Menakar Bisnis WIKA di Pengolahan Air Minum

Investasikan Dana Rp 1,6 Triliun

Selasa, 16/12/2014

NERACA

Jakarta – Perusahaan konstruksi milik negara, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) bakal mengembangkan ekspansi bisnisnya di sektor pengolahan air minum pada tahun depan dengan mengerjakan proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).

Direktur Human Capital dan Pengembangan WIKA, Ganda Kusuma mengatakan, ekspansi bisnis sektor pengolahan air minum lantaran pasarnya yang masih menjanjikan, “Untuk ekspansi bisnis di sektor ini, perseroan tengah melakukan studi kelayakan dan direncanakan rampung tahun depan,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Waduk Jatiluhur bakal menjadi sumber utama air yang bakal diolah menjadi air bersih layak minum dalam proyek tersebut. Nantinya pipa-pipa besar akan disambungkan untuk menyalurkan air ke sejumlah titik di kawasan Jakarta dan Jawa Barat.

Adapun dalam pengerjaan proyek senilai Rp1,6 triliun ini, perseroan bekerja dalam skema konsorsium dengan sejumlah perusahaan seperti Perum Jasa Tirta II, PT Pembangunan Jaya (BUMD DKI Jakarta) dan PT Tirta Gemah Ripah (BUMD Jawa Barat). Konsorsium ini nantinya akan membentuk satu entitas usaha sebagai pengelola bisnis SPAM Jatiluhur itu. Akan tetapi, WIKA tidak menjadi pemegang saham mayoritas, dan hanya memiliki 20% atas saham entitas usaha tersebut.

SPAM Jatiluhur sendiri diproyeksikan mampu menyalurkan air dengan kapasitas 10 ribu kubik air per detik. Dari proyek ini, perseroan berharap untuk mampu menambah pasokan atas permintaan air bersih di kawasan Jakarta dan sekitarnya. Sayangnya, emiten pelat merah ini belum bisa memprediksi secara pasti besaran pendapatan yang diterima dari investasi termasuk.

Namun Sekretaris Perusahaan WIKA Suradi, menambahkan, secara keseluruhan WIKA memiliki target pertumbuhan pendapatan tahun depan 15% hingga 25%, begitu juga dengan target laba bersihnya. Sebelumnya Sekretaris Perusahaan WIKA Suradipernah bilang, imbas pemangkasan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2014 membuat kinera perseroan terpengaruh. Pasalnya, dampak dari kebijakan tersebut membuat tertundanya proyek-proyek sejumlah BUMN sepanjang 2014,”Proyeksi kinerja WIKA hingga akhir tahun memperhitungkan adanya pemangkasan APBN tahun 2014 pada proyek infrastrukur pemerintah, tertundanya proyek-proyek BUMN sepanjang 2014, dan pertimbangan lainnya,”ungkapnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa hingga akhir tahun perusahaan memproyeksikan realisasi capaian kinerja keuangan tak akan sampai 100%.Laba perusahaan diproyeksikan hanya mencapai 90% dari target yang ditentukan,”WIKA hingga akhir tahun memproyeksikan perolehan laba yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk hingga akhir tahun berada pada kisaran 80-90% dari target Rp 678,65 miliar,”jelasnya.

Artinya, hingga akhir tahun 2014 besarnya laba bersih yang akan dicatatkan maksimal hanya mencapai angka Rp 610,76 miliar. Hingga kuartal III tahun ini sendiri perusahaan baru mencatat laba sebesar Rp 400,71 miliar.Angka ini merujuk juga pada proyeksi pendapatan usaha hingga akhir tahun yang juga lebih rendah dari target yang ditetapkan awal tahun."WIKA memproyeksikan penjualan tidak termasuk kerja sama operasi sebesar 97% dari target 2014 sebesar Rp 14,09 triliun," kata dia. (bani)