Presiden Minta BI Rate Turun Lagi

NERACA

Jakarta - Presiden Joko Widodo meminta Bank Indonesia agar menurunkan kembali suku bunga acuan (BI Rate). "BI sudah rate sudah turun kemarin, dan kalau kondisi inflasi bisa diteken di bawah 5 persen atau di bawah 4 persen, tentu saja BI harus mengikuti dengan menurunkan kembali BI Rate," kata Presiden, di sela melaukan inspeksi mendadak di Gedung Bulog, Jakarta, Rabu (25/2).

Menurut Jokowi, saat ini yang terpenting pemerintah dan BI memiliki tugas untuk menjaga agar inflasi menjadi serendah mungkin. "Kita harus melihat kemarin Januari sudah deflasi. Nanti kalau berulang terus, Februari, Maret, itu bisa di bawah empat persen, gampang menurunkaninterest rate-nya," kata Jokowi.

Dengan keadaan tersebut, otomatis kata Jokowi bunga kredit perbankan harus turun. "Ya kan otomatis toh, kalau BI rate turun mestinyainterest ratebankjuga turun," sebutnya.

Diakui Jokowi, masih banyaknya perbankan belum menurunkanbungakredit walaupun BI Rate sudah turun, karena banyak faktor. "Kan banyak faktor, misalnyacost of fundsnya, di situ kalau ada biaya-biaya itu bisa turun mereka juga akan turun," tuturnya.

Seperti diketahui, BI baru saja menurunkan BI Rate dari 7,75 persen menjadi 7,5 persen atau turun 25 bps. Sementara itu, dengan penurunan BI Rate merupakan sinyal positif bagi dunia usaha. Penurunan tersebut mengartikan bahwa BI dan pemerintah meyakini jika ekonomi Indonesia akan membaik. "Memang hanya 25 bps (penurunan BI rate), tapi itu sinyal yang positif untuk dunia usaha. Ini menunjukkan bahwa BI dan pemerintah cukup yakin ekonomi akan membaik," ujar Ketua Umum Apindo, Hariyadi Sukamdani.

Amerika Serikat (AS). Sehingga menjadi angin segar bagi para pengusaha di Indonesia. Saat ini, dia berhadap penurunan BI rate tersebut diikuti oleh turunnya suku bunga kredit. Di mana pengusaha ingin penurunan tersebut berada di bawah level tujuh persen.

"Kita inginnya di bawah tujuh persen. Semakin efisien kan semakin baik, karena itu kan biaya. Sekarang masih tinggi, kita berharap di bawah tujuh persen. yang penting turun dua persen saja sudah bagus," tuturnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Eksekutif Bidang Pengawasan Pasar Modal Nurhaida mengatakan turunnya tingkat suku bunga acuan dianggap mendapatkan respons positif dari pasar. "Kalau dengan suku bunga yang lebih rendah, ekonomi akan berjalan. Sehingga perekonomian Indonesia lebih baik, liquidity di market juga akan jalan,” katanya.

Sedangkan menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara mengatakan, penurunan BI Rate artinya akan ada tambahan likuiditas di pasar keuangan. Oleh karena itu, bunga di Pasar Uang Antar Bank (PUAB) juga ikut turun.

"Logikanya memang begitu (suku bunga perbankan harus turun). Jadi bank akan menurunkan suku bunga deposito yang diikuti dengan turunnya bunga kredit," kata Mirza.

Dia melanjutkan bahwa tahun ini Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit di kisaran 14%-15%. Mengenai kekhawatiran ‘kaburnya’ dana asing, Mirza memastikan hal itu tidak akan terjadi. Justru dirinya meyakini semakin banyak arus modal asing yang masuk ke dalam negeri.

“Tidak usah khawatir (capital outflow). Saya lebih optimis Indonesia akan menerima arus modal masuk (capital inflow). Fundamental dijaga dengan baik. Neraca perdagangan surplusnya meningkat, defisit APBN terjaga, inflasi kita turun, dan suku bunga kita masih menarik. Jadi capital inflow diperkirakan masih akan bagus masuk ke Indonesia," tegas Mirza

Dia juga melihat ekspektasi inflasi ke depan bisa berada di level bawah dari sasaran BI yakni 3%-5%. Selain itu, perubahan kebijakan energi yang dilakukan pemerintah juga menjadi pertimbangan Bank Indonesia dalam menurunkan suku bunga acuan.

"Ketika bulan November 2014 ada kenaikan harga BBM tapi tidak dikaitkan dengan kebijakan fixed subsidiary. Selain itu, setiap bulan pemerintah melakukan adjustment (terhadap harga BBM). Harga minyak juga turun signifikan," kata Mirza.

Dia mengklaim penurunan suku bunga acuan yang dilakukan saat ini masih sejalan dengan kehati-hatian Bank Indonesia untuk tetap menjaga defisit neraca transaksi berjalan dalam tingkat yang sehat. [agus]

BERITA TERKAIT

Sentimen BI Rate, IHSG Terkoreksi 0,22%

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (22/8), indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah terbatas…

Bidik Dana di Pasar Rp 2 Triliun - Lagi, Jasa Marga Bakal Terbitkan Obligasi

NERACA Jakarta – Sukses menggalan dana di pasar lewat program dana investasi infrastruktur (Dinfra), memacu PT Jasa Marga (Persero) Tbk…

IMPOR MASIH MENDOMINASI - Presiden Ingin Defisit Garam Cepat Diatasi

NERACA Jakarta – Presiden Joko Widodo menilai bahwa potensi garam yang dihasilkan di tambak garam Desa Nunkurus Kabupaten Kupang, Nusa…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Sasa Raih Penghargaan Top Brand Award 2019

    NERACA   Jakarta – Perusahaan yang bergerak di bidang bumbu makanan, PT Sasa Inti mengalami pertumbuhan dan perkembangan…

Indonesia Butuh Haluan Ideologi Pancasila

    NERACA   Jakarta - Aktivis penggagas gerakan PancasilaPower, Rieke Diah Pitaloka mendeklarasikan gerakan kebangsaan PancasilaPower di IKIP Budi…

Said Abdullah: Pendekatan Ekonomi dan Keamanan Jadi Lokomotif Penyelesaian Masalah Papua

  NERACA   Jakarta - Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah menegaskan sinergitas antara aspek ekonomi dan…