Indonesia Alami Defisit Minyak 2,5 Juta Barel/Hari

Jumat, 12/12/2014

NERACA

Jakarta – Diproyeksikan konsumsi minyak di Indonesia pada 2025 akan meningkat cukup tinggi. Namun sayangnya, peningkatan konsumsi tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan produksi. Dalam hitungan pengusaha minyak, selisih antara konsumsi dan produksi minyak di Indonesia mencapai 2,5 juta barel per hari.

"Jika produksi tak meningkat signifikan, di 2025 gap di tanah Air mencapai 2,5 juta bareloil per day," kata Board of Director Indonesia Petroleum Association (IPA), Lukman Mahfoedz, dalam sebuah diskusi di, Jakarta, Kamis (11/12).

Lukman melanjutkan, untuk mengurangi selisih tersebut, Indonesia harus terus menggenjot kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi sebanyak tiga kali lipat dari saat ini. "Perhitungan IPA dengan peningkatan tersebut bisa mengurangi gap 50 persennya," tuturnya.

Namun, kemungkinan hal tersebut sulit terjadi. Pasalnya, berdasarkan data yang dimiliki oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), dari seluruh izin eksplorasi yang dikeluarkan oleh pemerintah, sampai November kemarin baru sebesar 50 persen kegiatan eksplorasi yang dikerjakan.

Oleh karena itu, untuk bisa keluar dari permasalahan tersebut, IPA mengusulkan, agar Pemerintah fokus pada peningkatan produksi, penemuan cadangan migas baru, penyederhanaan birokrasi dan perizinan serta pembenahan regulasi.

Seperti diketahui, saat iniproduksi minyakIndonesia sekitar 800 ribu barel per hari (bph) sedangkan konsumsinya, hampir dua kalilipat yaitu 1,5 juta bph.

Sementara itu, menurut Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) mewakili konsumen, Syamsir Abduh mengatakan, saat ini Indonesia sudah menjadi negara net importir minyak. Pasalnya kebutuhan akan energi fosil tersebut melebihi produksi dalam negeri. Tercatat saat ini rata-rata produksi minyak sekira 788.000 ribu barel per hari (bph), sedangkan kebutuhan BBM sekira 1,5 juta bph.

Namun begitu, Indonesia belum memiliki kemandirian dan kebijakan energi. Padahal, Indonesia dianugerahi sumber-sumber energi yang belum dioptimalkan dengan baik. jika hal ini dibiarkan tanpa ada langkah bijak, pemerintah dapat membahayakan sektor energi dalam 5 tahun mendatang. Hal ini terlihat dari sektor minyak saja, pemerintah masih terus mengimpor dengan nilai mencapai sekira Rp874 miliar per hari.

"Ini ada gap 712.000 barel. Jika harga minyak sekarang USD104,63 per dolar dan kurs Rp11.739 per USD, maka Rp874 miliar yang harus dikeluarkan impor minyak per hari," ucap.

Syamsir menambahkan, keadaan yang terus menerus ini dihadapkan dengan pemerintah. Jika tidak ada tindakan yang kongkrit, Indonesia tidak akan lagi menghadapi krisis energi, tapi melebihi itu.

"Kalau terus dibiarkan bisnis as usual tidak melakukan apa-apa. Kita tidak akan krisis energi lagi, di 2018 kita darurat energi. Bahkan kita akan alami kiamat energi," tegasnya. [agus]