Operasi Zebra untuk Tertib Lalu Lintas - Oleh: Eka Azwin Lubis, Staf Pusham Unimed dan Aktivis HMI

Dalam beberapa hari terakhir, ba­nyak kita jumpai aparat ke­polisian tengah melakukan razia gabungan un­tuk mener­tibkan pengemudi yang tidak mematuhi aturan lalu lintas. Razia gabungan yang dilakukan oleh polisi satuan lalu lintas yang bekerja­sama dengan pihak DLLAJ dan polisi m­i­liter ini, dalam rangka Operasi Ze­bra yang diadakan secara rutin de­ngan skala nasional untuk men­yam­but pergantian tahun.

Banyak pengemudi liar yang tidak memiliki surat-surat leng­kap, mema­kai helm, atau menghidupkan lampu utama dalam berkendara, terjaring razia karena aparat member­hen­ti­kan se­mua kendaraan yang melintas un­tuk memeriksa keleng­kapan syarat setiap pengemudi.

Perlu diketahui bahwa inilah operasi legal yang harus dila­kukan oleh aparat kepolisian, bukan razia ilegal seperti yang selama ini marak terjadi sehingga kerap mencoreng nama baik institusi Polri.

Kita berharap melalui Operasi Zebra ini, kesadaran ma­sya­rakat da­lam berlalu lintas akan lebih diting­kat­kan. Kese­merawutan lalu lintas agaknya menjadi satu penyakit akut yang sangat sulit dicari obatnya. Bisa kita lihat, angkutan umum yang selama ini menjadi biang kemacetan karena minimnya kesadaran penge­mu­­di­nya untuk tertib berlalu lintas, seo­lah menjadi sesuatu yang luput dari pantauan Polantas.

Belum lagi mental pengemudi kendaraan pribadi yang ma­sih jauh dari nalar modern. Untuk mengulas mental pengemudi kendaraan pribadi ini, saya akan membukanya dengan ungkapan walikota Bolivia yang menyatakan “Negara maju tidak ditandai dengan penduduknya yang be­rada dalam taraf ekonomi mene­ngah ke bawah mengendarai mobil, na­­mun dilihat dari penduduknya yang bertaraf ekonomi menengah ke atas namun tetap mengendarai ang­ku­­tan umum”.

Realitanya, saat ini semua orang Indonesia berlomba untuk me­miliki kendaraan pribadi dan merasa kecil jika harus menum­pang kendaraan umum. Persoalannya adalah mereka yang mengendarai kendaraan pribadi, ke­rap memarkirkan kendaraannya se­suka hati tanpa memikirkan hak orang lain yang terhambat untuk me­lin­tasi jalan akibat kendaraan mereka yang terparkir di bahu jalan.

Persoalan lain yang tak kalah pelik adalah perkembangan za­man yang diikuti dengan perubahan pola ting­kah laku manusia yang tidak selama­nya membawa dampak positif.. Satu hal yang dapat menjadi contoh adalah ketika orang tua yang ingin mengi­kuti trend kekinian dan melepas anak mereka yang belum cukup umur untuk mengemudi ken­da­raan sendiri tanpa dilengkapi surat ijin menge­mu­di dari kepolisian.

Saat ini banyak anak yang di­le­pas­kan oleh orang tuanya un­tuk me­ngen­da­rai sepeda motor, bahkan mobil sen­diri ke sekolah atau tempat lain tan­pa dilengkapi surat ijin dari polisi un­tuk mengendarai kendaraan ber­motor.

Orang tua yang harusnya lebih berperan aktif dalam meng­awa­si dan me­miliki wewenang lebih besar untuk melarang anak mengemudi diusia dini, justru terkesan bangga dengan tingkah anaknya untuk me­nge­m­udi sendiri kendaraan ber­mo­tor yang tidak jarang menimbulkan ke­rugian bagi orang lain aki­bat ulah ugal-ugalan mereka di jalanan.

Bukti dari kebanggaan orang tua da­lam melihat tingkah anaknya me­nge­mudi kendaraan bermotor adalah de­­ngan terus memberikan fasilitas ken­daraan yang dapat digunakan se­suka hati­nya tanpa diiringi penga­wa­san yang ketat sehingga si anak ter­kesan dilepas sendiri dalam me­ra­jai kendaraannya tanpa memperduli­kan dampak apa yang akan terjadi akibat dari ulah anak mereka.

Tentu masih segar dalam ingatan kita kecelakaan maut yang terjadi di tol Jagorawi kilometer 8 menuju ka­wasan Cibubur, Jawa Barat (8/9/2013) yang dilakukan oleh Dul hing­ga mengakibatkan enam orang tewas. Hal itu satu bukti kepada kita bahwa pe­ngemudi berusia dini kerap me­ngun­dang petaka ketika orang tua le­pas kontrol atas ulah anak dalam me­nge­mudikan kendaraannya.

Fenomena tentang pengemudi muda yang tidak kalah me­malukan juga sempat kita dengar ketika se­orang pengemudi mobil jenis Honda Jazz yang masuk ke lintasan bus way untuk menghindari macetnya jalanan kota Jakarta. Pemuda bodoh itu yang barang kali punya keyakinan bahwa jalanan ibu kota termasuk jalur bus way adalah milik moyangnya sehing­ga dapat sesuka hati dilalui, harus ter­jebak karena ada portal yang meng­ha­langi laju mobilnya. Bus way yang da­tang dari bela­kang semakin mem­buat suasana menjadi ricuh.

Merasa tersudut pemuda tersebut tu­run dan menghampiri pe­tugas pen­jaga portal yang tidak mau mem­bu­ka­kan portal agar dia dapat lewat. De­ngan nada sinis pemuda tersebut me­nye­butkan bahwa dia adalah anak se­orang Jenderal. Tidak tau apa mak­sud pemuda lugu alias goblok terse­but menye­but­­kan pangkat bapaknya, na­mun perbuatannya membuka mata kita bahwa di negara ini agaknya ma­sih ada perlakuan khusus yang dite­ri­ma oleh pejabat dan ke­luarga­nya se­hing­ga kerap dijadikan jurus andalan un­tuk menghindari aturan hukum yang ada.

Masih seputar aksi pengemudi ama­tir yang sesuka hati mengendarai mobil dan barang kali tidak dilengkapi surat ijin mengemudi dari kepolisian. Kali ini dalangnya tidak dari kalangan anak muda meski sifat gobloknya tidak jauh beda dengan dua kasus di atas.

Kejadian bermula saat seorang istri jaksa hendak mengisi bahan bakar di SPBU kawasan Tangerang dan salah masuk sehingga ditegur oleh petugas SPBU.

Tidak terima dengan perlakuan ter­se­but karena beranggapan suaminya orang paling­ hebat di Republik ini, dia justru menghubungi suaminya dan menyuruh memperingatkan petugas yang telah mene­gur­nya tersebut.

Seketika itu juga suaminya yang seorang jaksa datang dan menghampiri petugas SPBU. Bukan­nya meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan istrinya dalam mengemudi, jaksa ini justru mengacungkan senjata ke arah petugas SPBU.

Tentu aksi jaksa koboi ini meng­undang ketakutan petugas SPBU yang kemudian melaporkannya ke polisi.

Semoga melalui operasi zebra yang dilakukan secara massif ini, kita semua sadar bahwa kehati-hatian berkendara termasuk pengawasan ketat kepada anak dalam mengemudi serta mematuhi segala aturan lalu lintas yang ada tidak boleh diabaikan agar tidak membawa petaka yang dapat merugikan orang lain. Semoga bermanfaat. (analisadaily.com)

Related posts