Indonesia Butuh Duit Rp5.519 Triliun - RPJM 2014-2019

NERACA

Jakarta - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional memperkiraan kebutuhan pendanaan untuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah selama lima tahun sebesar Rp5.519,4 triliun. Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan jalan, kereta api, perhubungan laut, udara, darat, transportasi perkotaan, ketenaga listrikan, energi, air bersih dan sanitasi.

Menteri Perencanaan Pembangunan Negara/Kepala Bappenas, Andrinof Chaniago, mengungkapkan bahwa APBN akan mendanai 40% untuk total dana RPJMN lima tahun tersebut. "APBN itu sekitar 40%, APBD 10%, BUMN sekitar 20% dan sisanya swasta," ujarnya di Jakarta, Jumat (21/11) pekan lalu.

Hal senada juga di utarakan oleh Deputi Sarana dan Prasarana Bappenas, Dedi S Priatna, jika ingin merealisasikan program pertumbuhan infrastruktur maka RPJMN lima tahunan itu harus diterapkan. "Kalau ingin target menjadi negara berpenghasilan menengah di 2015, harusnya melakukan seperti ini," tutur dia.

Sementara pembiayaan bisa diambil salah satunya dari pengalihan dana subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang diperkirakan menghemat hingga Rp 110-140 triliun memang dijanjikan pemerintah untuk diprioritaskan untuk mendorong pertumbuhan infrastruktur. Maka nantinya dari pengalihan itu meminta penambahan dana dari APBN sebesar Rp 85,7 triliun untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur.

Menurut perhitungan Bappenas dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), sektor pembangunan akan membutuhkan dana sekitar Rp236,6 triliun, sementara APBN 2015 untuk infrastruktur hanya sebesar Rp 154,4 triliun. Dengan begitu Bappenas meminta penambahan dana sekitar Rp 85,7 triliun dari pengalihan BBM subsidi.

Rencananya dana tersebut akan digunakan mendorong pembangunan jalan, air bersih, waduk, perumahan, akses antar pulau dan kota, dan semua sektor infrastruktur. "Ini menurut perhitungan kami, permintaan ini masih akan diajukan ke sidang kabinet dan DPR. Jadi masih bisa berubah kalau tidak disetujui," ujarnya.

Sedangkan menurut Ketua MPR Zulkifli Hasan, menyetujui subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dialihkan kepada sektor produktif sehingga tidak terjadi pemborosan. Sebab selama ini, [BBM] bersubsidi sebagian besar dinikmati oleh warga kelas menengah ke atas.

"Alasannya saya sependapat, artinya tidak semua orang mendapatkan subsidi. Subsidi harus tepat sasaran. Tapi alasan itu timing kemudian harganya itu," katanya.

Namun demikian, Politisi PAN itu mempertanyakan apakah saat ini memang waktu yang tepat menaikkan harga BBM bersubsidi, ketika harga minyak dunia mengalami penurunan hingga kisaran US$ 80 per barrel."Apakah saat ini menaikkan BBM timingnya tepat? Kan harga (minyak) lagi turun," kata dia.

Zulkifli juga meminta pemerintah memberikan penjelasan detail mengenai alasan menggunakan angka Rp 2.000 tersebut. "Besarannya Rp 2.000 itu juga kenapa Rp 2.000?" pungkasnya. [agus]

BERITA TERKAIT

KOTA SUKABUMI - Pileg 2019, Komposisi Dapil Akan Terjadi Perubahan

KOTA SUKABUMI Pileg 2019, Komposisi Dapil Akan Terjadi Perubahan  NERACA Sukabumi - Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Sukabumi Agung…

PII Galang Dana Lewat Surat Utang - Bidik Dana Kelola Rp 21 Triliun

NERACA Jakarta – Merambah bisnis industri keuangan, PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau Indonesia Port Corporation (IPC) membentuk anak usaha…

Kontrak Baru Wika Beton Capai Rp 5 Triliun - Garap Proyek Besar

NERACA Jakarta – Menjelang tutup tahun, PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) mencatat kontrak baru sebesar Rp 5 triliun per…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Penyaluran Dana Desa Capai Rp59,2 Triliun

      NERACA   Bogor - Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan Boediarso Teguh Widodo mengatakan realisasi dana desa…

Membantah Generasi Milenial yang Terancam Tak Punya Hunian

      NERACA   Bekasi - Ada anggapan generasi milenial yang berusia di bawah 25 tahun tidak mampu mempunyai…

IBM Indonesia Berkolaborasi dengan Partner Lokal - Akselerasi Bisnis Digital

    NERACA   Jakarta - IBM Indonesia menggelar IBM Indonesia Partner Solutions Summit, yang diselenggarakan di JW Marriot Jakarta.…