Respon Positif BI

Meski sebelumnya bertahan 3 bulan lamanya, suku bunga acuan BI Rate akhirnya diturunkan dari 7,75% menjadi 7,5% pada bulan ini. Penurunan suku bunga acuan ini memang belum signifikan sperti yang diharapkan oleh kalangan pengusaha. Karena sektor riil selama ini sulit bergerak karena tingginya suku bunga, sementara pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2015 sebesar 5,7% dan 7% pada tiga tahun mendatang.

Menurut Dewan Gubernur BI, kebijakan penurunan tersebut terpaksa dilakukan untuk merespon ekspektasi inflasi, menjaga kondisi defisit neraca berjalan (current account deficit), menjaga likuiditas perbankan, dan meningkatkan pertumbuhan kredit. Namun, setelah harga BBM dua kali diturunkan menjadi Rp 6.600 per liter untuk premium dan Rp 6.400 per liter untuk solar, kondisi inflasi tetap terkendali rendah.

Penurunan harga BBM pada awal tahun ini ternyata berdampak pada laju inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan terjadi inflasi negatif atau deflasi 0,24% pada Januari 2015 dibandingkan bulan sebelumnya. Adapun tingkat inflasi tahun ke tahun (year on year) sebesar 6,96% atau lebih kecil dibandingkan tingkat inflasi Desember 2014 terhadap Desember 2013 sebesar 8,36%. Deflasi pada Januari 2015 diakibatkan oleh kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan karena penurunan harga BBM. Harga bensin dan solar turun sehingga tarif angkutan di beberapa kota ikut turun.

Tidak hanya itu. Membaiknya neraca pembayaran Indonesia dan neraca perdagangan patut kita berikan apresiasi. Bila pada 2013 mencatatkan defisit sebesar US$ 4,06 miliar, pada 2014 defsit neraca perdagangan menyusut menjadi US$ 1,89 miliar. Kondisi ini cukup menggembirakan di tengah penurunan harga-harga komoditas yang menjadi andalan ekspor Indonesia. Bahkan, pada Januari 2015, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus US$ 710 juta karena nilai ekspor mencapai US$ 13,3 miliar dan impor US$ 12,59 miliar.

Membaiknya kinerja neraca perdagangan berkontribusi positif pada neraca berjalan dan neraca pembayaran Indonesia (NPI). Pada 2014, NPI mencatatkan surplus US$ 15,2 miliar setelah meraih US$ 7,3 miliar pada 2013. Surplus NPI tersebut akibat total surplus transaksi modal dan finansial yang melambung serta defisit transaksi berjalan mengecil. NPI ini terdiri atas tiga komponen, yakni transaksi berjalan, transaksi modal, dan transaksi finansial, dengan selisih perhitungan bersih sebagai penyeimbang.

Surplus transaksi finansial tahun lalu melambung ke US$ 43,6 miliar, transaksi modal surplus US$ 0,027 miliar. Sedangkan defisit transaksi berjalan mengecil menjadi US$ 26,2 miliar dari sebelumnya US$ 29,1 miliar. Untuk selisih perhitungan bersih adalah minus US$ 2,1 miliar dibanding minus US$ 0,22 miliar tahun 2013.

Melihat kondisi demikian, tidak ada alasan bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan tetap tinggi suku bunga acuan tersebut, apalagi menaikkannya. Mempertahankan suku bunga BI Rate tinggi jelas akan memukul dunia usaha yang sudah terjepit oleh banyak persoalan. Selama ini kalangan pengusaha memang berharap BI Rate diturunkan, karena akan berdampak pada penurunan suku bunga kredit perbankan yang saat ini sudah sangat tinggi mencekik dunia usaha.

Tidaklah mengherankan jika tren global saat ini juga menunjukkan suku bunga di beberapa negara sedang menurun. Lihat saja suku bunga acuan di Malaysia 3,25%, Tiongkok (6,0%), Amerika Serikat (0,25%), Thailand (2,0%), Singapura (0,17%), Jepang (0,1%), bahkan Eropa cukup rendah sebesar 0,05%.

Kita tentu berharap suku bunga BI Rate dapat menurun lagi di waktu mendatang, mengingat kebijakan penaikkan suku bunga The Fed sekitar pertengahan tahun ini diprediksi tidak terlalu tinggi. Bagaimanapun, penurunan suku bunga acuan tidak serta-merta akan berdampak pada tekanan nilai tukar rupiah. Fakta menunjukkan penaikkan BI Rate yang sudah dilakukan beberapa kali hingga ke posisi 7,75%, toh belum mampu menahan laju pelemahan rupiah yang saat ini mendekati level Rp 12.700-Rp 12.800 per US$. Kebijakan bunga tinggi banyak mudharatnya ketimbang manfaat positif bagi masyarakat Indonesia.

BERITA TERKAIT

Tahun Politik Berikan Dampak Positif IHSG

NERACA Solo – Momentum politik seiring dengan pemilihan calon presiden dan anggota legislatif, diyakini tidak terlalu banyak berdampak terhadap industri…

Pasar Otomotif Indonesia Diprediksi Lebih Positif di 2019

NERACA Jakarta – Pengamat otomotif yang juga dosen Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu memprediksi pasar otomotif dalam negeri tahun…

HIMKI: Perang Dagang Mulai Berdampak Positif

NERACA Jakarta – Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Soloraya menyatakan perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dengan…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Perlu Aturan Uang Digital

Di tengah makin maraknya peredaran uang digital, hingga saat ini baik Bank Indonesia (BI) maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terlihat…

Jaga Rasio Utang Sehat

Belakangan ini sejumlah pihak membuat “gaduh” melihat membengkaknya utang pemerintah Indonesia. Meski demikian, total utang Indonesia terus bertambah dari tahun…

Bukti Lemahnya Koordinasi

Kritik pedas yang disampaikan Bank Dunia terhadap proses perencanaan dan pembiayaan infrastruktur yang dilakukan Pemerintahan Jokowi-JK, menunjukkan betapa lemahnya koordinasi…