Industri Tekstil Ingin Masuk Ke Pasar Eropa - Minta Bantuan Pemerintah

NERACA

Jakarta - Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mendorong agar pemerintah bisa membuka pasar ke Eropa. Salah satu caranya bekerjasama dengan Turki. Pasalnya Turki diyakini bisa menjembatani ekspor tekstil Indonesia ke Eropa. Hal itu seperti diungkapkan Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat di Jakarta, Kamis (5/2). "Kami ingin agar Kementerian Perdagangan bisa membuka akses ke Turki dengan Free Trade Agreement (FTA)," ungkap Ade.

Ia mengatakan jika memang pemerintah bisa memberikan akses ke pasar Eropa maka pihaknya dalam hal ini pengusaha tekstil Indonesia meyakini bisa membanjiri tiga kali lipat pasar Eropa dengan tekstil dari Indonesia. "Mau bagaimanapun kualitas produk tekstil yang kita punya, komitmen kita dan mentalitas kita sudah teruji. Bahkan sudah sekian lama Eropa memberikan kepercayaan kepada Indonesia," jelasnya.

Jadi, kata dia, tinggal finishing touch dari pemerintah sehingga produk tekstil bisa masuk ke pasar Eropa dan harapan untuk bisa meningkatkan ekspor sebesar 300% dalam lima tahun akan mungkin dicapai. "Jadi tinggal satu jurus lagi maka kelipatan ini akan terjadi dengan sendirinya," tambah Ade dengan percaya diri.

Sementara itu, lanjutnya, untuk memasuki pasar Amerika, Ade melihat masih membutuhkan kajian secara komprehensif. Mengingat banyak hal yang perlu dikaji mengenai pasar di Amerika dan proses distribusinya. "Ke Amerika juga perlu namun itu memakan waktu karena belum dilakukan studi yang komprehensif," tandasnya.

Pasar Eropa

Uni Eropa (UE) yang berpenduduk sekitar 380 juta jiwa dengan total GDP lebih tinggi dari GDP USA dan Jepang merupakan pasar terbesar di dunia. Oleh karena itu UE diyakini merupakan incaran bagi pemasaran produk-produk industri baik itu dari negara anggota UE sendiri, negara maju maupun negara berkembang.

Soal industri tekstil dan pakaian jadi, menurut data tahun 1995 diseluruh Uni Eropa tercatat 132.162 industri tekstil dengan jumlah tenaga kerja yang diserap mencapai 2.549.100 orang. Tetapi pada tahun 2001 kondisi industri tekstil dan pakaian jadi ini menurun menjadi tinggal 112.968 perusahaan yang mempekerjakan 2.117.200 orang karyawan.

Italia merupakan produsen utama pakaian di UE dengan pangsa 32% dari total produksi garment diikuti oleh Inggris (16%), Jerma (12%), Prancis (11%) dan Spanyol (11%). Data yang tercatat untuk volume pasar UE untuk kebutuhan pakaiannya mencapai nilai 215 milliar euro dimana sepertiga dari kebutuhan tersebut dipenuhi oleh impor dengan menggunakan fasilitas quota yang diberikan kepada produsen tekstil negara-negara berkembang.

Melihat besarnya potensi pasar yang cukup besar tersebut, negara-negara berkembang yang juga merupakan produsen tekstil berusaha semaksimal mungkin berupaya untuk memanfaatkan kuota yang didapatnya. Pada saat yang sama produsen tekstil di negara yang tidak dikenakan kuota berlomba mencari akses untuk dapat masuk dan merebut pasar sebesar-besarnya di UE.

Umumnya negara-negara tersebut menempuh jalan dengan mencari pintu atau akses negara tertentu yang digunakan sebagai pusat pemasaran produknya keseluruh Uni Eropa. Karena apabila satu negara dapat masuk dan menguasai pasar di salah satu anggota UE maka produknya akan dengan mudah untuk dipasarkan keseluruh anggota UE dan dengan demikian akan terbuka jalan untuk menembus pasar UE secara keseluruhan.

Konsumsi pakaian jadi rata-rata perorang di Uni Eropa pada tahun 2000 adalah 630 euro per tahunnya. Potensi yang besar tersebut 30%nya adalah konsumsi kelompok pakaian jadi outwear. Impor tahun 2000 untuk pakaian jadi kelompok outwear mengalami pertumbuhan 14% dibandingkan tahun 1998 dan 1999 dengan nilai 63,3 milyar euro.

Tujuan utama pasar produk ini adalah Jerman dengan pangsa impornya sebesar 27% diikuti oleh Inggris 17%, Perancis (15%), Italia (8%) dan Belanda (7%) dari total impor UE. Sejak tahun 2001 pasar pakaian jadi UE dipenuhi oleh produk-produk pakaian jadi dengan harga yang murah dan diproduksi secara masal. Walaupun demikian tuntutan akan produk yang berkualitas tetap menjadi syarat utama konsumen di Uni Eropa.

Khusus untuk ekspor Men's/Boy's Garment nomor HS 621040 selama periode 1997-2001 Uni Eropa mengimpor (extra UE) lebih dari Euro 500 juta pertahun dengan kenaikan rata-rata 21,9%. Sedangkan impornya dari Indonesia selama periode tersebut mengalami peningkatan dari Euro 29,1 juta pada tahun 1997 menjadi Euro 63,5 juta pada tahun 2001 atau mengalami pertumbuhan rata-rata 23,16% pertahun.

BERITA TERKAIT

Kemenperin Siap Pasok SDM RI Penuhi Kebutuhan Industri Jepang

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian akan memfasilitasi pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) industri yang kompeten dari Indonesia untuk bekerja…

Nilai Ekspor Industri Pengolahan Nonmigas Terus Meningkat

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mencatat, selama empat tahun terakhir, ekspor dari industri pengolahan nonmigas terus meningkat. Pada 2015, nilai…

Empat Langkah Strategis untuk Industri Keramik Nasional

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus memacu daya saing industri keramik nasional. Sebab, merupakan salah satu sektor yang diprioritaskan pengembangannya…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

KKP Tangkap Dua Kapal Ilegal Berbendera Vietnam

NERACA Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Kapal Pengawas Perikanan KP Orca 01 dan KP Hiu 11 berhasil…

Program Minapadi Indonesia Sudah Dipelajari 13 Negara

NERACA Jakarta – Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto menyatakan, program minapadi yaitu penggabungan budi daya…

Sektor Riil - Industri Keramik Minta Harga Jual Gas Sama Rata di Indonesia

NERACA Jakarta – Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) minta agar harga jual gas sebagai bahan bakar industri tersebut bisa…