Kenaikan BBM Subsidi Awal 2015

NERACA

Jakarta - Direktur Eksekutif Indef, Enny Sri Hartati menilai rencana pemerintah menaikan harga BBM subsidi bulan November ini dinilai tidak tepat, mengingat pertumbuhan ekonomi sedang tidak bagus,inflasi juga sedang tinggi jika pemerintah menaikan saat ini dkhawatirkan impactnya sangat kentara di masyarakat. "Saat ini waktunya sangat tidak tepat, melihat kondisi ekonomi internal yang sedang tidak bagus, dikhawatirkan akan menimbulkan gejolak," katanya kepada Neraca, Selasa (4/10).

Menurut Enny, waktu yang tepat untuk menaikan harga BBM subsidi pada tahun depan (2015) itu pun dilakukan secara bertahap dengan skema 2 kali kenaikan. Kenaikan pertama bisa dilakukan awal tahun dari bulan Januari sampai dengan Maret dengan menaikan sebesar Rp 1500 dan kenaikan kedua bisa dipertengahan tahun atau akhir tahun sebesar Rp 1500 lagi. "Tahun depan waktu yang tepat, tapi itu pun kenaikannya bertahap, biar masyarakat tidak kaget menanggapi kenaikan BBM subsidi," ujarnya.

Untuk saat ini sebaiknya pemerintah mempersiapkan langkah-langkah mitigasi resiko seperti konversi dari BBM ke BBG dan pemakaian sebelum menaikan harga BBM subsidi. "'Kalau persiapannya sudah matang, disitulah momen yang tepat untuk menaikan BBM subsidi jadi dampak terhadap psikologi tidak terlalu besar," tuturnya.

Hal senada juga dilontarkan oleh pengamat ekonomi Universitas Indonesia, Lana Soelistianingsih mengatakan, dampak kenaikan harga BBM paling jelas terjadi pada harga pangan. Harga pangan langsung melonjak naik. Hal inilah yang kemudian pemerintah harus memperhatikan secara benar bagaimana mengontrol harga.

Menurut Lana, akan lebih baik apabila harga BBM dinaikkan pada awal tahun depan. Jadi selama sisa terakhir tahun ini pemerintah bisa mempersiapkan stok bahan pangan. "Jangan tergesa-gesa menaikkanharga. Ini ujian pertama pemerintah baru. Kalau tidak lulus, pasar bisa tidak percaya," ujar Lana

Perhitungan Lana, kalau harga BBM dinaikkan Rp 3.000/liter maka akan terjadi tambahan inflasi sebesar 3,5%. Tim ekonomi pemerintahan baru setidaknya harus bisa mengurangi tambahan inflasi hanya 2%.

Untuk bisa mengurangi tambahan inflasi tentu harus bisa memastikan bahan pangan tersedia terutama beras. Di sisi lain, pemrintahan baru pun harus bisa memikirkan program sosial yang bisa mempertahankan daya beli masyarakat.

Sedangkan menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo mengatakan jika memang pemerintah ingin menaikan harga bbm pada bulan-bulan ini, besaran kenaikan harga yang paling aman untuk bisa dilakukanadalah Rp 500 per liter. Hal ini untuk mengantisipasi tingkat inflasi, agar sesuai dengan target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2014 sebesar 5,3 persen.“Sebaiknya tahun ini naik Rp 500 per liter saja, agar asumsi APBNP 2014 tercapai,” ujarnya.

Dengan menaikkan harga BBM bersubsidi dengan besaran tersebut, tingkat inflasi hingga akhir tahun bisa sesuai dengan target. Namun, jika tidak ada kenaikan harga BBM, tingkat inflasi bisa lebih rendah dari target.

BPS juga menyarankan kenaikan harga BBM subsidi lebih baik dilakukan secara bertahap. agar, efek kejutan dan gejolak ekonomi dari kebijakan itu bisa diredam.

Kenaikan bertahap juga bisa memberikan ruang dan waktu kepada konsumen dan dunia usaha untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan tersebut. Sehingga kebijakan menaikkan harga ini bisa berjalan dengan mulus.

Lebih lanjut Sasmito mengatakan waktu tepat bagi pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi adalah pada saat tingkat inflasi rendah, yakni pada Maret, April, September, atau Oktober. Dari bulan-bulan tersebut, kenaikkan BBM lebih baik dilakukan pada pertengahan bulan.

Seperti diketahui, pemerintah berencana menaikan harga BBM subsidi pada November ini. [agus]

Related posts