BII Incar Dana Rights Issue Rp 1,49 Triliun

NERACA

Jakarta –Ditengah ketatnya likuiditas antar perbankan, memaksa perbankan untuk meningkatkan modal untuk ekspansi kredit dan menjaga kecukupan modal. Oleh karena itu, PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII) melakukan penawaran umum terbatas/rights issue VII sebanyak 6,77 miliar saham dengan nilai nominal Rp 22,50 per saham dengan mekanisme hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).

Dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (28/10) disebutkan, jumlah saham baru yang ditawarkan dalam rights issue itu sekitar 10% dari seluruh saham yang ditempatkan dan disetor penuh dalam Perseroan. Harga penawaran saham sebesar Rp 221 per saham.

Jadi total dana yang diraup dari hasil rights issue BII sebesar Rp 1,49 triliun. Setiap pemegang sembilan saham lama yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham pada 10 Desember 2014 berhak atas 1 HMETD. Nantinya, dana hasil rights issue digunakan untuk ekspansi kredit dalam mengembangkan usaha perseroan. Selain itu juga akan berdampak pada peningkatan modal inti Perseroan.

Jika pemegang saham perseroan tidak melaksanakan HMETD yang ditawarkan sesuai proporsinya maka kepemilikan sahamnya akan mengalami penurunan (dilusi) hingga 10%. Untuk melakukan aksi korporasi ini, perseroan akan meminta persetujuan pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 28 November 2014.

Adapun pemegang saham BII antara lain Sorak Financial Holdings Pte Ltd sebesar 45,02%, Maybank Offshore Corporate Service sebesar 33,96%, UBS AG London sebesar 18,31%, dan masyarakat kurang dari lima persen sebesar 2,71%.

Sampai dengan September 2014, PT Bank International Indonesia Tbk (BII) membukukan penurunan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun sekitar 53,88% menjadi Rp357,23 miliar dibandingkan perode sama tahun lalu sebesar Rp774,54 miliar.

Kinerja laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk BII itu seiring dengan penurunan pendapatan operasional sekitar 71,65%. Pada bulan September 2014 itu, tercatat pendapatan operasional BII mencapai Rp476,83 miilar dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,68 triliun. Kendati demikian, pada bulan itu BII membukukan pertumbuhan kredit naik sebesar 13,7% menjadi Rp95,84 triliun dari periode September 2013 sebesar Rp84,29 triliun.

Sementara itu, tercatat dana pihak ketiga (DPK) BII pada bulan September 2014 naik sekitar 7,32% menjadi Rp103,58 triliun dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp96,51 triliun. Adapun aset BII hingga September 2014 tercatat sebesar Rp144,38 triliun atau naik sekitar 2,73% dibandingkan posisi akhir tahun 2013 sebesar Rp140,55 triliun. Pada perdagangan saham Selasa (28/10), pukul 10.49 WIB, saham BNII turun 2,13% menjadi Rp 276 per saham. Total frekuensi perdagangan saham sekitar 13 kali dengan nilai transaksi harian saham Rp 140,9 juta. (bani)

Related posts