Pertumbuhan Ekonomi 5,01%

Kuartal III 2014

Kamis, 06/11/2014

NERACA

Jakarta – Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2014 tumbuh 5,01% bila dibandingkan tahun lalu di periode yang sama (year-on-year/yoy).

Sedangkan bila dibandingkan kuartal sebelumnya yakni kuartal II-2014, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat 2,96%. Lalu secara kumulatif, pertumbuhan PDB Indonesia hingga kuartal III-2014 dibandingkan periode yang sama pada 2013 tumbuh 5,11%

Pasalnya, pertumbuhan ekonomi secara tahunan merupakan yang terendah sejak 2009 silam. Kepala BPS Suryamin menilai, perlambatan ekonomi Indonesia lebih disebabkan karena situasi global yang belum menentu. Menurutnya, ada dua negara yang mengalami perlambatan ekonomi yaitu Jepang dan Tiongkok. “Dua negara itu merupakan pangsa ekspor terbesar,” kata Suryamin saat memberikan paparan di Jakarta, Rabu (5/11).

Selain itu, lanjutnya, penurunan harga komoditas juga telah mempengaruhi perlambatan perekonomian Indonesia. Harga komoditas andalan ekspor Indonesia seperti kakao atau minyak sawit mentah (CPO) pasalnya masih dalam tren penurunan.

Menanggapi hal itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil melihat melambatnya kinerja ekonomi tidak lepas dari momentum pemilihan presiden 2014. "Memang pertumbuhan ekonomi lebih rendah, mungkin karena kemarin ramai-ramai pemilihan presiden, sehingga barangkali yang produktif agak terganggu," ujarnya.

Dia tidak mempersoalkan melambatnya ekonomi. Mantan menteri BUMN ini yakin pemerintah bisa menggenjot pertumbuhan ekonomi di triwulan terakhir tahun ini. "Mudah-mudahan kuartal terakhir pemerintah sudah bekerja sudah dilantik bisa kita perbaiki," kata dia.

Sebelumnya, pemerintah menyepakati pertumbuhan ekonomi berada di angka 5,5 persen. Laju inflasi sebesar 5,3 persen. Nilai tukar rupiah sebesar Rp 11.600 per dolar Amerika Serikat. Sedangkan tingkat suku bunga SPN tiga bulan ditetapkan sebesar 6,0 persen. Selain itu, harga minyak mentah Indonesia pada harga rata-rata US$ 105 per barel, dengan targetliftingminyak rata-rata 818 ribu barel per hari danliftinggas rata-rata 1.224 ribu barel setara minyak per hari.

Dengan asumsi makroekonomi tersebut, juga disepakati dalam APBN-P tahun 2014 bahwa pendapatan negara ditetapkan Rp 1.635,4 triliun atau Rp 37,7 triliun, lebih tinggi dari yang diusulkan dalam RAPBN-P tahun 2014. Target pendapatan negara ini didukung dengan kebijakan untuk mengoptimalkan sumber-sumber penerimaan dari perpajakan dan bukan pajak.

Sedangkan pada belanja negara disepakati penghematan belanja kementerian/lembaga sebesar Rp 43 triliun, dari sebelumnya direncanakan penghematan sebesar Rp 100 triliun. Belanja negara ditetapkan sebesar Rp 1.876,9 triliun atau sekitar Rp 27,4 triliun lebih tinggi dari yang diusulkan RAPBN-P tahun 2014. Juga, diharapkan pengendalian subsidi energi melalui pengendalian volume BBM bersubsidi serta harmonisasi tarif tenaga listrik.

Pada defisit APBN-P 2014 ditetapkan sebesar 2,4 persen dari PDB atau setara dengan Rp 241,5 triliun. Defisit ini sedikit turun dari sebelumnya yang diusulkan dalam RAPBN-P 2014 sebesar 2,5 persen dari PDB atau setara dengan Rp 251,7 triliun. Selain itu, ditetapkan pengurangan tambahan pembiayaan anggaran Rp 10 triliun dari yang diusulkan dalam RAPBN-P 2014 menjadi sebesar Rp 241,5 triliun dalam APBN-P 2014. [agus]