Tantangan Berat Ekonomi 2015

Indonesia menghadapi tantangan berat kondisi ekonomi global pada tahun ini. Pasalnya, Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk ketiga kalinya pada 2014. Dalam laporan bertajuk World Economic Outlook, lembaga donor itu memangkas proyeksi pertumbuhan global menjadi 3,3% pada 2014 dari sebelumnya 3,4%.

Sementara Bank Dunia lebih konservatif dengan proyeksi pertumbuhan 3,4% pada tahun depan. Proyeksi IMF dan Bank Dunia mencerminkan optimisme lembaga donor tersebut bahwa kondisi perekonomian global tahun depan akan lebih baik dari tahun ini. Proyeksi tersebut didasarkan pada seberapa cepat negara-negara kaya akan mampu melepaskan diri dari jerat utang dan tingkat pengangguran yang tinggi selama krisis finansial global pada 2007-2009.

Terhadap ekonomi Indonesia, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia semula 5,6% kemudian direvisi menjadi 5,3%. Untuk tahun 2014 sendiri, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia diturunkan dari 5,2% menjadi 5,1%.

Kinerja perekonomian nasional memang diakui Menkeu Bambang PS Brodjonegoro, belum menggembirakan pada tahun lalu. Sepanjang 2014 total sementara penerimaan negara sebesar Rp1.537,2 triliun, atau 94% dari target untuk penerimaan negara awalnya Rp1.635,4 triliun. "Banyak angka yang lebih rendah dari targetnya. Hampir semuanya dari jenis-jenis penerimaan dan terutama untuk perpajakan, itu lebih rendah," ujarnya di Jakarta, Senin (5/1).

Apalagi ancaman defisit perdagangan dan defisit transaksi berjalan (current account) masih cukup besar, setidaknya belum ada kemajuan berarti pada tahun ini. Belum lagi laju inflasi yang ditargetkan pemerintah di kisaran 4%-5% masih dipertanyakan banyak pihak untuk mendukung pertumbuhan ekonomi negeri ini.

Dari sisi eksternal, ekonomi Indonesia pada tahun ini masih dibayangi oleh kebijakan bank sentral AS (The Fed), yang konon akan menaikkan suku bunga acuan Fed Funds Rate sekitar semester II-2015. Kebijakan The Fed ini menjadi fokus perhatian para investor dan banyak negara, karena membaiknya perekonomian AS belakangan ini.

Situasi perekonomian global lainnya yang sangat berpengaruh terhadap Indonesia, adalah melambatnya permintaan sejumlah komoditas Indonesia dari negara mitra seperti Tiongkok, Jepang dan Eropa, sehingga berdampak pada penurunan hasil devisa ekspor komoditas utama Indonesia antara lain batu bara, CPO, dan karet.

Sementara itu, harga minyak mentah yang turun drastis berdampak positif bagi Indonesia karena posisi Indonesia sebagai negara net oil importer. Tapi di sisi lain hal itu punya dampak negatif terhadap penerimaan negara yang terkait dengan minyak. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia dapat ditingkatkan dari level 5,1% pada tahun depan, asalkan didukung oleh peningkatan investasi dan ekspor manufaktur.

Karena itu, kondisi internal dan eksternal ekonomi domestik menjadi tantangan bagi pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Apalagi pemerintah sudah bertekad mempermudah segala bentuk perizinan usaha agar iklim usaha menjadi lebih kondusif. Dana penghematan dari subsidi BBM ini akan menjadi pendorong perekonomian Indonesia tahun depan jika dialihkan untuk proyek-proyek yang lebih produktif. Belanja pemerintah tahun depan untuk pembangunan infrastruktur juga akan membaik. Kita juga berharap reformasi struktural yang akan dijalankan pemerintahan Jokowi dapat terus mendorong pertumbuhan ekonomi tahun depan. Semoga!

Related posts