Jebakan Kelas Menengah

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang belakangan mengalami perlambatan patut diwaspadai menghadapi sejumlah tantangan untuk mencapai sebuah tahapan ekonomi pada 2015-2016. Pasalnya, Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan global periode 2015-2016. Pemotongan proyeksi itu berkaitan dengan kondsi ekonomi di Tiongkok, Rusia, kawasan Eropa, Jepang, dan negara produsen minyak lainnya.

Dalam World Economic Outlook (WEO) Update yang diterbitkan pekan ini, IMF memproyeksikan ekonomi dunia akan tumbuh sebesar 3,5% tahun ini. Sedangkan untuk 2016 diproyeksikan tumbuh 3,7%. Angka itu menurun, dibanding proyeksi yang dikeluarkan IMF pada Oktober 2014 sebesar 3,8% (2015) dan 4% (2016).

Menghadapi ekonomi global tersebut, tantangan Indonesia dalam mentransformasi industrinya perlu memperbaiki kekurangan dalam infrastruktur, pengembangan sumber daya manusia, hingga memperkuat pemerintahan daerah. Karena negeri ini tidak bisa bertahan dengan kondisi ekonomi yang sekarang ini sekalipun cukup baik dengan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,2%-5,6% pada dua tahun mendatang.

Sebelumnya Bank Pembangunan Asia (ADB) pernah memaparkan, sebuah kesalahan dalam melakukan perubahan bisa membuat Indonesia terjebak dalam perangkap kelas menengah (a middle income trap), yaitu kondisi negara dengan ekonomi kelas menengah tidak lagi bisa bersaing dengan negara berpenghasilan rendah, yang buruk dalam hal sumber daya manusia, teknologi, dan infrastruktur sehingga sulit untuk mencapai status negara maju berpenghasilan tinggi.

Apalagi jika dikaitkan dengan “mimpi” target Indonesia menjadi negara dengan ekonomi terkuat ketujuh di dunia pada 2030, apakah akan menjadi kenyataan nanti? Ini perlu kajian lebih mendalam lagi terhadap struktur perekonomian di Indonesia.

Pada kenyataannya, negeri ini masih butuh penguatan infrastruktur, ketahanan pangan dan sistem perlindungan sosial, agar pembangunan makin produktif. Hanya masalahnya, salah satu indikasi pembengkakan jumlah kelas menengah yang signifikan dari 81 juta orang (2002) menjadi hampir 150-an juta orang pada 2013 dinilai belum produktif. Jumlah kelas menengah di Indonesia semakin membengkak sebab bertambah 7 juta per tahun, dan bersifat masih konsumtif.

Bagaimanapun, jumlah kelas menengah sekarang mencapai 131 juta orang atau 56,5% dari total penduduk Indonesia. Kategori kelas menengah, menurut versi Bank Dunia, adalah mereka yang membelanjakan uangnya antara US$2 hingga US$20 per hari. Jadi, Indonesia jangan terlena dengan kondisi seperti ini.

Bila menyimak pengalaman dari 101 negara berpendapatan menengah pada 1960, ternyata hanya 13 negara yang kini berhasil menjadi negara maju. Selebihnya terperangkap dalam jebakan kelas menengah, alias tidak maju-maju. Apakah Indonesia ingin mengalami nasib sama seperti itu?

Kondisi middle income trap adalah sebuah keadaan kondisi negara berpendapatan menengah (middle-income countries) yang “terjebak” di posisinya dan tidak bisa melakukan lompatan lebih jauh untuk meningkat menjadi negara maju.

Menurut kajian ADB, ada tiga faktor yang menyebabkan sebuah negara terperangkap dalam jebakan kelas menengah. Yaitu negara yang gagal dalam memberikan perlindungan sosial, gagal dalam membangun infrastruktur, dan gagal membangun kemandirian pangan.

Bagaimanapun, kita mengakui masih ada 70 juta orang Indonesia yang berada dalam posisi rentan menjadi miskin jika program perlindungan sosial gagal dijalankan. Untuk itu, program kredit usaha rakyat (KUR) dan program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) Mandiri, merupakan upaya pemerintah mengentaskan kemiskinan ke depan perlu terus mendapat perhatian pemerintahan Jokowi-JK.

Karena tak ada cara lain jika Indonesia ingin lolos dari jeratan middle income trap, maka jalan terbaik adalah mendorong pemberdayaan golongan masyarakat menengah ke berbagai hal yang produktif dan mempercepat laju pembangunan infrastruktur serta memperkuat ketahanan pangan di dalam negeri. Semoga!

Related posts