Benih dan Induk Unggul Kerek Produksi Ikan Air Tawar

Penerapan Total Akuakultur

Jumat, 17/10/2014

NERACA

Sukabumi – Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebut, produksi perikanan budidaya terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Selama periode 2010 – 2013, produksi perikanan budidaya meningkat sekitar 28,64% per tahun, yaitu 6,28 juta ton pada tahun 2010 dan mencapai 13,31 juta ton pada tahun 2013 (data sementara). Sedangkan nilai produksi nya mengalami kenaikan sekitar 22,51 % per tahun dalam kurun waktu yang sama. Capaian peningkatan yang signifikan selain dari rumput laut, juga dari peningkatan jenis ikan air tawar, utamanya ikan nila, mas, dan lele. Ketiga jenis ikan tersebut semakin diandalkan, baik untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan perolehan devisa Negara, menyediakan lapangan kerja di pedesaan dan juga dapat dilakukan berkesinambungan dengan menerapkan budidaya ramah lingkungan.

“Peningkatan produksi budidaya air tawar yang sangat signifikan ini merupakan hasil dari penggunaan induk dan benih unggul, pakan yang sesuai dan efisien, penerapan teknologi yang aplikatif dan inovatif serta intensifikasi budidaya yang ramah lingkungan dan ini merupakan bagian dari Total Akuakultur,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, pada saat memberikan sambutan pada acara Pertemuan Broodstock Centre Ikan Nila, Mas dan Lele di Auditorium Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, di Kota Sukabumi, Jawa Barat, Kamis.

Lebih jauh Slamet mengatakan bahwa Total Akuakultur melalui intensifikasi usaha perikanan budidaya perlu dilaksanakan dengan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan budidaya. Hal ini diperlukan agar produksi ikan melalui sistem ini dapat diperoleh secara berkelanjutan. “Sebagai contoh adalah, penerapan teknologi intensif budidaya lele yang hemat lahan dan hemat air yang dapat menghasilkan 10 ton ikan dalam luasan kolam 100 meter persegi dalam waktu 2,5 bulan. Disamping intensifikasi, usaha budidaya air tawar juga berpeluang untuk mempercepat pemasukan pendapatan melalui segmentasi usaha, mulai dari usaha pembenihan, pendederan I bahkan sampai III tahap dan juga pembesaran. Sehingga usaha budidaya air tawar ini sangat cocok untuk memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat,” tambah Slamet.

Selain itu Total Akuakultur melalui penerapan teknologi di semua sistem usaha budidaya dari hulu sampai hilir, juga terkait dengan penyediaan induk unggul untuk mendukung ketersediaan benih bermutu secara kontinyu. “Penyediaan induk unggul dan benih bermutu secara berkelanjutan merupakan hal yang penting dan sangat strategis. Tanpa benih unggul dan benih bermutu maka kualitas produksi akan diragukan dan bahkan bisa tidak mencapai target seperti yang diharapkan,” papar Slamet.

Slamet menambahkan bahwa untuk menjaga kualitas produksi perikanan budidaya, perlu pemantapan dan pemberlakuan sistem jaminan mutu terhadap semua fungsi khususnya dalam sistem perbenihan nasional. “Unit pembenihan skala kecil dan unit usaha pendederan harus menerapkan dan menggunakan teknologi terkini dan sarana produksi yang maju dan modern, seperti biosecurity, probiotik, induk dan benih unggul dan juga pakan berkualitas,” ungkap Slamet.

Untuk memenuhi kebutuhan induk unggul komoditas nila, mas dan nila, DJPB pada tahun 2015 mentargetkan produksi 16.2 ribu ekor induk unggul ikan mas, 8 juta ekor induk unggul ikan nila dan untuk induk unggul ikan Lele sebesar 361 ribu ekor. “Produksi induk unggul ini kan dipenuhi melalui pengembangan Jejaring Pemuliaan dan Produksi Induk Unggul Nasional. Jejaring ini akan melibatkan instansi pemerintah baik di pusat dan daerah, swasta dan juga masyarakat dimana Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi akan bertindak sebagai Broodstock Center,” pungkas Slamet.