Industri Plastik Jadikan Sektor Otomotif Target Pasar

Kamis, 09/10/2014

NERACA

Jakarta – Kalangan industri plastik dalam hal ini adalah Asosiasi Industri Aromatik, Olefin dan Plastik Indonesia (Inaplas) menjadikan sektor otomotif sebagai target pasar potensial untuk industri petrokimia nasional. Sektor otomotif dijadikan target pasar yang potensial lantaran industri otomotif cukup banyak membutuhkan plastik akan tetapi saat ini kebanyakan industri otomotif lebih memilih impor.

Wakil Ketua Inaplas Budi Susanto Sadiman menyatakan plastik adalah salah satu produk petrokimia hilir yang dibutuhkan oleh industri otomotif. “Plastik merupakan salah satu produk petrokimia hilir. Sedangkan sektor petrokimia hulu memproduksi bahan baku plastik seperti polietilena (PE) dan polipropilena (PP),” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Setiap produksi satu unit kendaraan, menurut Budi, membutuhkan plastik sekitar 60 kilogram. Produksi mobil domestik mencapai 1 juta unit lebih dalam beberapa tahun belakangan, sehingga potensinya sangat besar. “Kebutuhan plastik untuk kendaraan sekitar 6 juta kilogram (kg) dan potensi ini sangat besar sekali,” paparnya.

Bulan lalu, lanjut Budi, produsen petrokimia terbesar nasional PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP) mulai memasok bahan baku plastik untuk Toyota dan Daihatsu. Namun, belum bisa dipastikan jumlah pasokan awal dan untuk memproduksi mobil jenis apa. “Ini baru saja dilakukan, karena masih baru saya belum tahu angka pastinya, tapi sepertinya masih yang tahapan ringan seperti untuk bemper atau dashboard,” ujarnya.

Budi menambahkan, semakin besar penggunaan plastik pada kendaraan, konsumsi bahan bakar bisa lebih irit. “Sebagai ilustrasi, jika berat mobil bisa dipangkas 10%, penghematan bahan bakar bisa mencapai 7%. Penggunaan plastik lokal untuk industri otomotif merupakan terobosan baru,” tuturnya.

Dalam keterangan sebelumnya, Budi sempat menjelaskan bahwa pihaknya menargetkan produksi plastik untuk industri hulu sebesar 4,3 juta ton tahun ini. Target ini naik 7,5% dibandingkan dengan produksi tahun lalu 4 juta ton. Tren kenaikan produksi plastik ikut tren pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan ada di angka 5%-6%. “Hal itu karena kami produk akhirnya kemasan ke konsumen, mulai dari kemasan makanan minuman, obat-obatan, macam-macam,” ujarnya.

Budi mengatakan, pada semester pertama tahun ini, realisasi produksi plastik industri hulu ini tercatat 2,15 juta ton. Semester pertama banyak pemicu pertumbuhan permintaan, di antaranya faktor pemilu. Selain membidangi hulu industri plastik, Inaplas juga membawahi industri aromatik dan olefin. Untuk kapasitas produksi olefin nasional tahun ini diproyeksikan bisa mencapai 2,5 juta-2,6 juta ton per tahun dengan permintaan 4,3 juta. Selain dipenuhi industri olefin domestik, pasar olefin juga masih banyak yang impor. Olefin merupakan bahan baku biji plastik yang terbuat dari nafta yang 90%-100% bahan bakunya harus diimpor.

Menurut Budi, prospek industri plastik hulu ini masih terbuka lebar, sebab akan ada banyak permintaan. Terutama dari segmen industri otomotif, agrikultur atau hortikultura dan infrastruktur. “Penjualan mobil tiap tahun bertambah, setiap komponen ada kandungan plastiknya. Petani juga butuh karung untuk penyimpanan. Lalu infrastruktur juga butuh pipa air yang ada plastiknya,” pungkas Budi.

Siap Hadapi MEA

General Marketing Sales and Marketing Sinar Joyo Boyo Plastik, Handoko Saptajaya Sidharta, menegaskan seiring dengan meningkatnya kebutuhan plastik potensi industri plastik nasional masih terbuka lebar. Apalagi nanti saat pagelaran Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 peluang untuk industri plastik akan terus tumbuh, dan perusahaan plastik nasional siap berkompetisi dalam pasar bebas ASEAN nanti.

“Saat ini produk plastik yang kami tawarkan menawarkan mutu dan kualitas sesuai dengan standar yang ditetapkan international. Jadi jika nanti pasar bebas Asean berlangsung kami sudah siap berkompetisi dengan perusahaan Asean lainnya,” katanya.

Menurut dia, sambung dia MEA merupakan peluang besar bagi industri plastic, karena diproyeksikan pada pagelaran pasar bebas nanti banyak industri besar maupun kecil bermunculan dan plastik merupakan item yang diperlukan bagi industri lain baik perusahaan besar maupun kecil. “Potensi besar karena didorong oleh kebutuhan masyarakat, disamping itu disokong oleh permintaan dari sektor lain seperti industri makanan/minuman, infrastruktur, otomotif, dunia medis, dam pertanian,” imbuhnya.

Terlebih, menurut Dia lagi bahwa kantong plastik masih menjadi barang komoditi yang belum bisa tergantikan.Terutama untuk menunjang industri UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) termasuk di dalamnya industri fast moving consumer goods (FMCG), kantong plastik masih menjadi primadona masyarakat. "Selain itu, kantong plastik juga harganya lebih ekonomis ketimbang kantong lainnya," jelasnya.

Namun demikaian Handoko mengakui, tingginya kebutuhan kantong plastik tersebut memunculkan permasalahan lain berupa timbulnya dampak negatif bagi lingkungan yang diakibat oleh cara penggunaan kantong plastik. “Tapi sayangnya, ditengah potensi yang besar bagi dunia industri plastik. Tapi kelemahan di negara berkembang adalah minimnya pemahaman masyarakat tentang penggunaan plastic yang baik. Maka dari itu kami akan terus mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat tentang manfaat penggunaan dan dampak setelah pemakaiannya, ” terangnya.