Pertumbuhan Ekonomi 2012 Berpotensi Melemah - Dampak Krisis Global

NERACA

Jakarta----Krisis global tampaknya berpotensi lemahkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Padahal asumsi makro RAPBN 2012 target pertumbuhan diperkirakan mencapai 6,7%. Karena itu perlu lebih dipertimbangkan lagi, terutama krisis yang terjadi di Eropa. "Seharusnya dipertimbangkan supaya tidak terlalu ambisius memaksakan mengejar ke 7%. Artinya, kita harus berpikir bahwa 6,7% itu sudah cukup optimistis," kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Bambang Brodjonegoro kepada wartawan di Jakarta, Jakarta, Rabu (14/9).

Yang jelas, kata mantan Dekan FEUI ini, meski target pemerintah hanya 6,7%. Namun target itu dinilai sudah cukup optimis. Makanya, pemerintah belum berencana mengoreksi angka pertumbuhan ekonomi ini. "Ya sementara kita pakai 6,7%, nanti kita lihat, tapi intinya pemerintah menganggap 6,7% itu sudah cukup optimis," terangnya

Menurut Bambang, penurunan perkembangan ekonomi ini akan terus dijaga dan dipantau oleh pemerintah, karena sambungnya pemerintah tidak ingin kejadian krisis tahun 2009 kembali terulang pada saat ini. "Dan kita harus siap-siap misalnya ada pelambatan bisa turun ke 6,5%. Yang penting kita harus jaga jangan sampai kejadian seperti 2009, ketika ada krisis kita sampai ke 4,5%," paparnya

Lebih jauh Bambang berharap agar krisis AS dan Eropa ini tak terlalu berdampak langsung pada Indonesia. "Iya makanya dampak tidak langsung, ya itu makanya mudah-mudahan dampaknya tidak terlalu besar," tandasnya

Ditempat terpisah, Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengakui target pertumbuhan ekonomi pada 2012 kemungkinan akan meleset. Oleh karena itu, guna mencapai target itu, bisa tercapai apabila dua persyaratan dilaksanakan. Pertama, harus ada langkah sistemik dalam merealisasikan penyerapan anggaran. Kedua, merealisasikan permintaan domestik. "Dua hal itu merupakan kompensasi dari perlambatan dari perdagangan luar negeri. Jika dikabulkan maka pertumbuhan ekonomi 6,7 persen bisa tercapai," ujarnya

Menurut Darmin, risiko eksternal atau risiko global menjadi salah satu penghambat dalam pencapain target pertumbuhan perekonomian tahun 2012. "Risiko eksternal, meningkatkan ketidakpastian global menyebabkan pertumbuhan ekonomi mungkin akan lebih rendah dari target yang ditargetkkan," tambahnya

Pertumbuhan ekonomi yang diprediksi 6,7% pada asumsi makro 2012 ini sangat dipengaruhi ketidakpastian global, seperti krisis utang eropa, penurutan rating beberapa negara maju, menurut Darmin ini harus lebih diperhatikan dalam menentukan prediksi pertumbuhan ekonomi 2012. "Angka pertumbuhan 2012, kita harus perhatikan ketidakpastian global, dengan masih berlangsungnya krisis utang eropa, dan penurunan rating beberapa negara maju, berisiko menurunkan perekonomian dunia," tambah Darmin.

Lebih jauh Darmin menjelaskan, dengan adanya risiko global seperti perlambatan pertumbuhan perekonomian dunia akan berdampak pada melemahnya perdagangan internasional sehingga akan menurunkan permintaah ekspor, yang ini akan berdampak juga kepada Indonesia.

Walaupun demikian Darmin mengatakan hal ini akan dapat terbantu dengan adanya penyerapan anggaran yang tinggi di kementrian, sehingga ini menurut Darmin akan menjadi daya dorong untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. "Tingkat pertumbuhan ekonomi ini apabila terdapat dukungan fiskal yang kuat, dapat dilakukan dengan penyerapan anggaran yang lebih tinggi dari biasanya, sehingga menjadi daya dorong untuk wujudkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi," pungkasnya. **cahyo

Related posts