Haji dan Revitalisasi Peran Agama

Oleh: Umar Natuna, Pemerhati Masalah Sosial, Ketua STAI Natuna

Senin, 20/10/2014
Tanpa terasa jamaah haji yang telah menunaikan ibadah haji di Mekkah al-Mukarramah telah mulai berdatangan ke Tanah Air. Kedatangan mereka disambut suka cita dan rasa syukur yang mendalam baik oleh yang bersangkutan maupun sanak saudara dan pemeintah sendiri.

Kedatangan mereka memang ditunggu-tunggu karena mereka diharapkan dapat membawa berkah, rahmah, dan pencerahan terhadap kegiatan keagamaan di Tanah Air. Keberhasilan mereka melaksanakan serangkaian ibadah di Tanah Suci dengan segala pengorbanan tentu merupakan bekal dan modal sosial yang tidak terhingga dalam merealisasikan nilai-nilai agama dalam realitas kehidupan umat di Tanah Air.

Kehadiran mereka sebagai jamaah haji yang baru dapat memberikan teladan yang baik dalam melaksanakan ibadah dan kegiatan keagamaan yang dapat mengangkat dan mengembangkan potensi umat Islam. Potensi spritualitas yang mereka peroleh dengan berbagai kegiatan ibadah di Tanah Suci tersebut diharapkan mampu menghadirkan kekuatan baru-guna mendekatkan umat dengan nilai-nilai keagamaan. Harapan terhadap peran para jemaaah haji yang baru kembali ke Tanah Air untuk berperan dalam kehidupan nyata demikian kuat bagi masyarakat. Karena mereka dianggap memiliki kelebihan dibandingkan dengan umat yang belum menunaikan ibadah haji.

Bagi umat, kehadiran jamaaah haji yang baru saja usai menunaikan ibadah haji di Tanah Suci tersebut memiliki beberapa kelebihan jka dibandingkan dengan umat yang belum menunaikan ibadah haji. Pertama, mereka telah mampu memenuhi rukun Islam yang lima. Itu artinya, mereka sudah kaffah dalam merealisasikan dan mengamalkan rukun Islam. Itu berarti mereka sudah mampu menginternalisasikan dan mengintegrasikan iman, amal dan akhlak dalam diri mereka. Kedua, mereka memiliki pengalaman spritualitas yang tinggi-karena mereka telah melakukan ziarah dan merasa demikian dekat dengan Tuhan ketika berada di Tanah Suci. Dengan demikian mereka memiliki kepekaan teologis dan sekaligus kepekaan sosial yang tinggi. Dengan kepekaaan tersebut mereka akan dapat membawa pengalaman Islam yang seimbang antara ritual dan sosial, antara dunia dan akhirat dan individual dan kemasyarakatan.

Ketiga, mereka memiliki jaringan ukhuwah yang lebih luas dan memiliki kesamaan pengalaman dalam mengamalkan ajaran Islam. Pertemuan akbar di tanah suci dengan berbagai warna kulit, suku, dan bangsa tentu telah membuat kedewaaan dan pengiatan ikhwah yang lebih luas, jika dibandingkan dengan mereka yang belum menunaikan ibadah haji. Tentu dengan kekuatan ukhuwah dan jaringan ini mereka memiliki kekuatan untuk menjaga dan mempertahankan nilai-nilai ibadah yang mereka laksanakan di tanah suci dalam realitas kehidupan mereka dimasing-masing tempat. Keempat, mereka telah memiliki titel baru, yakni Haji. Titel atau label haji yang mereka sandang memiliki makna kultural yang cukup tinggi. Ini merupakan penghargaan budaya dari masyarakat buat mereka yang menunaikan ibadah haji. Dengan titel tersebut masyarakat telah menempatkan mereka lebih tingga satus amaliah dibandingkan masyarakat kebanyakan. Sudah tentu hal ini akan memberi kekuatan evaluatif mereka yang menyandangnya.

Kemandekan Peran Agama

Harapan dan keperanan para haji yang baru kembali ke Tanah Air untuk dapat berperan dan mengambil jalan sejarah bagi perbaikan umat memang suatu harapan yang tak terelakkan. Dengan segala kelebihan yang mereka sandang masyarakat pengharapan mereka mampu menjawab berbagai persoalan keagamaan umat, di antaranya kemandekan peran agama. Realitas keagamaan yang ada menunjukkan bahwa-agama telah mengalami kemandekan dan kehilangan peran dalam realitas kehidupan. Berbagai persoalan seperti narkoba, pembunahan, aksi anarkis, pelecehan seksual dan sejumlah pelanggaran hukum lainnya mengindikasikan bahwa agama sudah kehilangan peran dalam menata diri dan pribadi umat beragama.

Agama tidak lagi menjadi rujukan dan sandaran ketika mereka melakukan berbagai penyimpangan. Agama berdiri sendiri sementara motivasi, prilaku dan aksi berjalan sendiri. Agama mengalami kemandekan peran dan kehilangan ruang dalam jiwa umatnya. Deraan materialisme, pragmatisme, hedonistik dan gaya hidup instans telah membuat agama berada di ruang yang sempit, yakni hanya ada di Mesjid, Surau, Langgar, Gereja, Pure, Fihara atau ketika hari tentu (jum'at atau minggu), bulan tertentu (baca: Ramadhan) tahun tertentu (baca: Idul Fitri, Idul Adha) .

Kekosongan peran agama dalam kehidupan, terutama di kalangan generasi muda kita berimplikasi terhadap berbagai perangai atau perilaku yang menyimpang seperti tawuran, pelecehan, penyiksaaan dan bahkan pembunuhan. Jika ini terus menerus terjadi maka bonus demografi yang dimiliki bangsa ini akan beralih menjadi bencana demografi. Jika hal ini terjadi, maka kita akan kehilangan satu generasi. Kehilangan satu generasi berarti kehilangan hampir 100 tahun. Itu, berarti kita mengalami kemandekan dalam segala bidang. Akibatnya, kita akan menjadi bangsa yang lemah, tertinggal dan diambang kehancuran.

Revitalisasi Peran Agama

Agama bagaimanapun tidak akan pernah mati dalam hati sanubari manusia. Agama adalah fitrah dan ia merupakan kebutuhan kodrati dan fungsional. Untuk itu, tidak ada pilihan lain kecuali kita, terutama para jemaah Haji yang baru pulang ketanah air untu melakukan revitaliasi peran agama itu sendiri. Revitalisasi peran agama, berarti kita menempatkan kembali agama sebagai kebutuhan primer bukan kebutuhan sekunder. Menempatkan agama sebagai kebutuhan primer dalam kehidupan manusia kini-bukan persoalan mudah. Karena mereka sudah terjebak pada agama baru yakni materi, teknologi dan kesenangan duniawi lainnya. Karena itu itu diperlukan proses internalisasi nilai-nilai agama dalam konteks kehidupan yang terintegrasi dengan perkembangan yang ada.

Dalam konteks ini jemaah haji dapat berperan antara lain. Pertama, menanamkan nilai-nilai agama dalam lingkungan terdekatnya-rumah tangga, keluarga dan masyarakat sekitarnya. Dengan peran itu akan banyak orang dan masyarakat yang terselematkan. Kedua, melakukan proses integrasi nilai-nilai agama kedalam kehidupan lain seperti ekonomi, budaya, politik dan pergaulan. Dengan ada integrasi agama, maka tidak ada lagi aspek yang kosong dari nilai agama. Ketiga, membangun komunitas-komunitas sosial yang berbasis pembinaan mental dan spritualitas dengan kelompok yang beragam profesi. Keempat, mereka bertindak sebagai teladan dalam kehidupan nyata.

Itulah beberapa peran keagamaan yang harus dimainkan oleh para jamaah haji yang baru saja kembali ke Tanah Air. Jika itu dapat dilakukan, maka kehadiran para jamaah haji baru tersebut tentu akan bermakna transformatif bagi masa depan pembinaan umat. Penulis berkeyakinan mereka akan dapat berperan sebagaimana harapan masyarakat. Semoga! (haluankepri.com)