Menkeu Harap Daya Beli Meningkat - Dorong Pertumbuhan Ekonomi

NERACA

Jakarta - Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro berharap daya beli masyarakat cukup tinggi, ini agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. Terlebih lagi, tahun ini sektor ekspor diprediksi akan melambatkan ekonomi. "Yang kita bisa harapkan daya beli masyarakat. Kita harapkan konsumsi menyumbang 4,8 persen kira-kira untuk pertumbuhan ekonomi," katanya ,di Jakarta, Kamis (22/1).

Bambang juga berharap, selain konsumsi masyarakat, belanja modal yang bertambah besar dan komitmen menteri untuk menyerap anggaran lebih baik juga akan memacu pertumbuhan ekonomi. Sehingga, meskipun pertumbuhan global juga tidak cukup baik, namun Indonesia dapat meningkatkan semaksimal mungkin ekonomi tersebut. "Dari situ kami lihat ada potensi untuk kita lebih baik dari 2014," tambah Bambang.

Bambang mengaku berpegang pada angka 5,8 persen pertumbuhan tahun ini. Sehingga tetap menjaga optimisme. "Kita akan diskusi lebih jauh mengenai prospek pertumbuhan ini. Dan akhirnya kita jaga agar ekspektasi tidak terlalu tinggi. Optimisme harus terlihat tapi realistis," tambah dia.

Sebelumnya, pengamat ekonomi Universitas Padjajaran, Ina Primiana mengatakan daya beli masyarakat menurun akibat kenaikan BBM November 2014 lalu, dan daya beli itu belum dapat pulih selama tidak ada potensi-potensi yang bisa meningkatkan pendapatan masyarakat.

Menurutnya, kenaikan harga BBM menggerus daya beli masyarakat antara 20-30 persen. "Wajar daya beli menurun karena kenaikan harga terjadi di hampir semua lini mulai dari sembako hingga ongkos kendaraan umum," katanya.

Salah satu yang dapat memperbaiki daya beli masyarakat adalah penyesuaian gaji. Bagi dunia usaha, kebijakan ini tentunya memberatkan apabila tidak diiringi kenaikan laba perusahaan. Oleh karenanya Ina menyarankan kepada pemerintah agar memberikan kemudahan-kemudahan yang dapat menjaga iklim usaha tetap kondusif.

Sementara itu, menurut wakil presiden Jusuf Kalla (JK) memperkirakan penurunan daya beli masyarakat itu dampaknya tidak akan terlalu lama. Dirinya memperkirakan tak sampai 3 bulan dari pasca kenaikan harga BBM November 2014 lalu. "Daya beli paling lama dampaknya 3 bulan, setelah itu membaik lagi," kata JK.

Sedangkan menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Sofyan Djalil, menyatakan bahwa dengan penurunan kembali harga BBM ini, tidak ada alasan harga barang dan jasa tidak ikut disesuaikan. "Ada orang yang menahan kalau tidak turun, ini harus turun karena bersinggungan dengan daya beli masyarakat," tegasnya.

Sofyan memastikan, tarif transportasi akan menyesuaikan harga baru BBM dan koordinasi dengan pemerintah daerah mengenai hal ini juga akan dilakukan.

Turunya biaya transportasi tersebut, ia melanjutkan, dapat menekan biaya produksi barang dan jasa yang dibebankan kepada masyarakat. "Kalaucostturun, harga otomatis turun. Daya beli masyarakat kembali naik," tandasnya. [agus]

Related posts