Daya Saing Perlu Dijaga

Di tengah perjalanan ekonomi domestik yang memprihatinkan saat ini, Indonesia perlu terus menjaga kepercayaan pasar terhadap kredibilitas ekonomi mengingat kita memiliki bukti ketangguhan saat krisis melanda dunia di waktu lalu. Salah satu fakta adalah pertumbuhan ekonomi negeri ini pernah mencapai angka tertinggi di Asia Pasifik, yakni 6,3%, setelah China yang menggapai 7,5%.

Sebab, dalam kondisi seperti ini kita perlu komitmen terlebih bila dikaitkan dengan sensitivitas terkait beberapa isu strategis jelang kenaikan suku bunga The Fed dan perlambatan ekonomi global. Indonesia sekarang berada dalam satu kurva siklus bisnis dengan ekspansi yang tumbuh cepat kini mulai melambat. Padahal, produk domestik bruto (PDB) per kapita negeri ini sudah mencapai US$3.500 saat ini.

Hal ini bisa ditunjukkan dengan pesatnya pertumbuhan shopping centre, hypermarket, mal, dan minimarket di berbagai kota, termasuk bisnis online. Kinerja investasi pun terus meningkat. Membaiknya iklim investasi dan iklim berusaha tercermin dari arus langsung investasi (foreign direct investment) dengan indikator antara lain, peningkatan kredit investasi, impor barang modal, dan bahan baku/penolong, serta penjualan semen di dalam negeri.

Namun berdasarkan data Bank Indonesia, adanya penurunan indeks keyakinan konsumen dan penurunan nilai saldo bersih tertimbang pada kuartal IV-2014 yang mencerminkan kondisi pelemahan ekonomi sedang terjadi di negeri ini, kita perlu menjaga, bahkan meningkatkan daya saing produk ekspor utama dan iklim kondusif untuk investasi yang rawan terhadap gejolak akibat pengaruh ekonomi global ke depan.

Karena itu, program Nawa Cita termasuk pembangunan infrastruktur dan kepastian hukum di Indonesia perlu terus ditingkatkan. Bagaimanapun, potensi besar konsumsi dalam negeri yang ada sekarang perlu dimanfaatkan dengan baik untuk menjaga dan mempertahankan kesinambungan ekonomi Indonesia, walau proyeksi pertumbuhan ekonomi 2015 masih di sekitar 5,5%-5,8%.

Adalah penting untuk mendapatkan perhatian serius pemerintahan Jokowi-JK, pentingnya lebih meningkatkan daya saing ekonomi guna menghadapi perlambatan perekonomian dunia dan persaingan global yang makin ketat. Perlu mengembangkan potensi besar perekonomian domestik. Ada baiknya pemerintah terus mendorong investasi, baik dari dalam maupun luar negeri. Untuk mendorong produktivitas ekonomi, pemerintah juga harus mempercepat pembangunan infrastruktur guna memperkuat konektivitas nasional, ketahanan energi sekaligus pangan.

Peningkatan daya saing nasional juga terkait sektor produksi, terutama industri pertanian, dan pariwisata. Pembangunan industri perlu terus didorong guna mendongkrak nilai tambah berbagai komoditas unggulan dari berbagai wilayah Indonesia, yang sekaligus mampu menciptakan perluasan kesempatan kerja, terutama tenaga kerja usia muda, sebagai potensi meningkatkan daya saing perekonomian nasional di kawasan ASEAN.

Pemerintah tidak boleh cukup puas hanya dengan memiliki keunggulan komparatif. Namun secara bertahap kita harus melakukan transformasi dengan cara mengubah keunggulan komparatif itu menjadi keunggulan kompetitif. Pemerintah perlu melakukan upaya itu guna meningkatkan nilai tambah dari setiap produk unggulan yang ada di wilayah negeri ini.

Sangat rasional dan terukur, jika kebijakan akselerasi industrialisasi bertujuan menumbuhkan industri berbasis hasil tambang, industri pengolah hasil pertanian, industri berbasis SDM (padat karya) dan penyedia kebutuhan pasar domestik, setidaknya mampu mendongkrak kemajuan industri kecil dan menengah (IKM) yang kuat, sehat, dan mandiri. Dan tidak kalah pentingnya meningkatkan pembangunan klaster industri di seluruh Indonesia. Semoga!

Related posts