Kementan Pacu Petani Aplikasi Biotek - Dukung Swasembada Pangan

NERACA

Jakarta – Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementrian Pertanian, Hasil Sembiring mengatakan, dibandingakan negara lain atau pun negara tetangga seperti Thailand yang belakangan mengaplikasikan biotek dibandingkan Indonesia sekarang lebih berkembang dan maju. Untuk itu dirinya menghimbau agar para petani Indonesia untuk segera mengaplikasikan biotek guna mendorong produksi pertanian sebagai langkah mendukung swasembada pangan. “Negara lain sudah banyak berhasil dalam mengaplikasikan biotek, maka dari itu Indonesia akan terus kami pacu untuk dapat mengaplikasikan biotek,” katanya kepada wartawan sesaat setelah diskusi yang mengangkat tema “Peranan Tekhnologi dalam Mendukung Swasembada pangan” di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, saat ini pemerintah melalui Badan Penelitian Pertanian, bahkan swasta seperi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) atau kampus-kampus sudah banyak meneliti akan penggunaan biotek untuk sektor pertanian. Namun begitu, aplikasi di petaninya masih sangat minim. “Sekarang sudah banyak hasil penelitian akan biotek untuk sektor pertanian, hanya saja memang masih minim implementasinya di masyarakat petani kita,” ujarnya.

Untuk itu dirinya berjanji akan terus mensosialisasikan dan mengajak para petani nasional agar mau mengaplikasikan biotek ini agar mampu meningkatkan produktifitas hasil pertanian nasional. Agar mampu mewujukan swasemabada pangan yang sudah ditargetkan pemerintah tiga tahun mendatang. “Sudah sejak lama kita menggaungkan ini, namun memang belum besar. Oleh karenanya kami (pemerintah) tidak henti-hentinya terus mengajak para petani guna merealisasikan ini. Dan kami menargetkan tahun depan sudah running sehingga dalam 3 tahun mendatang hasilnya sudah nampak,” paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Indonesia Biotechnology Information Center (IndoBIC), Bambang Purwantara, mengatakan dari tahun 1996 hingga 2013, tanaman biotek mampu meningkatkan produksi tanaman senilai US$ 133 milliar. Dimana biotek ini mampu menekan angka kemiskinan di dunia lebih dari 16,5 juta petani kecil dan keluarga miskin serta secara kolektif lebih dari 65 juta rakyat, yang mereka notabene golongan rakyat termiskin di dunia. Disamping itu juga, biotek mampu menekan dampak lingkungan dari produksi pangan dan serat dengan mengurangi penggunaan pestisida, meningkatkan penghematan lahan, dan mengurangi emisi CO2. “Biotek aman dan mampu mensejahterakan petani, makanya perlu terus didorong agar petani lokal bisa mengaplikasikan ini,” katanya.

Namun memang menurutnya, selama ini memang banyak kendala dari aplikasi biotek ini, selain minimnya pemaham SDM petani kita dan juga minimnya anggran sehingga penggunaan biotek ini belum berjalan di Indonesia. “Kendalanya masih terbatas anggran, oleh karenanya pemerintah sedianya bisa memberikan supporting anggaran agar program ini dapat berjalan,” ujarnya.

Sementara itu, Pendiri International Service for the Acquisition of Agri-Biotech Applications, Clive James, menyebutkan saat ini negara yang sudah berhasil mengaplikasikan biotek ini diantara adalah Amerika Serikat (AS), Brazil, Argentina, India dan Kanada. Dan negara Asia yang terus meningkatkan performanya dalam penggunaan biotek adalah Tiongko dan India, kedua negara berkembang ini yang terus memimpin tanaman biotek. Dan seharusnya Indonesia dengan kondisi wilyah geografisnya serta potensi SDA bisa lebih maju dan berkembang dari mereka. “Bicara sektor pertanian Indonesia memiliki semuanya, sangat berpotensi untuk dapat mengaplikasikan ini, dan bisa menghasilkan berkali lipat dari negara lain jika memang mau mengaplikasikan biotek ini,” tandasnya. [agus]

BERITA TERKAIT

Bank Commonwealth Luncurkan Aplikasi Wealth Management

  NERACA   Jakarta - Bank Commonwealth meluncurkan aplikasi CommBank SmartWealth yang merupakan aplikasi pertama di Indonesia yang berfokus pada…

Bantuan 50 Ekor Ayam Kementan Bantu Kehidupan Masyarakat

    NERACA Tasikmalaya - Kehidupan Cicih, seorang buruh tani di Desa Kiarajangkung, Kec. Sukahening, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat, menjadi…

KOMODITAS UNGGULAN EKSPOR KEMENTAN 2019

Petugas menyortir rempah-rempah di Pusat Saintifikasi dan Pelayanan Jamu (PSPJ) di Pekalongan, Jawa Tengah, Kamis (17/1/2019). Kementerian Pertanian memfokuskan beberapa…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pemerintah Diminta Stabilkan Harga Sawit

  NERACA   Kampar - Masyarkat Riau mayoritas berprofesi sebagai petani sawit yang nasibnya bergantung pada harga jual buah sawit.…

Tekankan Peningkatan Kesejahteraan Pasca Inhil Jadi Kluster Kelapa di Indonesia

  NERACA   Indragiri Hilir - Dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan turunan kelapa yang ada di Kabupaten Inhil, Bupati HM…

KIBIF Siapkan 20 Ribu Ekor Sapi untuk Pasar Domestik

    NERACA   Jakarta - Setelah resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Estika Tata Tiara…