Hipmi Jaya Ingin KUR Tetap Dilanjutkan

Bidik Pengusaha Pemula

Kamis, 27/11/2014

NERACA

Jakarta - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Wilayah DKI Jakarta mengingatkan pemerintah untuk tetap mempertahankan dan melanjutkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Namun begitu, Hipmi Jaya meminta agar KUR benar-benar dialokasikan untuk pengusaha pemula dan usaha kreatif.

Ketua Umum Hipmi Jaya, Iskandarsyah Ramadhan Datau Gobel mengatakan, konsep KUR di atas kertas sebenarnya sudah bagus. Hanya saja, kata dia, dalam implementasinya bank-bank penyalur KUR masih meleset dan tidak sesuai sasaran. “Saya kasih contoh. Sejak awal (program) KUR ini ditargetkan untuk pengusaha pemula dan tidak punya collateral loan. Fakta di lapangan justru sebagian besar penerima KUR wajib punya penjaminan. Banyak yang kecewa,” keluhnya di Jakarta, Rabu (26/11).

Dia mengatakan, praktik KUR di lapangan tidak jauh berbeda dengan pemberian kredit komersil lainnya. Sebab itu, KUR harus benar-benar direviltalisasi agar sesuai dengan konsep awal sasaran penerima KUR. Hipmi Jaya mengusulkan selain pengusaha pemula, KUR juga disalurkan secara maksimal ke pengusaha yang bergerak di industri kreatif.

“Nasabah KUR ini sebenarnya sama persis dengan pengusaha kreatif, yakni keduanya tidak punya aset fisik untuk dijaminkan, pabriknya industri kreatif itu ada di otak pengusahanya. Berkantor juga bisa mobile dan kebanyakan di kafe-kafe. Jadi mereka itu punya proyek yang feasible tapi tidak punya aset untuk dijaminkan,” jelas Rama.

Dia juga mengatakan, hingga Agustus 2014, sebanyak tujuh bank nasional telah menyalurkan KUR sebanyak Rp149,36 triliun atau tumbuh 31,75% secara year on year (yoy). Ketujuh bank tersebut, yakni BNI, BRI, Bank Mandiri, BTN, Bank Bukopin, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah. Nilai KUR tersebut meningkat Rp113,36 triliun dari periode yang sama pada 2013. Indikator keberhasilan KUR, selain pada daya penetrasi penyaluran kredit yang efektif kepada pengusaha pemula dan unbankable, juga pada keberhasilan program ini mengantarkan nasabahnya menjadi bankable dan layak memperoleh kredit komersil. Rama menjelaskan peranan industri kreatif semakin vital dalam perekonomian nasional. Ekonomi kreatif menempati posisi ketujuh dari 10 sektor ekonomi nasional dengan menyumbang PDB sebesar 6,9 % atau senilai Rp 573,89 triliun dari total kontribusi ekonomi nasional. Tak hanya itu, peranannya dalam penciptaan lapangan kerja juga kian strategis. Ekonomi Kreatif menempati posisi ke-4 dari 10 sektor ekonomi dalam kategori jumlah tenaga kerja pada 2012. “Ekonomi Kreatif menyumbang 11.799.568 Orang atau 10,65% pada total angkatan kerja nasional yang sebesar 110.808.154 orang,” ujar Rama. Hipmi Jaya mencatat usaha di industri ini terdiri atas sekitar 10% dari total jumlah usaha di Indonesia saat ini. Periode 2010 - 2013 industri kreatif rata-rata dapat menyerap tenaga kerja sekitar 10,6% dari total angkatan kerja nasional. Itu didorong oleh petumbuhan jumlah usaha di sektor industri kreatif pada periode tersebut sebesar satu persen.

Dengan demikian, jumlah industri kreatif yang pada tahun lalu tercatat sebanyak 5,4 juta usaha, akan menyerap angkatan kerja sebanyak 12 juta jiwa serta memberikan kontribusi terhadap devisa negara sebesar Rp19 triliun atau sebesar 5,72% dari total ekspor nasional. "Di pertengahan tahun ini ekspor karya kreatif Indonesia sudah mencapai Rp63,1 triliun atau tumbuh sebesar 7,27% dibandingkan periode yang sama di tahun 2013,” tandas Rama. [ardi]