Elnusa Siapkan Belanja Modal Rp 639 Miliar

Bidik Pendapatan Rp 4,4 Triliun

Senin, 22/12/2014

NERACA

Jakarta –Dalam rangka mendanai ekspansi bisnis lebih agresif lagi, PT Elnusa Tbk (ELSA) menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun 2015 sebesar Rp639 miliar. Nilai capex tersebut meningkat 48,6% dari dana capex tahun ini sebesar Rp430 miliar.

Direktur Utama ELSA Syamsurizal Munaf mengatakan, belanja modal tersebut dialokasikan untuk jasa konstruksi minyak dan gas (migas), penambahan modal anak usaha, dan pembelian bangunan dan lahan,”Kita akan melakukan pembiayaan pada 2015 sebesar Rp639 miliar, diantaranya Rp290 miliar digunakan untuk biaya konstruksi minyak dan gas," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, dana capex pada tahun depan mayoritas berasal dari pinjaman perbankan dan sebagian lagi diperoleh dari kas internal. Disebutkan, bersumber dari pinjaman bank sebesar 70% dan sisanya 30% dana internal.

Tahun ini, belanja modal yang sudah terserap sebesar Rp281 miliar per kuartal III 2014, atau sekitar 65,35% dari total dana capex tahun ini. Dana capex tahun ini masih banyak digunakan untuk oil services. Selain itu, ditengah fluktuasinya nilai tukar rupiah tidak menyurutkan perseroan memasang target pendapatan tahun depan lebih besar lagi.

Kata Syamsurizal Munaf, tahun depan perseroan menargetkan kenaikan pendapatan (revenue) sebesar Rp4,4 triliun atau naik 8% dari target akhir tahun ini sebesar Rp4,1 triliun,”Kenaikan target didorong dengan adanya tambahan dari mesin baru sebesar Rp300 miliar per tahun,”ungkapnya.

Dia menambahkan, terkait penurunan harga minyak menjadi tantangan perusahaan ke depan. Tetapi dia tidak khawatir lantaran kualitas alat yang dimiliki perusahaan terjaga,"Saya prediksi harga minyak stagnan di level US$ 50 hingga US$ 60 per barel, justru di situlah kesempatan kami. Di level harga tersebut kami harap ada diskusi yang lebih menarik pada saat tender antara regulator, oil company dan perusahaan penyedia jasa EPC," jelas dia

Dia menilai, pelemahan harga minyak lantaran pergeseran life style warga Amerika Serikat (AS) yang bergeser dari sub urban ke pusat kota. Di mana, konsumsi minyak turun seiring peningkatan penggunaan angkutan umum, sepeda dan mobil berkapasitas kurang dari 4.000 cc.

Tatangan Ke Depan

Menurut Syamsurizal, ada empat tantangan perseroan dalam menjalankan bisnis tahun depan. Pertama, harga minyak yang turun tajam 30%, oil price akan bergerak sampai US$ 60 per barel. Yang dilakukan pertama kali perusahaan minyak dunia menyetop kegiatan pencarian cadangan baru karena produksi lebih banyak dari demand.

Kedua, dalam bidang teknologi. Namun, terkait tantangan ini, pihanya sudah melakukan kolaborasi,”Teknologi terus berkembang, perusahaan pasti punya reservoir supaya minyak bertahan di level US$ 50. Elnusa sudah bicara serius untuk kolaborasi teknologi hadapi tantangan teknologi,”tuturnya.

Ketiga adalah kompetisi dan terakhir terkait dengan sumber daya manusia (SDM). Kompetisi pemain rangking dua dan tiga dunia akan merger,”Kita menyikapi bahwa kami masih merasa yakin kita punya komposisi cost structure menaik, artinya lebih kompetitif dibanding 2 big corporation itu. Terakhir adalah dukungan SDM yang kuat," pungkasnya.

Asal tahu saja, pada akhir tahun 2014 ini, perseroan akan menandatangani kontrak minyak dan gas (migas) senilai US$ 45 juta atau setara Rp562,5 miliar (kurs Rp12.500). Ketika harga minyak mentah dunia turun hingga menyentuh angka US$ 58 per barel untuk jenis brent, perseroan justru mendapat kontrak baru.

Dijelaskan, penambahan kontrak baru tersebut akan menambah total kontrak migas perseroan yang saat ini telah mencapai US$ 475 juta hingga 2015 mendatang. Kemudian dengan turunnya harga minyak, perseroan akan tetap berkonsentrasi pada jasa konstruksi dan perawatan migas karena produsen minyak akan tetap menjaga kapasitas produksi.

Saat ini, total utang perusahaan per September 2014 dalam dolar AS tercatat sebesar US$ 33 juta atau sekitar 0,18 kali total ekuitas sebesar Rp2,45 triliun. Perusahaan masih mengantongi kas dalam bentuk tunai sebesar Rp 1,7 triliun. (bani)