Pertamina Janjikan Tingkatkan Produksi Gas

Selasa, 25/11/2014

NERACA

Jakarta - Harga bahan bakar minyak(BBM)yang kian mahal membuat PT Pertamina (Persero) harus memutar otak mencari sumber energi lain, salah satunyagas. BUMN ini pun memilih untuk terus mengembangkan produksi gas dalam negeri guna memaksimalkan penggunaan bahan bakar alternatif.

Media Manager PT Pertamina (Persero), Adiatma Sardjito, mengatakan saat ini harga gas jauh lebih murah dibandingkan dengan BBM, oleh karenanya kami akan memaksimalkan produksi gas guna memenuhi kebutuhan.

Pada 2012, Pertamina telah menjadi salah satu produsen minyak dan gas terbesar di Indonesia di antara banyak korporasi asing dengan total produksi 462 juta barel per hari (million barels of oil equivalent per day/mboepd).

Kenyataannya, realisasi produksi Pertamina, terutama di sektor gas cenderung meningkat sejak 2011. Pada kuartal I 2014, produksi Pertamina mencapai 529.2 mboepd. “111 persen dari proyeksi perusahaan pada periode tersebut, dibandingkan dengan tahun 2011 yakni sebesar 193,5 mboepd,” katanya, di Jakarta, Senin (24/11).

Sementara, kata dia, akuisisi Pertamina di dunia internasional berkontribusi sebesar 63 mbopd terhadap total produksi minyak Pertamina. Selain itu, banyak capaian lain yang berhasil diraih Pertamina yang secara langsung juga berkontribusi besar bagi kelangsungan usaha masyarakat Indonesia.

Antara lain, kata dia, penyelesaian krisis energi dengan melakukan sinergi Pertagas Niaga dengan industri besar di Sumatera Utara, mengkonstruksi pipa Muara Tawar sepanjang 30 kilometer (km) pada akhir Mei 2014, dan peningkatankualitas gasruas pipa distribusi 8 dengan repiping pipa Beji – Ragunan – Lebak Bulus di West Java Area Pertagas.

Direktur Gas Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Djoko Siswanto, mengatakan kinerja Pertamina di sektor gas sudah semakin baik dan meningkat.

Menurutnya, selain berhasil mengatasi krisis dan peningkatan kualitas gas, hingga setahun ke depan Pertamina melalui anak usahanya Pertagas juga tengah mengerjakan proyek pipa 350 km Arun-Belawan, pipa 132 km Belawan – Area Industri Medan, pipa 271 km Semarang – Gresik, pipa 40 km Muara Tawar – Tegal Gede, pipa 56 km Porong – Grati dan pipa 16 km Wunut – Ngoro. “Apabila proyek pipa ini berhasil dibangun sesuai dengan tenggat waktu yang ditentukan, maka effesiesi dan efektifitas penyaluran gas di Indonesia akan meningkat secara signifikan,” ujarnya.

Karena itu, menurut dia, perlu ada dukungan dari pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur gas. “Saat ini masalah yang menghambat percepatan pembangunan infrastruktur gas adalah masalah lahan dan perizinan,” katanya.

Menurutnya, jika kendala-kendala itu bisa selesai, pembangunan infrastruktur gas bisa dipercepat dan mendorong konversi BBM ke gas.

Sedangkan menurut Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartai mengatakan untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak fosil, pemerintah diharuskan untuk mengembangkan energi alternatif. Jika tidak segera mendorong pengembangan energi alternatif, impor migas akan terus meningkat lantaran penggunaan energi makin tinggi di dalam negeri. "Selama tidak ada upaya konkret untuk menggunakan energi alternatif, maka tekanan impor migas akan terus tinggi," tegasnya.

Namun demikian, mengurangi impor migas jelas juga tidak dimungkinkan. Sebab, pengurangan itu akan mempengaruhi aktivitas ekonomi. Maka pengembangan energi alternatif dapat menjadi solusi yang perlu segera direalisasikan. "Kalau impor ini kita kurangi, konsekuensinya, pasti kinerja industri akan menurun," papar Enny. [agus]