Quo Vadis Obligasi dan Rupiah

Oleh : Tumpal Sihombing

CEO – BondRI dan Pengajar IPMI International Business School

Sejak November 2014 hinggi kini, pergerakan Rupiah konsisten terdepresiasi sementara yield acuan obligasi pemerintah bertenor 10 tahun terus mengalami penurunan (harga obligasi pemerintah semakin mahal). Kondisi yield obligasi kini mirip dengan Juli 2013, yang berdasarkan mantan menteri keuangan di era tersebut pernah menyatakan bahwa perekonomian Indonesia sempat berada di ambang krisis. Bedanya di mid 2013 tersebut tren harga obligasi Pemerintah cenderung turun (yield naik) sementara kini sebaliknya.

Selain itu, kurs Rupiah pada saat itu masih berfluktuasi naik-turun pada level di rentang 9500-12000 per US$ nya, sementara per awal minggu ini saja telah mengarah ke Rp 13,000 per US$ nya. Itu sekilas data terkini. Apakah kondisi ini normal, sehat dan sementara sifatnya?Apakah kondisi kini adalah dampak terkendali skenario ala Pemerintah alias by-design? Apakah kita tak perlu khawatir? Khawatir boleh, panik jangan!

Apapun yang sedang terjadi, secara umum ada 3(tiga) variabel utama dalam perekonomian domestik yang berkategori uncontrollable (tidak terkendali). Ketiga variabel tersebut adalah harga bbm (yang berdampak pada risiko laju inflasi, suku bunga dan yield), nilai kurs, dan volume transaksi perdagangan internasional (yang berdampak pada kondisi neraca). Walau pemerintah bisa saja melakukan intervensi ke pasar dalam rangka mengelola risiko ketiga variabel tersebut, namun secara empiris telah terbukti bahwa eksternalitas global adalah sesuatu yang sulit dibendungoleh inisiatif otoritas. Misalnya, jika Pemerintah kini berusaha mengendalikan pergerakan kurs Rupiah relatif terhadap major currencies (terutama US$), maka itu adalah proposisi yang sangat mahal dan tak efektif. Cadangan devisa (cadev) RI kini memang meningkat dan relatif lebih tinggi dibandingkan 1-2 tahun lalu. Namun jika cadev harus digelontorkan untuk mempertahankan pergerakan Rupiah di rentang tertentu, itu namanya konyol.

Pemerintah kini sebaiknya bersikap lebih pruden dan lebih proaktif.Terkait efeknya bagi pasar domestik, dinamika pasar global kini memiliki uncertainty yang lebih tinggi dibanding tahun lalu. Secara empiris juga telah terbukti bahwa kebijakan Pemerintah yang seakan membiarkan Rupiah terdepresiasi (jika benar by-design), ternyata tak selalu efektif meningkatkan permintaan mancanegara terhadap produksi dalam negeri.Fakta yang terjadi dalam 2(dua) tahun belakangan (hingga 2014), neraca perdagangan malah unfavorable sementara Rupiah malah konsisten terdepresiasi. Hanya bisa berharap semoga Pemerintah kini tidak sedang melakukan testing the wateralias trial dan error pada bauran mekanisme transmisi moneter dan fiskal.

Ini yang sebaiknya dilakukan Pemerintah untuk tahun 2015 : (1) jika suku bunga masih bisa lebih rendah lagi tanpa mengurangi dana pihak ketiga secara signifikan, lakukan! (2) jika volume emisi obligasi memang harus naik, sebaiknya valas dan lebih pruden dalam bond structure-nya; (3) perihal infrastruktur, pemerintah harus lebih intensif melibatkan kalangan swasta dalam pembangunan.(4) tax ratio memang harus ditingkatkan, namun sebaiknya itu dilakukan bertahap agar tak sampai memberatkan kalangan pengusaha.

BERITA TERKAIT

Pacu Pertumbuhan Investor di Sumbar - BEI dan OJK Edukasi Pasar Modal Ke Media

NERACA Padang - Dalam rangka sosialisasi dan edukasi pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Padang bekerja sama dengan…

Ekspor Tenun dan Batik Ditargetkan US$58,6 Juta

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor produk tenun dan batik pada tahun 2019 mampu menembus angka USD58,6 juta atau…

Pemerintah Perkuat Promosi Batik dan Kain Tenun

NERACA Jakarta – Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih mengungkapkan, pada Pameran Adiwastra Nusantara tahun…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Asuransi Kesehatan Kembali Merugi

    Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economic Universitas Prasetiya Mulya   Hingga akhir tahun 2018 lalu defisit…

Mengapa Ekspor dan Kenapa Risaukan Impor?

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Ekspor dan impor sama pentingnya dalam perekonomian sebuah bangsa. Kita dididik take…

Belit OTT

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Lagi, seorang petinggi parpol terciduk OTT KPK. Apakah…