CSR Pertamina, Instrumen Peningkatan Ekonomi Lokal

Sabtu, 08/11/2014

Kehadiran CSR merupakan ruang akuntabilitas pengembangan sumberdaya yang pada akhirnya dapat mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.

NERACA

Dalam kegiatan sosial perusahaan, penguatan ekonomi masyarakat yang baik ialah melaksanakan program berkelanjutan dan menciptakan sistem mekanisme. Dengan program itu masyarakat tidak bergantung dan usaha masyarakat dapat bergulir sendiri.

PT Pertamina (Persero), melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), memiliki kepedulian tinggi terhadap peningkatan taraf hidup masyarakat melalui penguatan ekonomi kerakyatan yang ditopang lewat pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Salah satu program konkrit yang telah dijalankan oleh Pertamina dalam hal program pemberdayaan ekonomi masyarakat, adalah gerakan menabung 100 juta pohon di daerah sekitar operasi Terminal BBM Surabaya dalam bentuk program pendampingan pemberdayaan masyarakat dan lingkungan.

Selain itu, guna menyeimbangkan kesehatan bumi dan lingkungan, Pertamina melakukan penanaman 25 ribu mangrove di Hutan Mangrove Wonorejo, kecamatan rungkut Surabaya dari tahun 2011 hingga kini.Pertamina juga mendukung pengembangan Ekowisata Hutan Mangrove yang dikelola oleh lembaga Ekowisata Mangrove Wonorejo dengan membangun menara Pantau dan Gazebo, serta memasang jaring sampah.

"Pembangunan menara pantau dan gazebo telah meningkatkan kunjungan Ekowisata Hutan mangrove, dimana pada tahun 2012 mencapai 21 ribu pengunjung atau naik dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Bibit mangrove yang ditanam oleh Pertamina hingga kini dapat bertahan lebih dari 30%. Denganadanya mangroveinibisa mengurangi abrasi, serta menyelamatkan beraneka ragam hayati," ujar Alih Istik Wahyuni selaku Customer Relation Officer Pertamina.

Hutan Mangrove Wonorejo,yang terletak di daerahRungkut, Pantai Timur Surabaya, kini memiliki banyak kenyamanan untuk dinikmati saat liburan. Ada kolam pancing, fasilitas umum, sentra kuliner, dan kapal wisata. Kawasan yang berada di lahan seluas 871 hektar ini, menyuguhkan pemandangan yang mengagumkan. Ada beragam obyek yang bisa dinikmati sebagai sajian wisata.

Untuk melihat mangrove dari dekat, pengunjung bisa memanfaatkan perahu dan kapal yang tersedia. Harga tiket penyeberangan perahu pulang-pergi dari dermaga keberangkatan menuju dermaga mangrove adalah Rp 25 ribu untuk dewasa dan Rp 15 ribu untuk anak-anak.

“Perjalanan dari dermaga keberangkatan ke dermaga mangrove memakan waktu sekitar 15-20 menit. Perahunya berkapasitas sekitar 10-15 orang dengan satu orang petugas yang akan menjelaskan seputar kawasan ekowisata mangrove,”kata Djoko Suwondo, Ketua Pengelola Eco-wisata Mangrove Wonorejo Surabaya.

Pengelolaan klobot jagung di sekitar terminal BBM Tuban juga dilakukan, dimana klobot jagung sisa panen dapat dimanfaatkan untuk kerajinan tangan dan dapat bernilai ekonomis. Program ini merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat yang focus di bidang handmadepreneur, dimana peserta tidak hanya dilatih teknik membuat kerajinan dari kulit jagung, namun juga manajemen usaha agar dapat mendirikan usaha secara mandiri.

Dengan pendampingan, kulit jagung sisa panen yang selama ini hanya dibakar atau menjadi pakan sapi dapat dimanfaatkan menjadi produk kerajinan yang bernilai tinggi. Untuk satu produk tas dari kulit jagung misalnya, dapat dihargai ratusan ribu rupiah. Bahkan di pasar ekspor, tas serupa dapat menarik pembeli meski dibandrol hingga Rp 2 juta.

Pelatihan ini ditujukan untuk ibu-ibu warga desa Remen, Tasikharjo, Purworejo dan Mentoso. Pelatihan tersebut meliputi keterampilan, motivasi, dan manajemen usaha dan saat ini sudah berdiri tokosouvenir kulit jagung yang tentunya memberikan tambahan nilai bagi mereka.

Sementara itu,PT Pertamina (Persero)jugamenargetkan pembangunan dua tangki penampungan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium berkapasitas 50.000 kiloliter (kl) di Terminal Bahan Bakar Minyak Tuban, Jawa Timur yang akan tuntas padaakhir tahun 2015.