Berbagai Kepentingan Merusak Kejujuran

Oleh: Prof H Imam Suprayogo, Dosen UIN Malang

Rabu, 17/12/2014
Kita mengamati dalam kehidupan sehari-hari, bahwa anak kecil, orang yang pada umumnya hidup di pedesaan, orang yang berpendidikan rendah, dan sejenisnya, ternyata lebih jujur dibanding misalnya orang kota, orang berjabatan tinggi atau berpendidikan, para politikus, pedagang, dan lain-lain. Mereka yang disebutkan terakhir itu bukan berarti tidak mengerti tentang pentingnya kejujuran, melainkan oleh karena memiliki kepentingan, baik pribadi, organisasi, atau berkaitan dengan jabatan yang diembannya.

Berbagai kepentingan itulah sebenarnya yang membuat orang menjadi tidak jujur. Banyak orang menghendaki agar kepentingannya terpenuhi. Sedangkan untuk memenuhi kepentingan itu ternyata tidak selalu mudah dan murah. Untuk memenuhi kepentingan, orang harus menggunakan taktik, strategi, dan siasat, termasuk misalnya harus berbuat tidak jujur. Mereka mengerti bahwa seseorang harus jujur, tetapi oleh karena terdesak untuk memenuhi kepentingannya itu, maka memaksa dirinya berbuat bohong atau tidak jujur itu.

Anak kecil, orang pedesaan pada umumnya, dan siapa saja yang dikenal sebagai orang biasa, biasanya tidak memiliki banyak kepentingan. Bagi mereka yang penting kebutuhannya terpenuhi. Kebutuhan selalu berbeda dengan kepentingan. Kebutruhan selalu ada batasnya, sementara itu kepentingan biasanya tidak terbatas. Kepentingan politik, ekonomi, sosial, dan seterusnya tidak pernah ada batasnya. Satu tahap berhasil diraih, maka biasanya menghendaki tahap-tahap berikutnya dicapai hingga tidak mengenal batas. Itulah sebabnya kepentingan itu tidak pernah terpuaskan.

Namun demikian, manakala anak kecil atau orang pedesaan, atau siapa saja yang dikenal sebagai orang biasa itu telah memiliki banyak kepentingan juga akan sama dengan orang kota, pejabat, atau juga pedagang yang ingin mendapatkan laba sebanyak-banyaknya. Mereka itu juga akan mudah berbat tidak jujur. Sehingga sebenarnya, kejujuran itu pada umumnya dirusak oleh keinginan untuk memenuhi kepentingan yang tidak terbatas itu. Semakin banyak kepentingan yang dimiliki, padahal sementara itu, untuk memenuhinya memiliki keterbatasan-keterbatasan, maka cara yang dilakukan biasanya adalah berbuat tidak jujur atau melakukan kebohongan.

Biasanya anak kecil, orang desa, atau siapa saja yang dikenal sebagai orang biasa pada umumnya diberi identitas sebagai orang lugu. Keluguannya itu biasanya ditafsirkan sebagai kebodohan. Padahal sebenarnya mereka itu bukan bodoh. Mereka bersikap lugu seperti itu oleh karena tidak terlalu banyak memiliki kepentingan. Bagi mereka tidak ada sesuatu yang harus diperjuangkan dan atau sesuatu yang mengancam dirinya. Umpama mereka itu memiliki kesadaran bahwa ada sesuatu yang harus diperjuangkan dan atau ada sesuatu yang dianggap mengancam dirinya maka meraka juga akan melakukan tindakan untuk membela diri atau mempertahankan keselamatannya.

Oleh karena itu, menghadapi orang-orang yang memiliki banyak kepentingan menjadi tidak mudah. Apa yang dikatakan dan atau sikap yang ditunjukkan tidak selalu menggambarkan apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya. Mereka itu bisa bersikap mendua atau bahkan apa yang sebenarnya ada pada dirinya justru disembunyikan. Orang seperti ini, sehari-hari melakukan kebohongan atau tidak jujur. Sebab pada dirinya tidak ada keseimbangan antara kekuatan yang dimiliki dengan kepentingan yang ingin diraih. Kesenjangan antara kekuatan yang ada dan kepentingan yang berlebihan itulah yang menjadikan seseorang akan tampil tidak sebagaimana adanya.

Memperhatikan gambarkan tersebut, maka menjadi jelas bahwa membangun kejujuran adalah bukan perkara gampang, lebih-lebih bagi orang-orang yang hidup di perkotaan, para pejabat, politikus, atau pedagang yang sehari-hari dikejar target-target di luar batas kemampuannya. Cara yang paling tepat bagi siapapun dalam upaya merawat kejujurannya adalah membangun keseimbangan, antara kekuatan yang dimiliki dengan kepentingan yang seharusnya diraih. Orang di mana dan kapan saja harus mengetahui terhadap dirinya sendiri, baik terkait dengan kekuatan yang dimiliki maupun kekurangan atau keterbatasannya. Orang yang tidak tahu diri itulah biasanya mudah tergelincir pada kesalahan hingga harus menanggung risiko yang tidak ringan.

Sebagai seorang pemimpin, pejabat, politikus, dan sejenisnya, memiliki ambisi besar memang menjadi tuntutannya. Akan tetapi, jika ambisi itu tidak diikuti oleh kemampuan yang mencukupi, atau bahkan melampaui batas, maka yang bersangkutan akan mudah terjerumus pada berbuat bohong atau tidak jujur. Kemuliaan seseorang yang biasanya dibangun dari fondasi kejujuran, bisa menjadi jatuh dan rusak oleh karena berbagai kepentingan yang berlebihan. Wallahu a'lam. (uin-malang.ac.id)