IHSG Terbuka Lanjutkan Penguatan

NERACA

Jakarta – Diluar perkiraan, perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin awal pekan di tahun 2015, laju indeks harga saham gabungan (IHSG) seharian terkoreksi. Bahkan mengakhiri perdagangan, IHSG ditutup melemah 22,774 poin (0,43%) ke level 5.219,995. Sementara Indeks LQ45 ditutup terpangkas 4,860 poin (0,54%) ke level 898,270.

Kata analis PT Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi Joe, sentimen dari negatifnya data makro ekonomi domestik kembali menjadi faktor utama indeks BEI mengalami koreksi,”Koreksi indeks BEI juga karena posisinya di level 5.200 poin juga dinilai sudah cukup tinggi sehingga sebagian investor cenderung melakukan ambil untung, apalagi kondisi bursa eksternal juga tidak lebih baik,”ujarnya di Jakarta, Senin (5/1).

Kemudian terkoreksinya indeks BEI juga diperburuk sentiment dari bursa saham eksternal. Menurut dia, negatifnya mayoritas bursa saham global itu akibat ramalan kenaikan suku bunga AS yang masih cukup kuat seiring dengan laju ekonomi AS yang masih dalam jalur perbaikan.

Sementara itu, analis HD Capital Yuganur Wijanarko mengatakan bahwa walaupun IHSG BEI terkena imbas aksi jual akibat dampak dari bursa regional, namun ruang penguatannya masih cukup terbuka,”Kami melihat potensi indeks BEI untuk kembali masuk ke dalam tren 'bullish' menuju level 5.251 poin masih berlanjut," kata Yuganur.

Perdagangan kemarin, aksi ambil untung banyak dilakukan investor asing. Transaksi investor asing hingga sore terpantau melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 144,229 miliar di seluruh pasar. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 224.550 kali dengan volume 6,465 miliar lembar saham senilai Rp 5,509 triliun. Sebanyak 107 saham naik, 179 turun, dan 94 saham stagnan.

Nilai dan volume perdagangan di lantai bursa sedikit meningkat gara-gara transaksi tutup sendiri (crossing) saham PT Acset Indonusa Tbk (ACST) di pasar negosiasi senilai Rp 650 miliar. Transaksi tersebut difasilitasi Broker Mandiri Sekuritas. Bursa-bursa di Asia rata-rata menutup perdagangan awal pekan dengan melemah akibat aksi ambil untung. Hanya pasar saham Tiongkok yang bisa menghijau.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.900 ke Rp 63.700, Mayora (MYOR) naik Rp 1.800 ke Rp 23.100, Impack (IMPC) naik Rp 750 ke Rp 5.850, dan Bank of India (BSWD) naik Rp 315 ke Rp 1.590. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain SMART (SMAR) turun Rp 1.100 ke Rp 7.100, Maskapai Reasuransi (MREI) turun Rp 755 ke Rp 4.225, Buana Finance (BBLD) turun Rp 465 ke Rp 1.410, dan Samudera Indonesia (SMDR) turun Rp 450 ke Rp 14.200.

Perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup anjlok 34,600 poin (0,66%) ke level 5.208,169. Sementara Indeks LQ45 jatuh 7,388 poin (0,82%) ke level 895,742. Seluruh indeks sektoral kompak melemah akibat aksi jual ini. Koreksi terdalam dialami oleh saham-saham komoditas.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 120.792 kali dengan volume 3,088 miliar lembar saham senilai Rp 3,175 triliun. Sebanyak 89 saham naik, 168 turun, dan 86 saham stagnan. Bursa-bursa regional rata-rata berhasil menanjak ke zona hijau pada siang dan hanya pasar saham Singapura yang masih ketinggalan di zona merah.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Impack (IMPC) naik Rp 1.000 ke Rp 6.100, Mayora (MYOR) naik Rp 625 ke Rp 21.925, Bank of India (BSWD) naik Rp 315 ke Rp 1.590, dan Blue Bird (BIRD) naik Rp 250 ke Rp 9.700. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.050 ke Rp 60.750, SMART (SMAR) turun Rp 650 ke Rp 7.550, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 475 ke Rp 67.525, dan Buana Finance (BBLD) turun Rp 465 ke Rp 1.410.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka melemah 13,08 poin atau 0,25% menjadi 5.229,68 seiring dengan mayoritas bursa saham di kawasan Asia, sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 3,31 poin (0,37%) ke level 899,81,”Mayoritas bursa saham di kawasan Asia bergerak melemah termasuk IHSG BEI seiring dengan kekhawatiran investor terhadap perekonomian global setelah sejumlah data manufaktur di negara-negara maju melambat," kata Kepala Riset Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada.

Dari dalam negeri, lanjut dia, rilis data-data makroekonomi Indonesia yang telah dipublikasikan pada akhir pekan lalu juga tidak begitu baik dimana neraca perdagangan kembali defisit dan meningkatnya inflasi di atas perkiraan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan November 2014 mengalami defisit US$ 420 juta. Sementara inflasi Desember 2014 mencapai 2,46%, lebih tinggi dari perkiraan Bank Indonesia (BI) yang sebesar 2,1-2,2%.

Kendati demikian, Reza Priyambada mengatakan bahwa harga BBM bersubsidi yang diturunkan diharapkan dapat menjaga inflasi ke depan. Pemerintah telah menurunkan harga BBM subsidi untuk premium menjadi Rp7.600 per liter, dan solar Rp7.250 per liter mulai 1 Januari 2015 pukul 00.00 WIB, menyusul penurunan harga minyak dunia.

Bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka melemah 161,14 poin (0,68%) ke level 23.696,68, indeks Nikkei turun 185,17 poin (1,06%) ke level 17.265,60 dan Straits Times melemah 24,76 poin (0,73%) ke posisi 3.345,83. (bani)

Related posts