dalam transformasi nilai berbentuk BMT di Sidogiri inilah yang sebenarnya wujud dari ijtihad agama yang dilandasi dengan semangat seperitualisme.

Dengan komunitas para santri KH Mahmud Ali Zain sebagai ketua BMT UGT Sidogiri, mengaku, BMT tersebut didirikan di tahun 1997 dengan modal Rp 13.500.000 dan jumlah anggotanya 148 orang. Namun dengan ketekunan dan semangat ijtihad agama, hingga saat ini telah mencapai aset Rp 1,5 triliun dan jumlah anggota 11.602 orang dengan kantor layanan cabang 254 unit yang tersebar diberbagai daerah secara nasional. Keberhasilan BMT UGT Sidogiri dalam mengembangkan keuangan mikro bukan hanya pada perkembangan aset bisnis saja, karena hal itu bukan salah satu tujuanya, namun adalah bagaimana mengubah perilaku sosial masyarakat. Dari keberadaan BMT tersebut, hingga kini terkumpul dana zakat sebesar Rp 7 milyar dan dana sosial sebesar Rp 8 milyar. Dana-dana itulah yang selama ini digunakan untuk memberikan pelatihan kewirausahaan kepada masyarakat Sidogiri dan anggota BMT sehingga mereka didorong untuk melakukan aktifitas ekonomi yang produktif. Selain itu, bagi orang-orang miskin juga merasa terbantu, ketiadaan keahlian dan minimnya akses permodalan tak menjadi penghalang lagi untuk berwirausaha.

Meski berbasis pondok pesantren, lembaga keuangan mikro syariah di Sidogiri tersebut bisa dijadikan pembelajaran bersama. Bahwa keberadaan dari keuangan mikro syariah bukan untuk memperoleh keuntungan duniawi saja, tapi maqosid syariah dengan keberkahan, falah dan kemaslahan sebagai landasan dari visi dan misi gerakan. Kehadiran pondok pesantren dalam membangun peradaban ekonomi menjadikan cermin bagi pesantren Nusantara—bahwa pendidikan pesantren bukan sekedar belajar tentang agama yang berisi tentang akidah, ahlak dan tauhid saja. Lebih dari itu muamalah yang salah satunya mengajarkan tentang ekonomi juga diimplementasikan sehingga pesantren mampu mencetak para pengusaha muslim. Dengan demikian aktualisasi agama sangat jelas dan peran agama benar-benar memberikan pembebasan kepada umat, dari ketiadaan menjadi mampu dari kemiskinan menjadi berada. Belajar keuangan mikro Sidogiri adalah miniatur untuk menselesaikan kesenjangan umat yang dirasakan bangsa ini dan sekaligus financial inclusion yang selama ini menjadi program pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan.

Related posts