Pemerintah Akui Ekonomi Melambat

Jumat, 12/12/2014

NERACA

Jakarta - Menteri KeuanganBambang PS Brodjonegoromenghadiri mengatakan jika saat ini ekonomi global mengalami perlambatan lantaran perbaikan ekonomi Amerika Serikat dan perlambatan perekonomian China. Dia mengakui kondisi ini berimbas ke perlambatan ekonomi Indonesia.

"Dalam laporan triwulan ketiga, pertumbuhan ekonomi kita hanya 5,01 persen. Tren melambat memang terjadi. Namun ini sejalan dengan upaya kita melawan volatilitas ekonomi yang ada. Perekonomian global masih banyak risiko terutama pemulihan ekonomi AS dan penurunan ekonomi China," katanya di Jakarta, Kamis (11/12).

Perlambatan perekonomian nasional dipengaruhi juga turunnya harga komoditas dunia. Mulai dari batu bara, sawit dan minyak. "Kondisi ekonomi nasional masih lemah dan tidak membantu dari sisi ekspor kita. Neraca perdagangan terus defisit, hanya pada Oktober surplus USD 23,2 juta," kata dia.

Perkembangan dari dalam negeri turut mempengaruhi kondisi perekonomian nasional. Semisal kebijakan kenaikan harga BBM yang diprediksi membuat inflasi melonjak hingga 8 persen sepanjang tahun ini. Namun, kata dia, inflasi akan kembali normal sesuai dengan target pemerintah sebesar 4 plus minus 1 persen pada 2015. "Pemerintah masih melihat potensi ekonomi yang stabil serta bonus demografi jadi modal berharga untuk pertumbuhan ekonomi," ucapnya.

Hal serupa juga pernah dilontarkan oleh Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara, dirinya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus melambat. Hal ini seiring dengan terjadinya perlambatan ekspor yang terjadi di sektor komoditas.

"Kalau misalnya nanti kuartal ketiga terlihat ada perlambatan ekonomi dibandingkan kuartal dua, ya memang tren ekspornya memang melambat dan dunia semua melambat. Kecuali Amerika (Serikat)," ujarnya.

Lebih lanjut, Mirza menjelaskan, di tengah perlambatan ini, daerah-daerah yang menggantungkan perekonomiannya pada komoditas akan mencerminkan perlambatan tersebut. "Daerah yang menghasilkan batu bara, kelapa sawit. Daerah yang menghasilkan minyak dan gas Indonesia itu pasti mengalami perlambatan," katanya.

Menurut Mirza, perlambatan masih akan terus berlanjut, meski tidak bertambah parah. Ia mengatakan, pada kuartal-IV pertumbuhan ekonomi Indonesia akan "flat" atau meningkat sedikit.

"Tapi saya rasa memang tahun ini masih di level 5,1 (persen), 5,2 (persen). Sampai kuartal satu tahun depan juga masih," ujarnya.

Mirza menuturkan, Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengalami perlambatan dalam pertumbuhan ekonominya. Dia mengatakan, Eropa dan Jepang juga mengalami hal serupa. Bahkan, Jepang harus melakukan penambahan stimulus.

"(Penambahan stimulus) artinya ekonomi yang belum meningkat. Jadi itu tercermin dari harga komoditi turun, bahkan kita sempat melihat harga minyak sempat turun di bawah 80 (dollar AS per barrel)," tuturnya.

Sedangkan menurut, Ekonom senior Standard Chartered Bank Indonesia, Fauzi Ichsan memerkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan sulit menembus 5,5 persen pada tahun depan, jika Fed rate Amerika Serikat benar-benar naik pada semester II/2015.

"Dengan penaikan harga bahan bakar minyak (BBM), dampaknya di semester I/2015 relatif negatif. Tetapi di semester II akan kelihatan bahwa penurunan anggaran subsidi itu digunakan untuk bangun infrastruktur. Saya lihat pertumbuhan ekonomi 2015 akan berada pada 5,2 persen. Pertumbuhan ekonomi sulit tembus di atas 5,5 persen karena ada prediksi kenaikan Fed rate pada semester II/2015," katanya.

Selain itu, menurutnya, pertumbuhan ekonomi juga bergantung pada cepatnya negosiasi perubahan APBN 2015 antara pemerintah dan DPR, karena semakin cepat negosiasi dilaksanakan maka akan semakin jelas berapa anggaran untuk infrastruktur dan subsidi, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depannya akan semakin baik. [agus]