OCBC Genjot Pendapatan Dari Kartu Kredit

NERACA

Kemudahan dan cara yang praktis untuk melakukan pembayaran, membuat minat uang kartu atau kartu kredit setiap tahunya terus mengalami peningkatan. Seperti halnya PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC NISP) mematok pertumbuhan jumlah kartu kredit sebesar 30-40% pada 2015.

Pertumbuhan pengguna kartu kredit ini bisa dilihat dari, pada tahun ini traksaksi kartu kredit sangat positif selama 2014. Padahal, dari sisi aturan Bank Indonesia (BI) melakukan beberapa pengetatan mulai awal 2015.

“Target tahun depan tidak boleh turun dari sekarang. Jumlah kartu kredit tumbuh 30-40%. Untuksales volume,boleh dibilang mengikuti pertambahan jumlah kartu kita,” ujar Kepala DivisiUnsecured LoanOCBC NISP, Meri Ui.

Mulai 1 Januari 2014, BI sebagai regulator sistem pembayaran di Tanah Air mulai memberlakukan aturan pembatasan kepemilikan kartu kredit. Di mana bagi nasabah berpenghasilan di kisaran Rp3 juta hingga Rp10 juta, tak diperbolehkan memiliki jumlah kartu lebih dari empat keping dari dua penerbit.

Aturan pembatasan kepemilikan kartu kredit oleh BI sendiri membuat industri kartu kredit sedikit pesimis. Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) bahkan memproyeksi pertumbuhan jumlah kartu hanya akan sebesar 5% pada tahun ini. Namun, OCBC NISP masih mampu mencatatkan pertumbuhan jumlah kartu sebesar 32% secara setahunan per September 2014.

“Dari sisi jumlah kartu bisa tumbuh di angka 32%. Jumlah kartu 130 ribuan per September, tapi akhir tahun (2014) tidak akan bertambah signifikan,” tukas Meri.

Ia menjelaskan, dari jumlah tersebut sekitar 85% merupakan kartu platinum bagi nasabah berpenghasilan minimal Rp10 juta, sedangkan sisanya sekitar 15% merupakan kartu titanium yang diperuntukkan bagi nasabah berpenghasilan minimum Rp6 juta. Ke depan, aku Meri, pihaknya akan tetap fokus menyasar segmen kelas menengah ke atas.

“Targetmarkettidak akan berubah. Ada 1-2 hal bisa kita coba berikan kartu kredit kepada nasabah yang berpotensi diberi kartu kredit. Kita tetap mitigasi risikonya. Fokus tidak akan banyak berubah tahun depan, tetapemerging affluentdanaffluent,” tutupnya.

BERITA TERKAIT

Implementasi T+2 Berlaku November - Genjot Transaksi Saham

NERACA Jakarta- Semangat inovasi untuk melakukan kemudahan dalam bertransaksi terus dilakukan PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Teranyar, BEI siap menerapkan…

Star Energy Pasok Pendapatan BRPT 50%

NERACA Jakarta - PT Barito Pacific Tbk (BRTP) mulai menuai hasil pasca mengakuisisi Star Energy Group Holding Pte Ltd. Pasalnya,…

BTN Kucurkan Kredit KPR Untuk PNS Lebak - Dukung Pengembangan Maja

NERACA Jakarta – Geliat pembangunan properti di kawasan Maja yang terus tumbuh pesat, hal tersebut tentunya menjadi potensi dan peluang…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…