Awas Risiko Default

Jumat, 19/12/2014

Oleh: Bhima Yudhistira

Program Master Bradford School of Management, UK

Rupiah yang terus turun hingga ke level terendah selama 16 tahun terakhir tentu menjadi kekhawatiran para pelaku usaha. Penurunan kurs rupiah hingga Rp 12.698 per US$ pada Senin (15/12) membuat rupiah kembali ke posisi tahun 1998 saat krisis terjadi. Di saat pelemahan rupiah terjadi terdapat beberapa konsekuensi yang harus dihadapi oleh perekonomian Indonesia, salah satunya adalah pembayaran cicilan utang luar negeri yang terus membengkak. Porsi utang luar negeri swasta per Februari 2014 mencapai 52,58% dari total ULN Indonesia. Sedangkan kenaikan ULN swasta tercatat 11,68% dibandingkan tahun lalu atau naik US$ 143,07 miliar.

Berdasarkan data BI, komposisi ULN swasta dibagi tiga yaitu perbankan sebesar 17%, lembaga keuangan bukan bank (8,5%) dan perusahaan bukan lembaga keuangan dengan porsi terbesar 77%. Jika dilihat dari proporsi, besaran utang yang dimiliki oleh perusahaan swasta memang seperti dua sisi mata pedang. Utang yang besar mengisyaratkan perusahaan domestik berada dalam fase berkembang atau ekspansi, disisi yang lain perusahaan lebih memilih pinjaman asing dibandingkan domestik karena alasan mahalnya bunga bank domestik.

Ada beberapa faktor yang membuat pinjaman luar negeri sangat menarik bagi perusahaan yang membutuhkan modal. Kenaikan BI Rate secara mengejutkan hingga 7,75% makin mempersulit perusahaan untuk meminjam modal usaha di bank domestik. Di saat yang sama pinjaman dengan denominasi dolar hanya memiliki bunga yang cukup kecil sekitar 2%-4%. Beralihnya minat perusahaan ke pinjaman asing selama waktu 10 tahun terakhir tentu membuat pengawas moneter was-was apabila kurs rupiah melemah, maka risiko gagal bayar (default) akan meningkat tajam.

Melemahnya rupiah terhadap dolar bukan satu-satunya faktor pendorong tingginya risiko gagal bayar. Pelambatan ekonomi domestik dan inflasi ikut berperan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprediksi akan terus menurun di bawah 5,2% selama tahun 2014 menyebabkan permintaan domestik mengalami kelesuan. Selain itu naiknya inflasi yang diprediksi akan dimulai Desember hingga tahun mendatang dikarenakan naiknya harga BBM berdampak biaya produksi perusahaan juga ikut membengkak.

Kelesuan ekonomi global yang berdampak pada penurunan sejumlah produk ekspor juga patut diwaspadai. Beberapa indikator ekonomi global seperti MSCI emerging market turun sebesar 8,9% disusul jatuhnya mata uang Rubel sebesar 52,8% selama satu bulan terakhir. Jatuhnya Rubel merupakan sinyal bahwa kondisi ekonomi global seperti kembali ke tahun 1986. Saat itu jatuhnya harga minyak dunia memukul negara penghasil minyak seperti Rusia, dan berakibat pada default-nya surat utang pemerintah. Efek domino ini segera terasa di negara berkembang lainnya.

Turunnya harga minyak dunia hingga di bawah US$60 dolar per barel juga menjadi sinyal bahwa ekonomi global sedang memasuki fase awal krisis terlepas dari penemuan cadangan baru di AS beberapa waktu yang lalu. Dapat dikatakan secara langsung perusahaan yang tujuan ekspor utamanya negara berkembang termasuk ke Rusia, diprediksi akan mengalami penurunan pendapatan secara tajam.

Jika krisis dimulai dari sektor keuangan, Pemerintah dapat melakukan bailout secara cepat dengan berbagai skema untuk memperkecil dampak sistemik yang dihasilkan terutama ke sektor riil. Namun bila perusahaan yang mengalami default, pengangguran akan langsung meningkat signifikan. Salah satu sejarah perusahaan yang mengalami default dengan dampak terbesar adalah MG Rover Group, sebuah perusahaan mobil dari Inggris yang memecat lebih dari 30.000 orang karyawannya pada 2005 sesaat setelah dinyatakan gagal bayar.