Tekanan Inflasi Tertinggi Di Pangkal Pinang

NERACA

Jakarta---Badan Pusat Statistik mengungkapkan Kota Pangkal Pinang memiliki tekanan inflasi tinggi menjelang Lebaran pada Agustus 2011 dengan nilai 3,05%. "Tampaknya Pangkal Pinang agak kerepotan menghadapi suasana Lebaran ini," kata Kepala BPS Rusman Heriawan kepada wartawan di Jakarta, Senin (5/9)

Rusman menjelaskan, kota-kota yang tidak mengalami tekanan inflasi yang besar adalah kota-kota yang mayoritas penduduknya tidak merayakan Hari Raya Lebaran. "Kota yang tidak mengalami inflasi tinggi karena mayoritas bukan muslim," tambahnya

Diakui Rusman, kenaikan inflasi di Pangkal Pinang ini akibat dari adanya Hari Raya Lebaran. Kota kedua yang juga mengalami tekanan inflasi cukup tinggi berada di Kendari sebesar 2,99%. Akan tetapi, ada juga daerah yang hanya mengalami inflasi cukup rendah seperti Makassar sebesar 0,02%. “BPS mencatatkan adanya tekanan inflasi dari sektor rekreasi dan sektor transportasi yang cukup tinggi,” tandasnya.

Yang jelas, pasca Ramadhan dan Lebaran ini daya beli masyarakat di Bangka Belitung dinilai cenderung menurun. Hal ini diakibatkan karena turunnya permintaan masyarakat akan kebutuhan hidup. "Kalau sebelum puasa dan lebaran daya beli masyarakat naik, namun setelah lebaran ini daya beli masyarakat justru turun," kata Pengamat Ekonomi, Zufriady di Bangka Belitung

Zufriady menambahkan dibanding dengan menjelang Puasa dan Lebaran, permintaan masyarakat sangat tinggi. Bahkan, bisa memicu inflasi, karena harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan.

Dikatakan Zufriady, kondisi ini disebut dengan kondisi musiman atau faktor situasional yang terjadi tiap tahun. "Kalau sekarang memang tempat makan mulai ramai dipadati pengunjung, hanya beberapa saja. Ini karena masyarakat ingin mencoba menu yang lain pasca lebaran ini," tuturnya.

Ditempat terpisah, Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan kegiatan perdagangan antar pulau di Indonesia masih jauh dari efisien. Banyaknya pungutan yang diberlakukan membuat pasar di dalam negeri belum berkembang. "Jangan perdagangan antar pulau dipungut ini dan itu. Tak efisien, dan ini harus segera kita kembangkan, kita tingkatkan terus karena market kita besar," ujarnya

Pernyataan ini dilontarkan Hatta berkaitan dengan kondisi ekonomi global yang sedang terguncang saat ini. Raksasa ekonomi dunia seperti AS, Eropa, dan China sedang mengalami guncangan ekonomi. "Harus kita akui Amerika itu masih menghadapi pertumbuhan yang rendah, lapangan kerja yang sedikit," imbuh Hatta.

Kemudian, negara-negara di Eropa juga sedang mengalami persoalan defisit anggaran dan utang yang tinggi. Akhirnya pemerintah di Eropa memutuskan untuk memotong anggaran agar defisit kecil dan ini mengakibatkan masyarakat tak bahagia. "Ini artinya dana-dana asing akan mengalir ke emerging country," jelasnya

China juga mengalami inflasi tinggi dan pelemahan pertumbuhan ekonomi. Karena itu Indonesia akan berhati-hati, apalagi menurut Hatta kondisi ekonomi Indonesia sangat bagus, meski gangguan ekonomi global akan sedikit berimbas. "Oleh sebab itu Indonesia tidak sepenuhnya harus terhubung kepada global,” pungkasnya. **vanya

Related posts