Memperbaiki Harga Beras

Oleh: Sugiyono Madelan

Dosen Universitas Mercu Buana

Perum Bulog mempunyai stok beras sebesar 1,8 juta ton yang dipublikasikan telah siap untuk digelontorkan menggunakan operasi pasar beras. Kemudian estimasi dampak operasi pasar tadi maksimum akan menurunkan harga riil beras eceran di tingkat konsumen di Indonesia dalam jangka pendek sebesar = elastisitas penawaran beras dikalikan proporsi stok beras Bulog untuk operasi pasar terhadap estimasi penawaran beras di Indonesia = (- 0,1363 x 1,8 juta ton)/36 juta ton) = 8,83%.

Apabila pemerintah Joko Widodo bermurah hati membuka kran impor, kemudian harga riil impor beras misalnya apabila lebih rendah 10 persen, maka harga riil beras eceran di pasar konsumen dalam jangka pendek akan turun sebesar = 0,1567 x 10% = 1,57%. Oleh karena itu pemerintah Joko Widodo dianjurkan tidak menggunakan kekuatan impor beras untuk dijadikan instrumen dalam menormalkan harga eceran beras di tingkat konsumen, karena operasi pasar diharapkan berdampak magnitude lebih efektif sebagai instrumen untuk menurunkan harga eceran beras tadi.

Pilihan kebijakan untuk menanggulangi harga eceran beras di tingkat konsumen, yang diyakini ketinggian, misalnya dengan menggunakan subsitusi beras untuk menurunkan jumlah konsumsi beras. Elastisitas harga riil jagung di tingkat konsumen dalam jangka pendek sebesar 0,03 itu ternyata juga bukanlah metode yang efisien untuk dijadikan instrumen dalam menurunkan harga beras eceran di tingkat konsumen.

Rupanya persoalan harga eceran beras di tingkat konsumen adalah merupakan buah dari kebijakan pemerintahan Joko Widodo yang memberikan Kartu Indonesia Sejahtera, Kartu Indonesia Pintar, dan Kartu Indonesia Sehat. Hal ini disebabkan oleh elastisitas pendapatan per kapita terhadap konsumsi beras adalah sebesar 0,2479.

Dampak kartu-kartuan itu diduga berpotensi telah meningkatkan konsumsi beras pada penduduk miskin, yang berjumlah sekitar 31-32 juta jiwa. Peningkatan konsumsi beras makro terjadi sebagai akibat peningkatan pendapatan per kapita menggunakan subsidi Kartu Sakti tadi ditambah pendistribusian Raskin. Sebab elastisitas penawaran beras hanya sebesar minus 0,1363, sedangkan elastisitas pendapatan per kapita sebesar 0,2479.

Sementara itu tuduhan adanya permainan harga oleh pedagang besar beras ternyata berpotensi berdampak lebih kecil dibandingkan dampak Kartu Sakti Joko Widodo. Sebab, elastitas harga riil beras eceran terhadap harga riil beras pedagang besar dalam jangka pendek sebesar 0,2430. Perilaku ekonomi harga beras eceran ini memang cukup menggoda para pedagang besar beras untuk menaik-turunkan harga riil beras di tingkat pedagang besar. Akan tetapi godaan moral hazard tadi masih kalah besar dibandingkan dampak Kartu Sakti Joko Widodo yang mempunyai elastisitas sebesar 0,2479 di atas.

Kemudian tuduhan jahat kepada para pedagang besar beras sebagai aktor intelektual terhadap kenaikan harga eceran beras ternyata tidak didukung oleh data empiris. Sebab, elastisitas harga riil beras tingkat pedagang besar terhadap harga riil gabah tingkat petani dalam jangka pendek sebesar 0,0258. Angka tersebut masih lebih kecil dibandingkan elastisitas harga rujukan riil gabah yang ditetapkan oleh pemerintah.

BERITA TERKAIT

Naik Turun Harga Tiket Pesawat

Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (Indonesia National Carriers Association/INACA) sepakat untuk menurunkan tiket pesawat, yang sempat melambung beberapa waktu belakangan.…

Harga Tinggi Pengaruhi Kunjungan Wisatawan

Ketua Association of The Indonesian Tour and Travel Agencies (Asita) Kalimantan Barat, Nugroho Henray Ekasaputra, mengatakan harga tiket pesawat yang…

Harga Tiket Tetap Utamakan Keselamatan

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (Indonesia National Carriers Association/INACA) I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra menyampaikan bahwa penurunan tiket…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Lagi, Impor Gula

Oleh: Nailul Huda Peneliti Indef   Dalam satu minggu terakhir pembahasan mengenai gula kembali mencuat. Pasalnya adalah impor gula yang…

Infrastruktur Berkualitas Rendah - Oleh ; EdyMulyadi, Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Proyek infrastruktur di Indonesia ternyata berkualitas rendah dan tidak memiliki kesiapan. Bukan itu saja, proyek yang jadi kebanggaan Presiden JokoWidodo itu…

Ketika Rakyat Sekadar Tumbal

  Oleh: Gigin Praginanto Antropolog Ekonomi Politik Perekonomian nasional itu ibarat sepeda. Harus selalu dikayuh agar bergerak dan tidak jatuh.…