Meski BBM Naik, Gaikindo Optimis Penjualan Tidak Terganggu

Selasa, 25/11/2014

NERACA

Jakarta - Pemerintah telah resmi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, pekan lalu. Akan tetapi, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) tetap merasa optimis penjualan kendaraan bermotor akan tetap bergairah.

Ketua Umum Gaikindo Sudirman Maman Rusdi menuturkan, meski BBM subsidi naik, pasar kendaraan bermotor roda empat akan tetap bergairah bila ekonomi nasional terus mengalami peningkatan. "Sebetulnya pasar otomotif kan bergantung pertumbuhan pasar nasional. Kalau ekonomi masih stabil saya pikir tidak berpengaruh besar," kata Sudirman, di Jakarta, Senin (24/11).

Pihaknya mengakui, penaikan BBM subsidi memang akan memengaruhi daya beli masyarakat. Namun khusus di pasar otomotif, dampak ini hanya terjadi dalam waktu atau satu dua bulan ke depan.

Sudirman memaparkan, pertumbuhan industri otomotif sejak 2006 sampai saat inii mencapai 23,4%. Dengan melihat pertumbuhan Produk Domesrtik Bruto (PDB) 2014 sebesar 5,1%, maka produksi mobil sampai akhir tahun mencapai 1,2 juta unit. "Saya pikir proyeksi tetap sama produksi kendaraan 1,2 juta sampai akhir tahun," ujarnya.

Lebih jauh lagi, Sudirman juga mengatakan bahwa pihaknya belum mau mengubah target produksi kendaraan roda empat sampai akhir tahun. Proyeksi produksi akan tetap bertahan di level 1,2 juta unit sesuai target di awal tahun.

Sudirman memaparkan, pasar otomotif memang sempat mengalami fluktuasi pada pertengahan tahun. Saat itu asosiasi sempat mematok produksi mobil mencapai 1,25 juta unit. "Saat itu sewaktu momen lebaran dan Idul Fitri, sempat mematok ke level 1,25 juta unit. Namun ini dikoreksi di Oktober seperti awal tahun sebesar 1,2 juta unit," kata Sudirman.

Pihaknya menyadari koreksi target ini memang terpengaruh oleh banyak sentimen, seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, besaran suku bunga, sampai kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

Ia melanjutkan, penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi belum berimplikasi cukup besar bagi pasar otomotif Tanah Air. Sudirman menilai, penjualan mobil nasional bergantung terhadap pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat.

"Kembali pada mekanisme pasar, aktual penjualan kendaraan. Pada saat ekonomi tumbuh dengan baik enam tahun berturut-turut pertumbuhan industri otomotif mencapai 24,3%. Dan dapat kami sampaikan produksi sama dengan tahun lalu sebesar 1,2 juta unit," ujar dia.

Hal yang berbeda diungkapkan oleh Associate Director Fitch Ratings, Rufina Tam. Menurut dia, kenaikan harga BBM bersubsidi akan mendorong inflasi dan mempertahankan suku bunga tinggi untuk setidaknya 12 bulan ke depan. Hal ini akan mengganggu daya beli konsumen dan memperlambat permintaan untuk pembelian mobil dan sepeda motor. Dengan sekitar dua per tiga dari pembelian mobil di Indonesia yang didanai oleh pembiayaan, maka biaya pinjaman yang lebih tinggi akan menyebabkan pembelian mobil ditunda.

Pihaknya memperkirakan, penurunan penjualan mobil hanya jangka pendek, dan penjualan cenderung untuk pulih bersamaan dengan perekonomian Indonesia. “Semakin cepat pemerintah mampu menggeser penghematan dalam tagihan subsidi kepada sektor riil, semakin cepat itu akan membantu mendorong ekonomi,” ujarnya.

Pada 2005, ketika pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar 88%, penjualan mobil turun lebih besar dari penjualan sepeda motor. Dalam 12 bulan setelah harga BBM bersubsidi dinaikkan, penjualan mobil turun 43% dari 12 bulan sebelumnya, sedangkan penjualan sepeda motor hanya turun 12%.

Sementara pada 2013 ketika pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar 44%, penjualan motor dan mobil tidak berdampak besar. Dalam hal ini, penjualan mobil berhasil tumbuh sebesar 7% dalam 12 bulan setelah kenaikan dari tahun sebelumnya, sedangkan penjualan sepeda motor naik 11%. Pertumbuhan penjualan selama periode ini mencerminkan peluncuran low cost green cars pada 2013 dan potongan harga oleh pemain otomotif.

Fitch berekspektasi bahwa kenaikan harga BBM memiliki dampak yang lebih besar pada penjualan mobil pada 2013, karena pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat. Fitch memperkirakan penurunan penjualan mobil lebih besar daripada penjualan sepeda motor. Konsumen cenderung menunda pembelian mobil, dan memilih sepeda motor yang harganya lebih terjangkau. Mengingat kurangnya infrastruktur publik, sepeda motor akan cenderung tetap menjadi sarana transportasi yang lebih populer.

Selain itu, persaingan di segmen ritel mobil lebih ketat daripada sepeda motor. Segmen mobil memiliki lebih banyak pemain dan merek. Persaingan di tengah penjualan yang lebih rendah juga dapat memacu pemotongan harga jual antara pengecer mobil, yang dapat mengkompres margin mereka.