Belum Ada Ketegasan Soal Capital Inflow - Pemerintah Dinilai Lambat Merespon

NERACA

Jakarta---Pemerintah harus cepat mengambil langkah guna mengantisipasi derasnya arus capital inflow. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan bagi sector manufaktur dan sector pangan. :Manufaktur juga harus dicepatkan, dan pangan juga belum ada, produksi juga harus ada percepatan," kata pengamat ekonomi Aviliani kepada wartawan di Jakarta,5/9.

Avi-panggilan akrabnya mengaku sangat khawatir. Karena pemerintah belum mengambil langkah persiapan terkait derasnya aliran modal. Masalahnya ini akan menjadi bom waktu. “Pemerintah belum ada antisipasi ke capital inflow, bubble-nya harus direalisasikan,’ tambahnya.

Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) ini mengakui terjadinya pelemahan dalam laju perekonomian global justru mengukuhkan Indonesia sebagai negara yang banyak dikunjungi oleh investor. Karenanya, banyak saham maupun Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dimiliki oleh investor asing.

Lebih jauh Avi juga menilai capiral inflow yang masuk ke perbankan dan Bank Indonesia (BI) sudah melewati batasan yang cukup alias over karena tidak ada yang menyerap. Tentu berbeda dengan China yang berani mengenakan pajak. Sementata Indonesia justru tak mau melakukan. "Apa yang bisa dilakukan? Kalau di China itu kan mengenakan pajak di pasar modal supaya aliran masuknya enggak cepat keluar. Tapi kan di kita tidak berani untuk itu," terangnya

Lalu, apa yang kemudian harus dilakukan BI maupun pemerintah dalam menyerap aliran dana asing ini. Pasalnya dengan masih terbenturnya Amerika Serikat (AS) dan Eropa dalam krisis utang maka capital inflow dipastikan semakin deras masuk ke negara berkembang seperti Indonesia.

`

Aviliani menyebut, capital inflow harus dialihkan pada sektor-sektor riil yang ada di Indonesia. "Nah yang harus dilakukan adalah mentransfer itu ke sektor riil," tutur dia.

Adapun cara untuk masuk pada sektor riil, kuncinya, kata dia, adalah dengan proyek-poyek Master Plan Percepatan Perluasan Ekonomi Indonesia (MP3EI). "Misalnya Pelindo, Pelindo ini kan begitu dia melakukan sesuatu banyak turunannya. Nah itu orang akan IPO, orang akan obligasi, nah ini yang belum dilakukan," tambah dia.

Sekadar informasi, Bank Indonesia (BI) mengungkapkan derasnya aliran masuk modal asing alias capital inflow terus mendorong surplus pada Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Hal ini terlihat pada kuartal II, yang tercatat mencapai USD11,88 miliar yang priorotasnya melalui transaksi modal dan finansial.

"Kenaikan surplus NPI ini terutama berasal dari tingginya surplus transaksi modal dan finansial akibat derasnya arus masuk modal asing ke Indonesia," ujar Kepala Biro Bank Indonesia Difi A Johansyah beberapa waktu lalu.

Bank sentral sendiri mencatat pada kuartal II surplus NPI mencapai USD11,88 miliar, hal ini naik dibanding kuartal satu 2011 sebesar USD7,67 miliar. Dari surplus tersebut, tercatat transaksi modal dan finansial menyumbang USD12,52 miliar, naik dibanding kuartal sebelumnya sebesar USD6,44 miliar.

Beberapa minggu lalu, pemerintah mengklaim telah mengantisipasi adanya pembalikan arus modal asing (capital outflow) akibat adanya gejolak pada perekonomian global. Salah satunya dengan pembelian pembelian kembali Surat Berharga Negara (SBN) dengan dana APBN, pembentukan dana obligasi dan penyiapan Saldo Anggaran Lebih (SAL) untuk mendukung stabilisasi pasar SBN domestik. "Selain itu, kita lakukan kerja sama dengan Bank Indonesia (BI) untuk pembelian SBN," kata Presiden SBY dalam pidato Nota Keuangan, di Gedung DPR. *cahyo

Related posts