Pertamina Siap Pasok Gas Melon

NERACA

Jakarta - Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Dwi Soetjipto mengatakan, Pertamina siap memenuhi kebutuhangas3 Kg seperti yang sering disebut gas melon atau gas subsidi yang setiap tahunnya mengalami peningkatan sekitar 5%-6%.

Dwi mengungkapkan, saat ini masih belum ada data persis berapa angka kebutuhan yang harus dipenuhi oleh Pertamina saat ini. Pasalnya, banyak daerah dikabarkan mengalami kelangkaan gas 3 kg. "Pokoknya sesuai kebutuhan saja. Kita kan tiap-tiap tahun kira-kira tumbuh 5%-6%. Itu akan kita penuhi," kata Dwi di Jakarta, Selasa (24/2).

Dwi mengungkapkan, kelangkaan yang terjadi dibeberapa wilayah di Indonesia sudah siap di-input oleh Pertamina. Usai di-input, lanjut Dwi, Pertamina pun sudah siap memenuhi kebutuhan kembali. "Pasokan akan terus kita tambah sesuai dengan kebutuhan," tambahnya.

Kelangkaan yang terjadi, lanjut Dwi, sampai saat ini belum masuk pada level yang mengkhawatirkan. Menurut Dwi, informasi kelangkaan sudah masuk dan diinput oleh pihak Pertamina, khususnya di sektormarketing. "Sejauh ini itu tidak ada masalah. Jadi mestinya untuk pasokan ya, apalagi yang di kota-kota besar ya, seperti Bogor dan sebagainya, mestinya tidak boleh terjadi," ujarnya.

Masih disinggung mengenai kelangkaan gas 3 Kg kelangkaan Elpiji 3 kilogram (kg) yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia lantaran adanya pengalihan penggunaan gas dari 12 kg. menurutnya, jika dilihat dari harga jual, gas 12 kg dan 3 kg memiliki kesenjangan harga yang cukup jauh. "Oh iya jelas, jelas (pengalihan dari gas 12 kg)," tuturnya.

Dwi mengaku, penerapan harga untuk gas 3 kg memang dapat diakses oleh seluruh masyarakat di Indonesia. Dirinya pun menganggap peralihan merupakan hal yang wajar. "Kalau ada perbedaan harga itu kan menjadi wajar saja bagi orang untuk beralih dari 12 kg ke 3 kg," ujar dia.

Menurut dia, peralihan konsumsi masyarakat dari gas 12 kg ke gas 3 kg juga merupakan konsekuensi dari suatu kebijakan yang telah dibuat. "Jadi, ya itu adalah konsekuensi dari kebijakan yang ditetapkan," tutupnya.

Sementara itu, pada kesempatan berbeda, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Sofyan Djalil menegaskan kalau pasokan dan harga gas 3 kg aman dan tidak ada kenaikan, “Harga tetap sama.Pemerintahenggak menaikkan harga, dan pasokan aman" tegasnya.

Sofyan pun berdalih, keberadaan gas Elpiji 3 kg tidak langka. Menurutnya, kelangkaan terjadi hanya terjadi di beberapa tempat saja. "Pasokan tidak ada masalah. Karena harga pemerintah cukup. Suplai cukup. Mungkin hanya setempat saja," imbuhnya.

Dirinya pun sudah menanyakan langsung kepada Direktur Utama PTPertamina(Persero) Dwi Soetjipto terkait naiknya dan langkanya gas Elpiji 3 kg.

"Saya sudah tanya ke Pak Dwi, apa yang terjadi. Enggak ada masalah di pemerintah, subsidi tetap harga Aramco turun. Pertamina enggak ada masalah," jelasnya.

Menurutnya, masalah yang terjadi saat ini adalah suplai dan demand yang tidak seimbang, sehinggademandyang tinggi mengakibatkan banyak pengguna gas Elpiji 12 kg migrasi ke gas Elpiji 3 kg. "Ya suplai dandemandsaja. Kalau kendala suplai tanya ke Pertamina," pungkas dia. [agus]

BERITA TERKAIT

AMMDes Pacu Produktivitas, Siap Rambah Ekspor

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian secara konsisten dan berkelanjutan terus mendorong pemanfaatan dan pengembangan Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes) untuk…

Indonesia Industrial Summit 2019 - Sektor Manufaktur RI Dipandang Siap Menerapkan Industri 4.0

NERACA Jakarta – Making Indonesia 4.0 merupakan sebuah peta jalan yang diterapkan untuk mencapai tujuan Indonesia menjadi negara 10 besar…

Empat Raperda Siap Diserahkan ke Dewan Sukabumi

Empat Raperda Siap Diserahkan ke Dewan Sukabumi NERACA Sukabumi - Pemerintah kota (Pemkot) Sukabumi segera menyerahkan draft empat Rancangan Peraturan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Anehnya Boikot Uni Eropa Terhadap Sawit Indonesia

      NERACA   Jakarta – Industri kelapa sawit Indonesia menjadi penopang terhadap perekonomian. Data dari Direktorat Jenderal Pajak…

Meski Naik, Struktur Utang Indonesia Dinilai Sehat

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai struktur utang luar negeri (ULN) Indonesia yang naik 4,8 miliar…

Pentingnya Inklusivitas Sosial untuk Pertumbuhan Berkualitas

    NERACA   Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan, inklusivitas sosial atau memastikan seluruh warga mendapatkan…