Pemerintah “Pede” Ekonomi Capai 5,8% - Sesuai Target

NERACA

Jakarta - International Monetary Fund (IMF) memangkas target pertumbuhan ekonomi global. Hal ini lantaran perekonomian global masih akan menghadapi beberapa tantangan besar. Meski demikian, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengaku masih optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,8 persen, sesuai dengan target pemerintah tahun 2015 . "Selalu kan, pokoknya kita upaya dengan menjaga konsumsi dan fokus di investasi," katanya di Jakarta, Selasa (20/1).

Dia mengatakan, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di 2015, Indonesia bisa memanfaatkan investasi dan anggaran belanja pemerintah. "Jadi 2015 ini baik investasi dari PNM maupun belanja bisa dioptimalkan plus belanja pemerintah ya di situlah kita berupaya supaya pertumbuhan tercapai," tuturnya.

Pada kesempatan sebelumnya, pengamat ekonomi Fauzi Ihsan mengungkapkan, Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan diperkirakan akan terhambat. Hal ini dikarenakan adanya potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Central Amerika (the Fed).

Menurutnya, langkah the Fed diprediksi bakal mempersulit Pemerintah dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8 persen. Selain itu, memasuki semester II dampak BBM sudah mulai menghilang, dikarenakan adanya pembangunan infrastruktur dari dana penghematan subsidi.

"Melihat pertumbuhan ekonomi 2014 pada angka 5,1 persen, maka 2015 di proyeksi 5,2 persen. Kita juga harus ingat karena pertumbuhan ekonomi sulit 5,5 persen karena adanya prediksi Bank Central Amerika akan menaikan suku bunganya, di semester kedua 2015," ungkap Fauzi.

Akibat kenaikan suku bunga tersebut, lanjut dia, bisa membuat Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuannya. Hal ini harus dilakukan, agar tidak ada pelarian modal dari dalam ke luar.

"Itu akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tapi, target pertumbuhan ekonomi pemerintah bisa tercapai kalau bank sentral Amerika tidak menaikkan suku bunganya," tandasnya.

Hal senada juga pernah disampaikan oleh Direktur Indef Enny Sri Hartati menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan bakal sulit mencapai target yang ditetapkan dalam APBN 2015 yaitu 5,8%. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi tahun depan diperkirakan masih di kisaran 5,3%-5,6% dengan berbagai kemungkinan situasi ekonomi ke depan.

"Pertumbuhan ekonomi tahun depan sekitar 5,3% ini terjadi karena situasi business as usual, di mana situasi kinerja ekonomi nasional pada 2014 berlanjut ke 2015. Artinya, pemerintah baru belum mampu keluar dari tekanan perekonomian domestik dan ketidakpastian global pada tahun depan," katanya.

Menurut Enny, angka batas bawah pertumbuhan tersebut juga menggambarkan situasi jika kehadiran pemerintahan baru belum mampu membawa perubahan yang berarti di bidang ekonomi. Sementara itu, batas atas 5,6% itu merupakan cermin kondisi terjadinya perbaikan di awal pemerintahan baru, di mana kehadiran dan kebijakan pemerintah baru direspon positif oleh seluruh pelaku ekonomi di Indonesia.

" Jika pemerintah mampu menarik investor asing. Maka akan terpenuhi harapan terjadinya pemulihan ekonomi sejak awal tahun depan. Jadi optimisme pertumbuhan itu akan tercapai apabila ada konsistensi kebijakan ekonomi pemerintah baru, itu pun tidak signifikan masih di level 5,6%, masih di bawah target pemerintah sebesar 5,8%,” ujarnya.

Namun begitu, menurut dia, dengan respon Bank Indonesia (BI) yang terlalu reaktif untuk menanggapi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi dengan langsung menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 7,75%, hingga akhir tahun ini maka menjadikan ekonomi semakin tertekan. [agus]

Related posts