Pertumbuhan Berkualitas?

Sejumlah lembaga internasional merevisi data pertumbuhan ekonomi. Organization for Economic Cooperation and development (OECD) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 6,1% menjadi 5,8% pada 2012 dan dari 6,5% persen menjadi 6% pada 2013 dan 5,2% pada akhir 2014.

Tidak hanya itu. IMF dan Bank Dunia pun memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,1%, sedangkan Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan pertumbuhan 5,3%. Bank Indonesia (BI) sendiri memproyeksikan sebesar 5,1%-5,4% pada 2014. Lalu mengapa terjadi koreksi angka pertumbuhan itu?

Ternyata lembaga internasional tersebut menilai Indonesia masih tetap rentan terhadap risiko perubahan global yang bisa memicu arus balik modal asing (sudden reverse capital flow). Di tengah ketidakpastian dan masih belum menentunya kondisi perekonomian global yang berpotensi mengarah pada krisis ekonomi global, target pertumbuhan ekonomi Indonesia 2014 seperti usulan asumsi proyeksi diajukan pemerintah dalam penyusunan rancangan kerja pemerintah (RKP) 2013, yakni sebesar 5,2%-5,6% diperkirakan bakal sulit terealisasi.

Pejabat tinggi WTO Pascal Lamy di acara World Economic Forum on East Asia (WEFEA) 2012 di Bangkok, Thailand, pernah mengingatkan bahwa Asia tidak akan selamanya kebal dan bisa lolos dari dampak krisis global dan krisis utang di Zona Euro. Karena, negara-negara Asia sudah makin terkoneksi dengan seluruh dunia terkait makin meningkatnya kebijakan proteksionisme di kawasan Asia dalam enam bulan terakhir ini.

Sejak krisis keuangan global pada 2008, menurut dia, praktik proteksionisme telah menggerus nilai perdagangan global sebesar 3% dan jumlah total kerugian penurunan volume nilai perdagangan dunia telah mencapai US$500 miliar, atau setara dengan jumlah total perdagangan di benua Afrika, Brasil, dan India.

Untuk itu, forum WEFEA menilai pentingnya kolaborasi yang signifikan erat antar-negara kawasan Asia Timur dan ASEAN dalam meningkatkan konektivitas di berbagai bidang. Antara lain, sektor transportasi dan perhubungan, kepariwisataan, ketahanan pangan, energi, perdagangan, investasi, serta telekomunikasi dan informasi untuk mempertebal daya tahan kawasan Asia Timur dan ASEAN, sekaligus mengantisipasi, dan meminimalkan risiko terhadap krisis ekonomi global.

Kerja sama dan kolaborasi aktivitas ini bertujuan saling membantu keuangan untuk memperkuat daya tahan Asia. Ini untuk mengantisipasi fenomena masuknya aliran dana ke pasar keuangan namun mulai berbalik arah atau terjadi potensi pelarian modal asing secara besar-besaran (sudden massive capital outflow) untuk sementara waktu, yang bisa menggoyahkan tingkat suku bunga, nilai tukar, dan posisi cadangan devisa.

Adalah pertumbuhan ekonomi harus lebih bertumpu pada investasi tinggi untuk peningkatan bidang teknologi untuk mendongkrak nilai tambah. Karena, nilai tambah itu akan jauh lebih tinggi kalau lebih dulu diolah di dalam negeri ketimbang mengekspor bahan mentah dan barang setengah jadi produk pertambangan dan perkebunan, apalagi produk yang dihasilkan diproduksi di negara tujuan ekspor.

Hanya persoalannya, selama ini produksi dalam negeri tidak mampu bersaing dan belum siap melakukan persaingan global skala besar. Hal itu, karena produk dalam negeri tidak memiliki keunggulan dan teknologi modern yang tercanggih, termutakhir, terkini, dan terbaru belum terserap dengan baik dalam pengolahan bahan baku. Sehingga, produk yang dihasilkan tidak kompetitif. Padahal ini prasyarat untuk pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Sementara pertumbuhan ekonomi berkualitas berarti pertumbuhan ekonomi yang bisa mendistribusikan pembangunan dan melakukan distribusi pendapatan secara merata untuk rakyat melalui pengembangan dan pemerataan ekonomi dengan kebijakan prorakyat. Hal ini, akan memperkuat ekonomi domestik dan investasi fokus pada sektor riil yang dapat dinikmati dan berkaitan langsung dengan rakyat. Sektor riil-lah yang mampu menyediakan lapangan kerja dan berdampak langsung pada peningkatan konsumsi, kesejahteraan rakyat, dan mempercepat produktivitas agar kemiskinan dan pengangguran dapat diminimalkan.

BERITA TERKAIT

Negara Berkembang Paling Pesat Pertumbuhan Belanja Online

    NERACA   Jakarta - Survei terbaru Mastercard menyebutkan, pertumbuhan aktivitas belanja melalui gawai (smartphone) atau "mobile shopping" berkembang…

Pemerintah Diminta Waspadai Ketidakpastian 2018 - MESKI PERTUMBUHAN EKONOMI 3 TAHUN TERAKHIR POSITIF

Jakarta-Meski pertumbuhan ekonomi dalam tiga tahun terakhir menunjukkan tren cukup positif, pemerintahan Jokowi-JK tetap harus fokus terus membenahi masalah ketimpangan…

OCBC NISP Yakin Pertumbuhan Kredit Dua Digit

  NERACA   Jakarta - PT OCBC NISP Tbk meyakini penyaluran kredit akan membaik pada triwulan IV/2017 sehingga mampu mencapai…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Beban Utang Negara

Menkeu Sri Mulyani Indrawati menegaskan masyarakat tak khawatir terhadap kebijakan pemerintah untuk berutang. Alasannya, utang merupakan responsibility choice dan strategi…

Awas Korupsi di Desa

Membanjirnya anggaran negara ke desa pada hakikatnya bertujuan mulia, yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Namun pada kenyataannya, banyak aparat…

Apresiasi Kinerja Jokowi-JK

Memasuki usia ke-3 tahun pemerintahan Jokowi-JK, masyarakat sudah merasakan dinamika pembangunan yang positif. Tidak heran jika pemerintah mengklaim pertumbuhan ekonomi,…