Menanti Gebrakan Menneg BUMN Baru

Diminta Perbanyak BUMN Go Public

Senin, 27/10/2014

NERACA

Jakarta – Di era pemerintahan presiden Jokowi dan Jusuf Kalla, banyak pelaku pasar modal berharap pemerintah bisa memuluskan rencana penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) guna meningkatkan likuiditas pasar modal.

Menurut Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan, banyak perusahaan BUMN yang sebenarnya potensial masuk bursa lewat mekanisme IPO pada tahun ini. Namun, karena ketatnya birokrasi tahun ini IPO BUMN cuma terjadi sekali, yakni terakhir kali pada Wika Beton. Itupun cuma sekelas anak usaha BUMN,”Ya seperti kita tahu untuk IPO di Indonesia harus lewat DPR. Itu yang menentukan apakah BUMN harus IPO atau tidak,” katanya di Jakarta, kemarin.

Sementara itu, pada tahun depan, IPO BUMN bisa marak kembali, namun melihat siapa Menteri BUMN-nya nanti. MenurutHariyajid, paling tidak saat ini ada 30 BUMN yang benar-benar potensial untuk IPO. Namun, dirinya tidak bisa menyebut satu persatu BUMN tersebut mengingat dari 30 BUMN itu sebagian juga merupakan anak usaha BUMN. “Saya pikir ada 30 BUMN yang benar-benar potensial, baik dari level anak usaha hingga induk usaha,” jelasnya.

Setidaknya ada beberapa BUMN yang gagal IPO tahun ini, yakni PT Garuda Maintenance Facilities, PT PLN Batam, dan PT Perkebunan Nusantara VII. Kendati demikian, tidak lantas membuat rencana tersebut benar-benar terhenti. Ketiga BUMN ini kemungkinan besar berpotensi melakukan IPO pada 2015 ditambah beberapa BUMN yang rencanakan IPO tahun depan seperti PT Phapros Tbk dan Jiwasraya.

Kata Haryajid, Indonesia harus melihat negara China dengan bursa Shanghai. Disana perusahaan BUMN harus ngantri untuk bisa mencatatkan saham di bursa Shanghai. Bahkan, tahun depan ada sebanyak 300 BUMN yang waiting list atau masuk daftar tunggu untuk masuk bursa. “Di 2015 ada 500 perusahaan yang waiting list masuk bursa Shanghai. 300 di antaranya merupakan BUMN,” jelasnya.

Seperti diketahui, total emiten di Bursa Shanghai saat ini telah mencapai 900-an. Jumlah ini tentu jauh dari bursa Indonesia yang cuma terdapat 500-an emiten. Dengan banyaknya BUMN yang masuk pasar modal, Haryajid berharap jumlah emiten di BEI akan bertambah banyak, sehingga semakin banyak pula pilihan investasi di bursa.

Disamping itu, maraknya BUMN IPO diharapkan bisa berkembang lebih baik lagi dengan mendapat suntikan modal dan dapat menerapkan Good Corporate Governance (GCG). Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen pernah bilang, pemerintahan Jokowi dinantikan keberpihakannya terhadap industri pasar modal dalam mendorong BUMN go public lebih banyak lagi, “Tahun depan harapannya dengan pemerintahan baru, keterpihakan ke pasar modal bisa jauh lebih besar,”ungkapnya.

Menurutnya, keterpihakan yang dimaksud dari sisi upaya pemerintah dalam menggiring perusahaan-perusahaan BUMN bisa go public pada 2015 bisa sangat besar. Selain untuk membantu perkembangan perusahaan BUMN itu sendiri, langkah ini dilakukan guna membuat perusahaan tersebut jauh lebih terbuka dengan prinsip GCG (good corporate governance). “Sebab potensinya besar sekali BUMN untuk masuk bursa. Dan saya lihat banyak BUMN yang siap,” tambah Hoesen. (bani)