Nasib Petani Indonesia

Sungguh tragis nasib petani Indonesia. Hingga sekarang belum mencapai tingkat kesejahteraan sebagaimana yang diharapkan, padahal mereka tulang punggung negeri ini dimana terhampar luas lahan pertanian. Hal ini terkonfirmasi oleh data BPS (Januari 2015) yang mengungkapkan, nilai tukar petani (NTP) nasional dari indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani dan nelayan-pada Desember 2014 hanya sebesar 101,32.

Jelas, angka itu lebih rendah dari target NTP yang dipatok pemerintah selama ini yaitu minimal 110. Itu artinya, tingkat kesejahteraan petani dan nelayan negeri ini masih jauh dari harapan kita semua. Tingkat kesejahteraan mereka cenderung stagnan sepanjang tahun lalu.

Pasalnya, data NTP Desember 2014 ternyata masih lebih rendah dari NTP Januari 2014 yang tercatat 101,95. Jadi, kita jangan heran bila kemiskinan tetap berkutat di pedesaan, dan sebagian besar petani serta nelayan negeri ini masih terkungkung dalam kondisi hidup serba kekurangan alias miskin.

Lebih miris lagi saat Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, kerusakan irigasi di Indonesia saat ini rata-rata mencapai 52%, dengan total kerusakan sekitar 3,3 juta hektar lahan dari total 7,3 juta hektar lahan.

"Kami telah cek di lapangan, ke 18 provinsi, 60 kabupaten. Bahkan kerusakan irigasi di Sumatera Utara mencapai 80 persen, dan di Aceh 60 persen. Rata-rata kerusakan irigasi di seluruh Sumatera mencapai 50 persen. Ini yang menyebabkan produksi padi kita turun,” kata Amran di DPR-RI, Rabu (21/1).

Sangat beralasan jika kerusakan irigasi tersebut berkontribusi terhadap penurunan produksi padi hingga 4,5 juta ton per tahun. Akibat irigasi tersebut mengalami kerusakan, maka membutuhkan waktu rehabilitasi selama 20 bahkan hingga 30 tahun lamanya.

Ironisnya lagi, target produksi padi pada 2015 cuma bisa tercapai 73 juta ton, atau naik 3 ton dibandingkan tahun lalu yang mencapai 70 juta ton, itu pun sudah berkurang satu juta ton dibanding 2013.

Kita tentu prihatin sebagian besar petani khususnya subsektor tanaman pangan (padi dan palawija) hingga kini masih sulit meraih kesejahteraan yang wajar, karena pendapatan mereka yang pas-pasan. Ini ditengarai oleh rendahnya tingkat kesejahteraan akibat nihilnya tingkat profitabilitas kegiatan usaha tani tanaman pangan.

Hal itu tecermin dari hasil Survei Usaha Tanaman Padi dan Palawija 2014 (SPD/SPW-2014) yang dirilis BPS pada akhir 2014, bahwa rata-rata keuntungan yang diperoleh petani dari mengusahakan satu hektare padi sawah dan jagung masing-masing hanya sebesar Rp 4,5 juta dan Rp 2,9 juta per musim tanam. Sedangkan dari mengusahakan satu hektare tanaman kedelai, petani justru merugi.

Celakanya, sebagian besar petani tanaman pangan mengelola lahan pertanian kurang dari satu hektare. Hasil Sensus Pertanian 2013 memperlihatkan, jumlah petani yang mengelola lahan pertanian di bawah 0,5 hektare (gurem) mencapai 14,25 juta rumah tangga, atau mencakup 55,33% dari total jumlah rumah tangga pertanian pengguna lahan. Rata-rata penguasaan lahan sawah bahkan hanya 0,2 hektare per rumah tangga. Akibatnya, efisiensi usaha tani relatif rendah dan skala usaha tani yang menguntungkan sulit dicapai. Ini tantangan buat pemerintah ke depan.

Related posts