Rupiah Bertekuk Lutut

Rabu, 17/12/2014

Oleh: Abdul Manap Pulungan

Peneliti Indef

Ada apa dengan rupiah? Memasuki detik-detik akhir 2014, rupiah semakin terpuruk hingga menembus level terendah sejak 2008. Pada pembukaan perdagangan Senin (15/12), rupiah hanya “laku” Rp12.700 dan Selasa (16/12) menembus Rp 12.900 per US$. Ini jelas melesat jauh dari asumsi APBN-2014 (Rp10.050 per US$).

Jika berlanjut, ekonomi nasional akan semakin tertekan, apalagi dampak kenaikan bahan bakar minyak (BBM) masih terekam jelas dalam data-data makro. Depresiasi rupiah akan searah atau linier dengan lonjakan inflasi, lonjakan biaya utang, dan pemburukan performa sektor industri.

Bagi sektor industri, depresiasi rupiah sama artinya menaikkan biaya input secara menyeluruh karena lebih dari separuh bahan baku/penolong bersumber dari keran impor. Buruknya kinerja industri akan merembet ke sektor produksi barang, ke sektor ketenagakerjaan, sektor keuangan (melalui permintaan kredit), sektor investasi hingga pertumbuhan ekonomi.

Investigasi terhadap memburuknya performa rupiah dapat dilakukan dengan pendekatan permintaan dan penawaran (demand and supply). Mengikuti konsep tersebut, ketidakseimbangan (imbalanced) terjadi saat lonjakan permintaan (demand) tidak disambut dengan ketersediaan (supply). Situasi yang demikian menyebabkan valas semakin langka sehingga menaikkan nilainya secara signifikan.

Dari sisi permintaan (demand side), bagian pertama penyebab kelangkaan valas adalah besarnya kebutuhan pembayaran utang swasta. Tambahan permintaan valas juga bersumber dari aktivitas melancong karena bertepatan dengan akhir tahun. Kebutuhan valas juga tetap tinggi dari sektor industri dan sektor energi.

Penurunan harga minyak dunia memang menyebabkan kebutuhan valas untuk impor minyak cenderung turun, tetapi juga diikuti dengan koreksi penerimaan valas dari transaksi yang sama.

Dari sisi penawaran (supply side) rupiah terpuruk karena minimnya aliran valas ke ekonomi domestik. Padahal valas dibutuhkan untuk menyerap kelebihan likuiditas karena aksi jual oleh investor. Jumlah ketersediaan valas juga semakin menipis karena masih melempemnya aktivitas ekspor, sedangkan impor masih tinggi.

Upaya Bank Indonesia meningkatkan supply valas melalui kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) tidak berjalan baik. Supply valas juga berhubungan dengan keterpurukan kinerja transaksi internasional, terutama neraca transaksi berjalan.

Pada neraca perdagangan, meski depresiasi rupiah terus terjadi, namun hal itu tidak berdampak berarti terhadap permintaan ekspor. Mandeknya peningkatan ekspor terkoneksi dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi China dan Uni Eropa sebagai tujuan utama ekspor Indonesia. Neraca jasa dan neraca pendapatan tidak kunjung membaik karena terus-menerus mencetak defisit.

Persepsi risiko tidak dapat dikesampingkan dari perkembangan rupiah. Realisasi data makroekonomi AS memunculkan optimisme ke depan sehingga tapering-off dapat dilakukan lebih cepat. Rencana AS akan menaikkan The Fed Fund Rate sehingga diprediksi mengguncang pasar emerging market.

Persepsi investor yang berubah mengalihkan portofolio mereka ke AS. Lain dari pada itu, penilaian investor terhadap Indonesia semakin memburuk karena persoalan harga BBM. Keputusan tersebut menyebabkan lonjakan inflasi sehingga mengerus yield. Walaupun BI telah mengganjarnya dengan penaikan bunga BI Rate, tetapi tidak menjadikan investor betah lebih lama di Indonesia.