Kebijakan Saling Mengunci

Kamis, 23/10/2014

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Industri dan Perdagangan

Ungkapan bahwa pasar tahu apa yang terbaik pada dasarnya dapat kita fahami sebagai sikap obyektif karena setiap dana investasi yang dibenamkan oleh pemiliknya di pasar uang, pasar modal, dan pasar barang dan jasa harus mendatangkan manfaat dan keuntungan bagi para pelaku pasar. Stabilitas politik dan keamanan dan iklim investasi yang kondusif hakekatnya adalah asa dari para pelaku pasar karena mereka tidak mau merugi ketika melakukan investasi di Indonesia.

Kita harus jujur mengakui bahwa di dalam negeri banyak menghadapi dilema dan trade off di ranah regulasi/kebijakan karena selama ini pemerintah dan DPR tidak mampu menciptakan kerangka regulasi/kebijakan yang selaras, sehingga di antara berbagai regulasi/kebijakan tadi malah saling mengunci. Pelaku pasar pasti bingung dan responnya hanya ada dua piihan, yakni menunggu atau hengkang dan mencari tempat lain yang lebih nyaman dan aman untuk berinvestasi, dan berdagang.

Rasanya kita sudah tahu persis problem yang dihadapi oleh bangsa ini,dan kalau ingin tetap menjadi salah satu emerging economy yang diminati oleh investor, maka tidak ada pilihan bagi pemerintah dan DPR bahu membahu membuat kerangka regulasi dan kebijakan yang benar-benar pro-pasar. Di sektor riil, Indonesia harus dapat mewujudkan mimpinya untuk menjadi pusat produksi dan distribusi produk manufaktur berkelas dunia yang kompetitif.

Oleh sebab itu, momentumnya jangan sampai terlewatkan mumpung pertumbuhan ekonomi masih relatif tinggi dan stabil, pasar dalam negerinya tumbuh solid dan kuat, serta adanya komitmen pemerintah untuk terus menerus memperbaiki iklim investasi dan ekspor, maka kesempatan untuk menjadikan Indonesia sebagai bintang baru negara berkembang yang kompetitif tidak boleh diabaikan oleh seluruh pemangku kepentingan di ranah organisasi publik, organisasi bisnis dan masyarakat.

Produk Domestik Bruto dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan harus bisa mencerminkan posturnya yang jauh lebih baik dan lebih berkualitas. Kontribusi dari sektor investasi dan ekspor dalam PDB harus cukup besar, paling tidak sama dengan sumbangan pengeluaran belanja konsumsi rumah tangga yang rata-rata tiap tahun mencapai sekitar 55%. Ekspor di masa yang akan datang harus semakin besar volume dan nilainya berupa produk-produk yang bernilai tambah untuk mensubstitusi ekspor non migas yang selama ini lebih banyak berupa komoditas primer yang belum diolah.

Kemenperin bersama dengan Kemendag, BKPM dan para gubernur membangun strategi dan kebijakan bersama yang fokus untuk meningkatkan investasi dan ekspor produk manufaktur selama sepuluh tahun ke depan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkelanjutan. Pasar ASEAN dengan kekuatan daya beli yang digerakkan oeh sekitar 600 juta penduduk harus kita pandang sebagai bagian dari pasar dalam negeri yang harus digarap dan dikelola dengan baik karena saat ini kekuatan tersebut sekitar 240 juta di antaranya ada di Indonesia.