Depresiasi Rupiah Dinilai Tak Ganggu Investasi

Rabu, 17/12/2014

NERACA

Jakarta – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani menilai, pelemahan Rupiah ini tidak akan mengubah target Pemerintah yang ingin mendulang investasi sebanyak-banyaknya ke Indonesia.

"Saya rasa semua sektor ini tidak begitu terpengaruh. Contoh hasil dari sektor maritim ikan-ikannya bisa sebagai bahan baku industri. Kemudian industri padat karya, bahan bakunya lebih sedikit dan didapatkan di dalam negeri," tutur Franky di, Jakarta, Selasa (16/12).

Menurutnya, memang rupiah dalam beberapa hari menunjukkan pelemahan terhadap Dolar Amerika Serikat yang cukup signifikan. Bahkan hari ini Rupiah sempat menyentuh level Rp12.900 per USD. Melihat hal itu banyak pihak yang memperkirkan anjloknya Rupiah akan mengganggu iklim investasi di Indonesia. "Prioritas investasi kita itu ada enam sektor, yakni listrik, pertanian, maritim, industri padat karya, industri substitusi," tambah dia.

Selain itu, Pemerintah juga sedang mencoba memprioritaskan kegiatan ekspor guna meredam kebutuhan impor yang sangat tinggi. Dengan begitu pelemahan Rupiah tidak akan begitu terasa.

"Pendekatan kita ke setiap perusahaan, kami tanyakan apa butuhnya. Jika mereka butuh perizinan cepat kita layani. Jika dia butuh tanah kita ajukan ke Kementerian Agraria," tuturnya.

Sebelumnya, berdasarkan catatan dari BKPM investasi pada triwulan III (Juli-September) 2014 mencapai Rp119,9 triliun, naik 19,3 persen dari periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp100,5 triliun. Sementara secara kumulatif,realisasiinvestasi sepanjang Januari-September 2014 mencapai Rp342,7 triliun.

Realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) selama triwulan III mencapai Rp41,6 triliun, naik 24,2 persen dibandingkan periode sama tahun lalu, sementara Penanaman Modal Asing (PMA) tumbuh 16,9 persen dengan sebesar Rp78,3 triliun. Pada periode itu di triwulan III-2014, BKPM juga mencatat penyerapan tenaga kerja sebanyak 349.337 orang. Angka tersebut dinilai masih stagnan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

"Dilihat dari hasil realisasi ini, kinerja triwulanan PMDN dan PMA menunjukkan hasil yang baik dan berkelanjutan. Hal ini memperlihatkan kepercayaan investor terhadap kondisi fundamental ekonomi dan politik Indonesia serta prospek pertumbuhan ekonomi ke depan terjaga dengan baik," kata mantan Kepala BKPM Mahendra Siregar.

Menurut Mahendra, tren pertumbuhan PMDN semakin kuat dan berkelanjutan karena terus meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai sepertiga dari total investasi. Sedangkan tren pertumbuhan PMA cenderung stagnan dibanding tahun sebelumnya meski tetap baik.

Secara kumulatif, realisasi investasi pada Januari-September 2014 mencapai Rp342,7 triliun, tumbuh 16,8 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp228,3 triliun dengan pertumbuhan 14,6 persen.

Pertumbuhan itu ditopang oleh realisasi investasi PMDN yang didominasi kontribusi besar sektor jasa (54,1 persen) dan industri pengolahan (36,6 persen). Sementara realisasi investasi PMA ditopang oleh sektor industri pengolahan (46,7 persen) dan jasa (28,1 persen).

"Kinerja baik selama sembilan bulan pertama tahun ini yang menunjukkan pertumbuhan investasi 16,8 persen memberikan optimisme bahwa bukan saja target 15 persen tahun ini akan terlampaui, tapi target tahun depan juga antara 15 hingga 18 persen juga akan dapat dicapai," katanya.

Meski optimis bisa menjaga pencapaian target investasi tahun ini, Mahendra menegaskan hal yang perlu diperhatikan adalah terus memperbaiki iklim investasi, meningkatkan kualitas pelayanan investasi dan memberikan kemudahan mendirikan usaha sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP)."BKPM secara khusus telah menyiapkan serangkaian rencana aksi yang siap dijalankan sebagai bagian program 100 hari pemerintahan yang baru nanti," ujarnya. [agus]