Harga Sawit Internasioal Sulit Tembus US$700

NERACA

Jakarta - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memperkirakan hingga akhir Februari, harga minyak sawit mentah atau CPO global sulit menembus USD 700 per metrik ton. Ini lantaran Malaysia baru memulai pemulihan pasca-banjir dan turunnya nilai mata uang Malaysia terhadap dolar Amerika Serikat. "Keadaan ini menyulitkan harga CPO pasar global terdongkrak," kata Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan, Sabtu (21/2).

Adapun harga rata-rata CPO Global sepanjang Januari 2015 hanya mampu bergerak di kisaran USD 610-USD 707,5 per metrik ton. Banjir di Malaysia yang sangat parah sehingga mengganggu panen sehingga pasokan berkurang tak mampu mengerek harga.

Fadhil menyebut awal tahun ini merupakan masa suram bagi pasar minyak nabati dunia. Menurut laporan FAO, harga minyak nabati dunia, mulai dari minyak biji-bijian hingga minyak sayur mengalami penurunan terendah. "Khususnya minyak sayuran tercatat pada level terendah sejak Oktober 2009," jelasnya.

Jatuhnya harga minyak nabati dunia disebabkan rendahnya permintaan pasar global, pengurangan pasokan ke pasar biodiesel, rendahnya harga minyak mentah dunia dan melimpahnya stok minyak nabati di negara-negara produsen. "Harga CPO di pasar global yang terus tergerus tidak mampu mengerek permintaan CPO di pasar global," katanya.

Sementara itu Harga Patokan Ekspor Februari 2015 ditentukan oleh Kementerian Perdagangan sebesar USD 648 dan Bea Keluar 0 persen dengan referensi harga rata-rata tertimbang (CPO Rotterdam, Kuala Lumpur dan Jakarta) sebesar USD 719.05 per metrik ton. Dengan melihat tren harga CPO global hingga dibawah USD 750 per metrik ton, GAPKI memperkirakan harga Bea Keluar untuk Maret akan tetap 0 persen.

Ekspor Turun

Disisi lain, Gapki mencatat volume ekspor minyak sawit mentah atau CPO dan turunannya asal Indonesia hanya sebesar 1,8 juta ton pada Januari 2015. Menurun 8 persen ketimbang ekspor Desember lalu mencapai 1,97 juta ton. "Jika dibandingkan secara year-on-year kinerja ekspor CPO dan turunannya mengalami kenaikan sekitar 240 ribu ton atau 15 persen ketimbang Januari 2014 yaitu sebesar 1,57 juta ton," kata Fadhil.

Hampir semua pasar utama ekspor CPO dan turunannya, terutama China dan India, mengurangi permintaannya pada awal tahun ini. Volume ekspor CPO dan turunannya ke China tercatat turun 40 persen dari 328,45 ribu ton menjadi 196,84 ribu ton.

India membukukan penurunan permintaan sebesar 39,7 persen dibandingkan dari 494,72 ribu tonmenjadi 298.27 ribu ton. Selain itu, penurunan volume ekspor juga dibukukan Amerika Serikat 15 persen, negara-negara Afrika 8 persen, Uni Eropa 3,6 persen.

Penurunan tersebut tidak cukup dikompensasi dengan peningkatan volume ekspor CPO dan turunannya ke Pakistan. Sebab, penaikan permintaan dari Pakistan hanya sebesar 59 persen, dari 78,80 ribu ton menjadi 125,61 ribu ton. Sementara Timur Tengah sebagai pasar baru buat Indonesia hanya mencatatkan penaikan permintaan sebesar 9 persen atau dari 174,36 ribu ton menjadi 190,20 ribu ton.

Dalam riset yang dikeluarkan oleh PT Daewoo Securities Indonesia, Industri minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia pada tahun 2015 akan sangat tergantung dari kondisi global. "Pasar Indonesia akan tergantung pada pemulihan pasar Tiongkok dan India," tulis riset tersebut.

Riset Daewoo menyatakan, pergerakan harga CPO masih belum sepenuhnya pulih. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memperkirakan harga CPO Indonesia pada 2015 diperkirakan mencapai US$ 740 per MT hingga US$ 800 per MT, dengan produksi 32,5 juta matrikton (MT).

Belum membaiknyaharga CPO tahun depan juga akan terjadi di Malaysia. Meski terjadi kenaikan harga menyusul penerapan kebijakan baru, namun diperkirakan tidak berlanjut hingga tahun depan. Diketahui, harga CPO untuk pengiriman Februari 2015 naik mencapai 2,210 ringgit Malaysia.

Riset Daewoo menyatakan, produksi CPO Indonesia masih berpotensi mengalami kenaikan sebanyak 5 juta MT per tahun dan bisa mencapai 40 juta MT pada 2020, atau bertumbuh hampir dua kali lipat dibandingkan 2013 sebanyak 27 juta MT "Investor sebaiknya tetap mencermati pergerakan saham CPO di tahun 2015," kata riset tersebut.

Di sisi lain, tulis riset tersebut, permintaan ekspor berpotensi meningkat menyusul penerapan zero tariff export. Fakta terkini, kebijakan itu telah mendorong lonjakan ekspor CPO pada bulan Oktober lalu.

BERITA TERKAIT

Komoditas - Pemerintah dan Pelaku Industri Berupaya Dongkrak Harga Sawit

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian bersama pelaku industri berupaya mencari terobosan yang strategis untuk mendongkrak harga minyak sawit mentah (crude…

Ekspor Obat Hewan Tembus Rp26 Triliun Sejak 2015

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat rekomendasi ekspor produk peternakan sejak 2015 sampai semester I 2019 sebesar Rp38,39 triliun…

Pemerintah Serius Atur Strategi Tekan Harga Tiket Pesawat

NERACA Jakarta – Pemerintah sedang mengatur strategi untuk menekan harga tiket pesawat agar tidak terlalu tinggi sehingga masyarakat mampu membeli…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Pemerintah Ingin 10 Ribu IKM Masuk Pasar Online

NERACA Jakarta – Kemenperin menargetkan sebanyak 10 ribu pelaku IKM dari berbagai sektor dapat masuk ke pasar online melalui program…

Perjanjian RCEP Dinilai Hanya Lindungi Kepentingan Investor

NERACA Jakarta – Koalisi masyarakat sipil untuk keadilan ekonomi melakukan aksi penolakan terhadap perjanjian RCEP yang sedang dirundingkan oleh Indonesia.…

Bakal Terus Dicari Solusi Masalah Ekspor Sawit

NERACA Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan mengatakan akan mencari solusi masalah kelapa sawit setelah mendengar hasil…