Menjadi Terdepan di Dunia

Oleh: Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Tahun 2015 menjadi tahun yang penuh banyak harapan bagi setiap pelaku usaha dan termasuk investor pasar modal. Hal ini didasarkan tahun ini menjadi tahun yang penuh tantangan bagi pelaku pasar modal, lantaran prediksi pemerintah bila pertumbuhan ekonomi akan berjalan lambat seiring dengan kebijakan The Fed yang bakal menaikkan suku bunga, sehingga berpotensi terjadi arus balik modal asing ke negaranya atau "pulang kampung".

Menurut manajemen Bursa Efek Indonesia (BEI), tantangan terbesar yang dihadapi pasar modal Indonesia adalah pertumbuhan ekonomi serta keadaan makro ekonomi yang dipatok tinggi oleh pemerintah. Namun disamping itu, faktor pengembangan investor dan emiten juga menjadi tantangan guna meningkatkan daya saing pasar modal menghadapi pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Di tahun lalu bisa menjadi gambaran dan refleksi bagi pelaku pasar dan otoritas pasar modal untuk mempersiapkan tahun ini untuk lebih matang dan terencana, baik itu bicara pengembangan pasar modal, target investor, aturan baru, hingga target jumlah emiten yang bakal listing di pasar modal. Tentunya orang yang bijak adalah orang yang mau belajar dari pengalaman dan bukan sebaliknya terjebak kedua kali dari pengalaman pahit dari tahun lalu.

Banyak harapan dari masyarakat agar industri pasar modal bisa mudah diakses sebagai alternatif pembiayaan selain investasi. Maka tak ayal, peningkatan liternasi keuangan terus di galakkan dengan target investor muda atau investor pasar modal lebih agresif lagi. Apalagi, pihak BEI tahun ini menargetkan jumlah investor baru bisa menembus angka 100 ribu. Target itu akan direalisasikan dengan menggandeng berbagai pihak seperti manajemen aset dan anggota bursa. ‎

Bicara target investor baru tidak hanya berjalan dengan sendiri, tetapi perlu kerjasama dengan anggota bursa guna mengoptimalkan kampanye sadar pasar modal atau yang telah digalakkan "Gerakan Cinta Pasar Modal Indonesia". Tantangan lainnya, bagi industri pasar modal adalah pengembangan pasar modal syariah yang saat ini belum maksimal. Padahal Indonesia sebagai mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia, sejatinya sudah lebih dulu ramai mengembangkan industri keuangan syariah dan termasuk pasar modal syariah.

Faktanya di lapangan, saat ini pengembangan pasar modal syariah belum tumbuh signifikan dibandingkan dengan pasar modal konvensional. Padahal, bila digarap serius, ini merupakan pasar yang menjanjikan. Meskipun demikian, lambat tapi pasti, saat ini pasar modal syariah di dalam negeri mengalami perkembangan yang cukup signifikan bila di lihat dari jumlah investornya.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan, sampai pertengahan Desember 2014, jumlah investor syariah meningkat 190,7% menjadi 2.334 investor, jika dibandingkan raihan di akhir 2012 yang hanya mencapai 803 investor. Bahkan diklaim, peningkatan investor syariah cukup tinggi ini sudah terjadi dua tahun belakangan ini. Disamping itu, pasar modal syariah Indonesia menjadi yang pertama di dunia yang memiliki sertifikasi Syariah Online Trading System (SOTS) dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI).

Banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk pengembangan pasar modal untuk menjadi terdepan di regional hingga di dunia. Tentunya, dengan semangat bekerja dan bekerja tidak tertutup kemungkinan pasar modal di Indonesia baik konvensional dan syariah bisa menjadi terpengaruh di dunia.

BERITA TERKAIT

Industri Komponen Minta Kepastian Pasok Kebutuhan Mobil Listrik - Dunia Usaha

NERACA Jakarta -  Perkumpulan Industri Kecil-Menengah Komponen Otomotif (PIKKO) Indonesia meminta Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melibatkan 122 perusahaan kecil anggotanya dalam…

Perubahan Tata Kelola Hutan Era Jokowi Disampaikan ke Dunia

Perubahan Tata Kelola Hutan Era Jokowi Disampaikan ke Dunia NERACA Roma – Di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, kebijakan sektor…

ICDX Berambisi Masuk 10 Besar Bursa di Dunia - Agresif Luncurkan Kontrak Baru

NERACA Jakarta – Seiring dengan pulihnya harga komoditas dunia, mendorong Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) menargetkan transaksi lebih besar…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Evolusi Kebijakan Kemiskinan di Indonesia

  Oleh: Dhenny Yuartha Junifta Peneliti INDEF   Pekan lalu, BPS merilis angka kemiskinan per Maret yang turun menjadi 9,82…

Nasib Perang Dagang AS-China

  Oleh: Izzudin Al Farras Adha Peneliti INDEF   Perang dagang AS-China yang ramai sejak awal tahun ini terus berlangsung…

Membangun Industri Substitusi Impor

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Dengan gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang tembus pada…