Mendatangkan Kepercayaan Dari Orang Lain - Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo, Dosen PTN

Seseorang yang sudah berhasil dipercaya oleh orang lain, maka apa saja yang diinginkan akan bisa diraih dengan mudah. Sebaliknya, orang yang tidak dipercaya, maka di mana saja dan kapan saja akan dicurigai, diawasi, dan bahkan selalu diangap membayahakan. Orang yang tidak dipercaya oleh orang lain, akan menjadi seperti tidak ada harganya.

Oleh karena itu, kepercayaan dianggap menjadi sesuatu yang mahal harganya, tetapi di mana-mana tidak bisa dibeli. Kepercayaan akan diperoleh oleh seseorang, biasanya memerlukan waktu lama dan atas penilain secara obyektif dari orang lain. Seseorang yang sudah berhasil dipercaya oleh lain, maka akan diangkat atau ditunjuk menjadi pemimpin, pejabat, memegang amanah tertentu, dan bahkan juga akan mudah mendapatkan pinjaman apa saja, termasuk uang, jika sedang membutuhkan.

Sebaliknya terhadap orang yang tidak dipercaya, mereka masih harus dicurigai, dimintai berbagai dokumen, curriculum vitay, saksi, rekomendasi, dan berbagai jenis buktiu lainnya bahwasanya ia adalah orang yang terpercaya. Kepercayaan memang benar-benar mahal harganya dan sulit diperoleh. Orang yang sekolah hingga bertahun-tahun menempuh berbagai jenis jenjang pendidikan, namun tidak secara otomatis mendapatkan indentitas sebagai orang yang terpercaya.

Disebutkan bahwa, termasuk salah satu pintu sukses orang dalam berbisnis, adalah trust atau kepercayaan itu. Orang yang sudah dipercaya, maka tatkala berbisnis akan segera mudah memperoleh pelanggan, pinjaman modal, dan banyak kedatangan rekan bisnis yang akan menopang keberhasilan usahanya. Sebaliknya, bagi orang yang tidak dipercaya, maka akan mengalami kesulitan, geraknya akan terbatas, dan bahkan akan selalu dijauhi oleh orang lain.

Namun, kekayaan yang tampaknya tidak serta merta datang dari pihak lain dan sebaliknya, justru datang dari dirinya sendiri itu, ternyata tidak selalu mendapatkan perhatian serius. Kesadaran bahwa trust atau kepercayaan itu adalah penting sekali, ternyata tidak selalu dimiliki oleh setiap orang Bahkan kadang juga aneh, orang lain diharapkan mempercayai dirinya, sementara itu dirinya sendiri saja belum terlalu mempercayainya.

Orang yang dimaksudkan tidak mempercayai dirinya sendiri itu biasanya disebut sebagai orang yang tidak percaya diri. Mungkin saja, mereka juga tidak mengetahui atau menyadari bahwa selama ini dirinya sedang berpenyakit tidak percaya diri itu. Ketahuannya, tatkala tampil di muka umum untuk berceramah, atau mempresentasikan makalah dalam berdikusi atau seminar, ia menjadi gugub atau nerves. Begitu pula, ketika ia bertemu dengan orang yang ia anggap lebih tua, lebih pintar, dan lebih berwibawa, maka kreatifitas dan kepintarannya seolah-olah menjadi hilang. Gambaran yang demikian itu, sebagai pertanda, bahwa orang tersebut belum mempercayai dirinya sendiri.

Oleh karena itu, agar orang lain memberikan kepercayaan, maka seharusnya seseorang berusaha keras untuk membangun mental percaya diri. Bagaimana orang lain diharapkan mempercayainya, sementara itu dirinya sendiri saja tidak mempercayainya. Maka pelatihan, dialog batin, memperbanyak pengalaman, berusaha tampil sempurna dalam berbagai hal, semua itu harus dilakukan dari waktu ke waktu. Sekedar mempercayai diri sendiri, kadang tidak mudah. Bahkan orang lain sudah terlanjur percaya, ternyata yang bersangkutan sendiri masih takut dan khawatir salah.

Itulah sebabnya memimpin diri sendiri, perang melawan diri sendiri, dan tidak terkecuali mempercayai diri sendiri jauh lebih sulit daripada memimpin orang lain, memerangi musuh di luar dirinya, dan juga mendatangkan kepercayaan dari orang lain. Atas dasar keyakinan bahwa kepercayaan atau trust itu amat penting, maka seharusnya kepercayaan dirawat, dipelihara, dan dibangun dari waktu ke waktu.

Nabi Muhammad sejak sebelum diangkat menjadi rasul dikenal sebagai orang yang terpercaya, ia tidak pernah berbohong hingga masyarakat jahiliyah, kaum Quraisy Arab, memberikan kepadanya sebutan al amien, yang artinya selalu dapat dipercaya. Ternyata hingga sekarang, gelar atau trust itulah yang menjadi kunci utama sukses dalam berbagai hal, termasuk dalam berbisnis atau usaha kebaikan apa saja. Wallahu a'lam. (uin-malang.ac.id)

BERITA TERKAIT

PUB Obligasi BRI Meleset dari Target - Mempertimbangkan Sisa Waktu

NERACA Jakarta – Mempertimbangkan kondisi pasar yang tidak bakal menyerap seluruh obligasi, PT Bank BRI (BBRI) menyatakan telah menghentikan kegiatan…

BMRS Lunasi 20% Saham DPM Ke Antam - Raih Dana Segar dari NFC China

NERACA Jakarta – Mengantungi dana segar senilai US$ 198 juta dari NFC China, mendorong PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)…

Membangun Indonesia dari Perbatasan Hingga Daerah Terpencil

    Oleh: Mariam Saroon, Pemerhati Sosial Ekonomi Selama Jokowi memimpin bangsa ini, sadar atau tidak banyak sekali pencapaian yang…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Gejolak Persaingan Ekonomi Global vs Cashflow yang Sehat - Studi Kasus Unrealized loss PLN

  Oleh: Sudimara Pati, Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Swasta Belakangan kita diberitakan bahwa Perusahaan Listrik Negara (PT PLN) milik BUMN…

Seberapa Sustain Penguatan Rupiah Lewat Penjualan Obligasi?

Oleh: Djony Edward Tren penguatan rupiah yang super cepat masih menyimpan misteri. Begitu derasnya dana asing masuk dicurigai sebagai hot…

Mencari Akar Ketimpangan

Oleh: Sarwani Problem utama pembangunan Indonesia adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia seperti yang tercantum dalam sila ke-5 Pancasila.…