OJK Terbitkan Keputusan Soal Efek Syariah

Untuk Panduan Investasi

Selasa, 25/11/2014

NERACA

Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan keputusan baru terkait Daftar Efek Syariah (DES). Keputusan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Nomor: Kep-55/D.04/2014 tentang Daftar Efek Syariah tersebut diterbitkan pada Jumat (21/11) lalu di Jakarta dan berlaku efektif pada 1 Desember 2014 hingga Mei 2015,"Sehingga, Keputusan Dewan Komisioner OJK nomor: KEP-24/D.04/2014 tanggal 20 Mei 2014 tentang Daftar Efek Syariah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi," kata Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal 1B Sugianto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (24/11).

Daftar Efek Syariah merupakan panduan investasi bagi pihak pengguna Daftar Efek Syariah, seperti asuransi syariah, manajer investasi pengelola reksa dana syariah, dana pensiun syariah, dan investor yang mempunyai keinginan untuk berinvestasi pada portofolio efek syariah.

OJK akan melakukan review atas Daftar Efek Syariah secara periodik berdasarkan Laporan Keuangan Tengah Tahunan dan Laporan Keuangan Tahunan dari Emiten atau Perusahaan Publik. Review dilakukan apabila emiten atau perusahaan publik yang pernyataan pendaftarannya telah menjadi efektif dan memenuhi kriteria efek syariah apabila terdapat aksi korporasi, informasi atau fakta dari emiten yang dapat menyebabkan terpenuhi atau tidak terpenuhinya kriteria Efek Syariah. "Adapun efek-efek Syariah yang termuat dalam DES berjumlah 300 efek jenis saham emiten dan perusahaan publik serta efek syariah lainnya," ujarnya.

OJK sendiri mendorong emiten untuk memperbayak penerbitan efek syariah. Hal ini perlu dilakukan lantaran pertumbuhan pangsa pasarnya yang masih rendah, “Kita dorong emiten melakukan itu, melalui kerja sama dengan underwriter,”kata Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal II OJK, M Noor Rachman.

Menurut Noor, pihaknya akan memberikan kelonggaran bagi emiten yang akan menerbitkan efek syariah. Disamping itu, pihaknya juga akan memecah efek syariah untuk memudahkan emiten. Misalkan reksa dana dan obligasi akan dipecah masing-masing peraturannya,”Yang saham sendiri, sukuk sendiri dipisahkan supaya gampang. Kalau penawaran syariah dipecah. Syariah makin gampang diakses diisuekan," jelasnya.

Produk pasar modal yang berbasis syariah, lanjut Noor, tumbuh positif. Ada peningkatan produk pasar modal syariah. "Reksa dana syariah cukup bagus dibandingkan tahun lalu, tumbuh saat 2012 syariah 9 reksa dana menjadi 10 reksa dana syariah pada 2013. Meningkat, pinginnya lebih meningkat," katanya.

Nurhaida yang juga Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK pernah bilang, saat ini produk syariah di pasar modal Indonesia seperti saham dan reksadana mengalami pengingkat sepanjang 2014. Diantaranya, indeks saham syariah Indonesia (ISSI) megalami peningkatan sebesar 18,29% menjadi Rp3.025,63 triliun pada 13 Agustus 2014 jika dibandingkan akhir 2013 sebesar Rp2.557,85 triliun. Disebutkan, nilai kapitalisasi pasar saham ISSI mencapai Rp3.025,63 triliun atau 58,93% dari total kapitalisasi pasar seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sebesar Rp5.134,30 triliun. (bani)