Bencana di Depan Mata

Musim hujan sebentar lagi diprediksi mencapai puncaknya pada Januari 2015. Dipastikan hujan mengguyur setiap hari di sebagian besar wilayah Indonesia. Nah, pemerintah baik pusat maupun daerah sejatinya cepat tanggap dan wajib mewaspadai bencana banjir, banjir bandang, dan longsor yang kemungkinan terjadi setiap saat tanpa terduga sebelumnya.

Kejadian longsor pasca hujan deras yang belum lama terjadi di Banjarnegara memang sangat memilukan. Pasalnya, alat peringatan dini tentang ancaman bencana longsor ternyata belum dipasang di wilayah Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara itu.

Di Jakarta banjir menggenangi 564 rukun tetangga di 30 kecamatan. Ketinggian air sekitar 10 cm hingga 3 meter. Ini membuat 30.784 warga harus mengungsi. Di Jawa, banjir hampir merata di semua wilayah, mulai Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur. Banjir di Kabupaten Subang, Jawa Barat, menyebabkan jalur utama pantura putus. Ruas jalan negara itu juga terputus di Kabupaten Indramayu setelah banjir menggenangi kawasan Patrol dengan ketinggian air 1,5 meter.

Tidak hanya itu. Bencana tanah longsor selalu berulang setiap tahun. Di Indonesia ada sekitar 40,9 juta jiwa penduduk yang terpapar bahaya longsor sedang hingga tinggi. Masyarakat terpapar adalah masyarakat beserta perumahan, sistem atau elemen lainyang berada pada zona bahaya dan berujung pada potensi kerugian. Bertambahnya jumlah penduduk, meningkatnya degradasi lingkungan, dan curah hujan yang makin ekstrem menyebabkan risiko longsor makin tinggi.

Pola longsor setiap tahun sesungguhnya sudah dikenali. Data kejadian longsor memiliki korelasi positif dengan pola hujan, dimana sebagian besar bulan Januari adalah puncak kejadian longsor. Wilayah di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah provinsi yang paling banyak bencana longsor. Daerah yang berulang mengalami longsor adalah Kab Bogor, Sukabumi, Cianjur, Garut, Bandung Barat, Tasikmalaya, Purbalingga, Banjarnegara, Karanganyar, Wonosobo, Temanggung, Cilacap, Grobogan, Pemalang, Brebes, Pekalongan, Pacitan, Ponorogo, Malang, Jember dan lainnya sering terjadi longsor.

Masyarakat yang terpapar longsor umumnya tidak memiiki kemampuan memproteksi diri dan lingkungan dari longsor. Sistem pertanian subsisten diolah di lereng-lereng perbukitan tanpa diikuti konservasi tanah yang baik. Untuk itu sosialisasi kepada masyarakat perlu terus ditingkatkan. Tata ruang benar-benar ditegakkan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan yang intinya meningkatkan ekonomi masyarakat sekaligus lingkungan setempat.

Ini menunjukkan pemerintah sejauh ini tidak mampu mencegah aksi yang dilakukan sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Padahal, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat mencatat dampak kerugian dan kerusakan banjir dan longsor pada 2014 mencakup banjir Jakarta Rp 5 triliun, banjir dan longsor di 16 kabupaten dan kota di Jawa Tengah (belum termasuk Banjarnegara) Rp 2,01 triliun, serta banjir bandang di Sulawesi Utara Rp 1,4 triliun. Banjir di pantai utara Jawa (Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur) Rp 6 triliun.

Bertambahnya penduduk yang akhirnya tinggal di daerah rawan bencana adalah konsekuensi dari lemahnya implementasi tata ruang dan penegakan hukum. Kawasan industri dibangun pada daerah-daerah rawan bencana. Masyarakat dibiarkan tinggal di daerah rawan banjir dan longsor tanpa ada proteksi yang memadai. Banjir dan longsor sebenarnya adalah bencana yang dapat diminimumkan risikonya. Sebab kita sudah tahu kapan, dimana dan apa yang harus dilakukan. Kunci utama itu semua adalah mitigasi struktural dan nonstruktural komprehensif, penataan ruang dan penegakan hukum. Semoga!

BERITA TERKAIT

Sumbangkan Dana US$ 1 Juta - Google.org Bantu Persiapan Bencana di Indonesia

Menyadari Indonesia menjadi negara rawan bencana dan bencana sendiri tidak bisa diprediksi kapan datangnya, maka kesadaran masyarakat akan potensi bencana…

Pertimbangkan Kajian Pelaku Pasar - Soal Saham Gocap Ditunda Hingga Tahun Depan

NERACA Jakarta – Menuai banyak penolakan, rencana PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus saham gocap atau penurunan batas minimal harga…

DAMPAK BANYAK BENCANA DI INDONESIA - Target Devisa Pariwisata Turun US$2,4 Miliar

Jakarta-Pemerintah menurunkan target penerimaan devisa sektor pariwisata tahun ini dari semula US$20 miliar menjadi US$17,6 miliar. Penurunan dilakukan walaupun pemerintah sebenarnya ingin…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Hubungan Dagang dengan China

Pemerintah Indonesia saat ini masih memiliki pekerjaan rumah (PR) yang belum selesai, yakni defisit pada neraca perdagangan. Bahkan belakangan ini…

Strategi Ekonomi RI

Ketika fluktuasi ekonomi Indonesia mengikuti harga komoditas saat booming pada 2003‐2008, lalu menukik ke bawah setelah 2011  bersamaan dengan perlambatan…

Nasib Bank Lokal?

Maraknya investor asing mengincar kepemilikan sejumlah bank lokal belakangan ini patut menjadi perhatian kita semua. Pasalnya, pada tahun ini diperkirakan…