Untuk Mengurangi Ketergantungan Ekspor - Reformasi Struktural Sektor Riil

NERACA

Jakarta -Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro mengatakan reformasi struktural pada sektor riil dapat mengurangi kertergantungan pada sektor ekspor yang saat ini sedang terpengaruh oleh ketidakpastian perekonomian global."Secara umum, reformasi struktural sektor riil dilakukan untuk mengurangi ketergantungan ekspor komoditas perkebunan dan pertambangan, yang saat ini rentan terhadap gejolak ekonomi dunia," katanya, dalam pemaparan di Jakarta, Jumat (21/11) pekan lalu.

Dia mengatakan performa ekspor yang relatif melemah tersebut, menyebabkan perekonomian nasional ikut mengalami perlambatan, karena negara tujuan ekspor sedang mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi sehingga permintaan menjadi berkurang."Hanya ekonomi AS yang tumbuhnya diatas ekspektasi masyarakat dunia, China lagi sedikit menurun, Jepang bahkan resesi, padahal mereka negara tujuan ekspor. Karena permintaan terganggu dan komoditas harganya rendah, maka ekspor tidak bisa menunjang pertumbuhan," ujarnya.

Untuk itu, kata Bambang, perlemahan pertumbuhan ekonomi nasional yang tahun ini diperkirakan hanya mencapai 5%-5,1% dapat diatasi apabila ada pembenahan dalam sektor riil terutama bagi industri manufaktur."Kontribusi manufaktur meningkat bisa untuk mengurangi komoditas ekspor, apalagi sektor manufaktur sebelum krisis tahun 1997-1998 pernah menyumbang 30% dari PDB nasional, sekarang hanya sekitar 22%-23%," katanya.

Bambang juga mengatakan pemerintah bisa memberikan dukungan fiskal bagi dunia usaha yang ikut berperan dalam reformasi struktural sektor riil, apalagi pembenahan tersebut secara tidak langsung dapat mendorong produktivitas ekonomi."Sektor manufaktur, apabila diarahkan pada sumber daya alam, pertanian atau pertambangan, untuk sumber bahan baku dapat mendorong produktivitas, kita akan mendorong ini untuk lima tahun mendatang," katanya.

Selain itu, dirinya memastikan penerimaan perpajakan akan dimanfaatkan untuk mendukung perekonomian nasional, salah satunya untuk industri manufaktur bagi sektor maritim dan energi listrik sesuai dengan visi dan misi presiden.

"Dengan kebijakan yang ada kita dorong manufaktur yang bisa mendorong visi misi presiden misalnya maritim untuk memperbanyak industri kapal dan galangan kapal, serta percepatan pembangkit listrik. Kita harus berpikir gradual, ini harus mulai dibuat di Indonesia untuk subtitusi impornya, tapi harus terencana agar bisa bersaing kompetitif," tukasnya. [agus]

BERITA TERKAIT

BPS: Indonesia Surplus di September 2018 - DAYA BELI BURUH BANGUNAN MENINGKAT RIIL

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, Indonesia mencatatkan neraca perdagangan surplus US$ 227 juta pada September 2018. Surplus ini disumbang oleh…

LPDB KUMKM Siapkan Rp300 Miliar - Kembangkan Sektor Unggulan Jatim

      NERACA   Surabaya - Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) KUMKM bekerjasama dengan Bank Jatim akan mengembangkan sektor-sektor…

Maybank Sediakan Fasilitas Pinjaman Rp3 Triliun untuk AP II

      NERACA   Jakarta - PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia) meningkatkan kemitraan strategis dengan PT Angkasa…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Meski Rupiah Melemah, Subsidi BBM Tak Berubah

      NERACA   Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar masih dikisaran Rp15.200 yang mana nilai tersebut jauh…

KawanLama Pasarkan Brankas Sentry Safe

  NERACA   Jakarta – PT Kawan Lama Inovasi telah memasarkan produk brankas yaitu Sentry Safe di Indonesia. Produk brankas…

Taiwan Ajak Pembeli dari Indonesia - Gelar Pameran AMPA 2019

      NERACA   Jakarta – Pameran otomotif dan suku cadang asal Taiwan akan digelar pada 24-28 April 2019…