LPS Tahan Bunga Penjaminan 7,25%

NERACA

Jakarta - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memutuskan menahan tingkat suku bunga penjaminan simpanan nasabah di bank umum di level 7,25% untuk periode 15 September-14 Januari 2012, mengikuti BI Rate yang bertahan di 6,75%.

"Penetapan tingkat bunga wajar tersebut didasari beberapa pertimbangan antara lain kondisi perekonomian dalam negeri yang relatif kuat ditandai dengan tingkat inflasi yang relatif rendah, meningkatnya cadangan devisa, dan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS," Kata Kepala Eksekutif LPS Firdaus Djaelani di Jakarta, Rabu (14/9)

Menurut Firdaus, memburuknya perekonomian global khususnya di AS dan Eropa. Maka perlu tetap mempertahankan kepercayaan masyarakat dan menjaga stabilitas sistem perbankan. Sehingga LPS tetap mempertahankan tingkat bunga wajar tersebut. "Sesuai ketentuan LPS, apabila tingkat bunga simpanan yang diperjanjikan antara bank dengan nasabah penyimpan melebihi tingkat bunga waja, maka simpanan nasabah dimaksud menjadi tidak dijamin," ungkapnya

Karena itu bank wajib memberitahukan nasabah mengenai tingkat bunga wajar yang berlaku dengan menempatkan informasi mengenai tingkat bunga wajar pada tempat yang mudah diketahui oleh nasabah penyimpan.

tekanan inflasi yang masih relatif tinggi juga menjadi dasar ditahannya bunga penjaminan simpanan tersebut. Tekanan inflasi masih tinggi karena tren kenaikan harga komoditas internasional dan meningkatnya permintaan barang dan jasa.

Akibat pertimbangan tadi, maka tingkat suku bunga penjaminan simpanan rupiah sekarang di bank umum tetap 7,25%, suku bunga penjaminan simpanan valas di bank umum tetap 2,75%, dan suku bunga penjaminan simpanan di BPR juga bertahan di 10,25%.

Sebelumnya, Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Perry Warjiwo mengungkapkan kemungkinan BI akan menurunkan suku bunga acuannya (BI Rate) sebagai respon untuk memitigasi gejolak perekonomian dunia yang diperkirakan melambat tahun depan. "Seberapa besar responnya, kita harus lihat juga seberapa besar penurunan ekonomi global," ujarnya.

Menurut Perry, BI memantau perkembangan perekonomian dunia yang cenderung melambat. Perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia yang diperkirakan hanya berada di level empat persen dan terjaganya tekanan inflasi di kisaran 4,9%, berdampak pada kondisi perekonomian domestik.

Sinyal penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate), berangkat dari kondisi inflasi tahun ini yang diperkirakan bisa di bawah target pemerintah di level 5,3%, bahkan berpotensi di bawah 5%.

Terkendalinya tekanan inflasi menjadi dasar pertimbangan Bank Indonesia menyesuaikan tingkat suku bunga, nilai tukar, dan respon bauran lainnya. Respon tersebut cenderung mengarah pada kelonggaran. "BI juga telah menyatakan hasil keputusan bahwa BI siap menempuh respon suku bunga dan nilai tukar serta bauran kebijakan moneter lainnya untuk memitigasi dampak tadi. Sehingga kinerja ekponomi kita akan lebih baik," pungkasnya. **cahyo

Related posts