Uni Eropa Janji Beli Sawit Bersertifikat

NERACA

Jakarta - Perhimpunan pendukung minyak sawit berkelanjutan global (Roundtable on Sustainable Palm Oil/RSPO) menyatakan bahwa negara-negara industri di Eropa telah berikrar untuk membeli sawit bersertifikat. "Perkembangan positif yang ditunjukkan industri-industri di Inggris, Prancis, Jerman, Swedia, Belanda, Norwegia, Denmark dan Belgia telah mengikrarkan janji untuk membeli 100 persen minyak sawit bersertifikat pada 2015," kata Sekretaris Jenderal RSPO, Darrel Webber, seperti dikutip Antara, Senin (10/11).

Menurut Webber, perkembangan itu dipengaruhi antara lain oleh adanya ketentuan pelabelan pada produk-produk makanan yang akan diberlakukan secara wajib pada akhir 2014 di Eropa. Dengan demikian, hal tersebut juga akan menjadikan minyak sawit dan minyak nabati lainnya akan tertera secara jelas pada kemasan produk. "Kami berpandangan hal ini akan meningkatkan kesadaran konsumen terhadap kandungan minyak sawit pada produk makanan dan perhatian terhadap isu-isu terkait produksi minyak sawit, yang pada gilirannya kemudian kami berharap dapat meningkatkan tekanan kepada industri untuk disertifikasi," katanya.

Sekjen RSPO menilai, momentum tersebut diperkirakan akan terus berlanjut dan contoh yang terjadi di Eropa saat ini direfleksikan pada perkembangan di pasar-pasar di luar Eropa lainnya. Berdasarkan data RSPO, sekitar 11,1 juta metrik ton atau 18 persen dari produksi minyak sawit mentah dunia di pasar global sekarang bersertifikat RSPO. Tersebar di 2,53 juta hektare area produksi bersertifikat, sekitar 50 persen kapasitas produksi minyak sawit berkelanjutan bersertifikat RSPO di dunia berasal dari Indonesia.

Sebelumnya, Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia menilai daya saing minyak sawit Indonesia dengan minyak nabati lain kian menurun sehingga perlu ditingkatkan. Sekjen Gapki Joko Supriyono, mengungkapkan selisih harga jual minyak sawit dengan minyak nabati pada 10 tahun lalu sekitar US$200 per ton. Namun, saat ini selisih harga kedua komoditas tersebut semakin tipis menjadi US$90 per ton. "Artinya daya saing minyak sawit digerogoti dari tahun ke tahun. Ini harus dijaga supaya dapat bersaing dengan minyak nabati lain," kata Joko Supriyono.

Menurut dia, selama ini negara konsumen menilai minyak sawit paling murah harganya dibandingkan minyak nabati lain seperti minyak kedelai atau rapeseed. Jika harga minyak sawit semakin mahal dan tidak kompetitif, lanjutnya, bisa jadi pasar tidak akan memilihnya dan beralih ke minyak nabati lain. Oleh karena itu, menurut Joko Supriyono, pemerintah harus meningkatkan daya saing minyak sawit Indonesia di pasar global.

Ketua Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia (GPPI) Soedjai Kartasasmita menyatakan bahwa produk minyak sawit mentah (CPO/crude palm oil) Indonesia paling banyak mengantongi sertifikat sawit berkelanjutan atau Roundtable on Sustainable Oil (RSPO). Ia menjelaskan produksi sawit yang memiliki RSPO di dunia mencapai 9,7 juta ton, yang mana sekitar 47,8 persen atau 4,8 juta ton di antaranya berasal dari Indonesia. “Jadi tuduhan bahwa kelapa sawit Indonesia tidak ramah lingkungan tidak sesuai. Produk sawit kita ramah lingkungan," katanya.

Menurut Soedjai, Malaysia yang juga merupakan produsen sawit bahkan masih di bawah Indonesia dalam hal produksi maupun dominasi sertifikat RSPO. Pemerintah Indonesia, tambahnya, telah menunjukkan keseriusan yang kuat untuk mengembangkan kelapa sawit nasional yang ramah lingkungan. Bahkan, sejak 2011 pemerintah memberlakukan standar baru yaitu Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang sifatnya wajib, berbeda dengan RSPO yang voluntary.

Soedjai menyatakan, ke depan produk kelapa sawit yang bersertifikat sangat penting karena negara-negara konsumen menghendaki bahkan mewajibkan sertifikasi tersebut. Saat ini, lanjutnya, 28 negara di Eropa bahkan telah menetapkan peraturan labelisasi secara spesifik terhadap industri olahan makanan yang mewajibkan sertifikasi. "Ketentuan yang diterapkan di Eropa tersebut juga akan diikuti oleh Amerika Serikat," katanya.

Selain produk CPO, lanjutnya, produksi biodiesel bahan bakar nabati berbasis minyak sawit juga menunjukkan bahwa industri kelapa sawit Indonesia ramah lingkungan. "Biodiesel merupakan bahan bakar terbarukan yang emisinya sangat jauh di bawah emisi solar dan produksi biodiesel yang positif memberikan andil untuk mengurangi impor solar," katanya.

BERITA TERKAIT

Viostin DS dan Enzyplex Belum Bersertifikat Halal

Dua produk obat Viostin DS dan Enzyplex terpaksa ditarik dari pasaran pada pekan lalu karena BPOM menemukan dugaan kandungan DNA…

iREA Dorong Konsumen Manfaatkan Agen Properti Bersertifikat

iREA Dorong Konsumen Manfaatkan Agen Properti Bersertifikat NERACA Solo - Perusahaan pengembang perumahan iREA Properti mendorong konsumen untuk memanfaatkan agen…

Unilever Percepat Produksi Sawit Berkelanjutan - Gadeng Kerjasama PTPN III

NERACA Jakarta– PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menggandeng kerjasama dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan para petani untuk mendorong percepatan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Sepanjang Januari 2018 - Panen Belum Merata, Harga Gabah Kering dan Beras Tercatat Naik

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya kenaikan harga gabah kering panen dan gabah kering giling selama Januari…

KLHK Optimistis Ekspor Produk Kayu 2018 Meningkat

NERACA Jakarta – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan optimistis ekspor produk kayu nasional pada 2018 akan meningkat dibandingkan…

Niaga Bilateral - Pakistan-Indonesia Realisasikan Kerjasama Impor Jeruk

NERACA Jakarta – Pakistan dan Indonesia merealisasikan kerja sama impor jeruk jenis kino sebanyak 1.500 kontainer atau 30.000 ton pada…